Tampilkan postingan dengan label musyawarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musyawarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Februari 2018

Semua "gara-gara" Demokrasi





Sebelum nyinyir, biasakan "dibaca sampai selesai" terlebih dahulu agar tidak tersesat didalam memahaminya dan jangan lupa siapkan cemilan atau kopinya, biar tidak merem ayam.

Sampai saat ini, sudah banyak sekali fenomena-fenomena yang (menjadi "masalah")  bermunculan di negeri tercinta kita, entah itu dalam jajaran pemerintahan pusat hingga tingkat (keluarga) masyarakat kecil sekalipun. Namun, sudah sepatutnya kita semua menyadari bahwa itu semua terjadi "gara-gara sistem demokrasi" yang kita gandrungi sebagai dalang segala cabang fenomena masalah yang negeri ini hadapi.

    Ya, gara-gara demokrasi ; kita semua rakyat indonesia mengalami rekayasa - pemaksaan kemiskinan yang tidak semestinya, yang miskin semakin terbodohkan - terpinggirkan, yang kaya semakin malas menjalani kewajiban tolong-menolong dan bersaing dalam menimbun kekayaannya dengan menjadikan rakyat jelata sebagai tumbal. Gara-gara demokrasi ; anak-anak yang semestinya fokus dan orang tua tidak perlu memikirkan biaya dalam dunia pendidikannya malah dipaksa menjadi robot yang dipersiapkan untuk menjadi jongos alias budak alias babu, gara-gara demokrasi ; mengakibatkan perpecahan antar sahabat sekawan - persaudaraan bahkan antar keluarga cuma perkara berbeda mendukung parpol atau paslon, gara-gara demokrasi ; kita dipaksa menanam tanaman untuk kebutuhan dapur (bahkan disuruh mengkonsumsi "keong) sebagai pokok kehidupan sehari-hari karena tingginya harga kebutuhan pokok tersebut yang mencekik leher, gara-gara demokrasi ; kita semua dipaksa ikut berjudi ketika para paslon melacurkan dirinya kepada kita yang awam kepada mereka dan menanti iming-imingan uang sogokan alias serangan fajar didalam menjalankan aktivitas "Pemilu Raya" baik dalam pemilihan presiden sampai kepala daerah, gara-gara demokrasi ; semakin banyaknya penggusuran paksa terhadap rakyat asli orang-orang bangsa indonesia yang tersingkir akibat kekalahan didalam bersaing mendapatkan uang, gara-gara demokrasi ; telah memunculkan kriminalisasi rimba terhadap bapak ahok serta habib rizieq syihab yang mengakibatkan panasnya perseteruan antar etnis dan agama baik dalam isu terror - kebangkitan kader ideologi PKI terdahulu, gara-gara demokrasi ; kita semua rakyat indonesia yang susah secara ekonomi mengalami kesulitan didalam proses administrasi dan bahkan maraknya pungli ketika membuat status kewarganegaraan-hak milik tanah dan atau rumah-pajak sampai legalitas atau perpanjangan kepemilikan kendaraan bermotor, gara-gara demokrasi ; tiada hari tanpa ada unjuk rasa dari para demonstran yang meneriakkan lantang segala aspirasi serta keluhan atau kekecewaan nya sebagai parlemen jalanan terhadap pemerintah maupun pemerintahan namun malah menimbulkan keresahan khalayak ramai secara keamanan maupun kenyamanan yang terganggu (karena baik mayoritas demonstran maupun pihak keamanan selalu terjadi anarkis) rutinitasnya, gara-gara demokrasi ; semua perempuan (gadis remaja sampai ibu-ibu dapur yang lebih memilih meninggalkan kodratnya) serta guru-guru (lalai terhadap murid-murid nya yang mengakibatkan A moral dan A etika) maupun tokoh-tokoh agama (baik islam dan non islam ikut-ikutan berdemokrasi dan meninggalkan kewajibannya kepada masyarakat) tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, gara-gara demokrasi ; tuhan telah berganti menjadi uang - jabatan - kekuasaan,  dan masih banyak lagi.

   Baik dari kasus budaya dengan adanya  kontaminasi (american style - chinese style - freeseks - LGBT - miras - narkoba) gaya hidup secara berlebihan yang justru semakin meninggalkan jauh budaya tinggi leluhur kita, penegakkan hukum yang semakin tumpul dikalangan pejabat negara, KKN yang dilakukan serentak oleh hampir seluruh jajaran pejabat negara maupun seluruh parpol, mahalnya pendidikan - kesehatan yang semakin justru malah merubah paradigma makna hidup dan mengarah terhadap kerusakan Moralitas - Estetika serta Etika, pengambilan strategis kebijakan yang selalu menimbulkan pro-kontra dan atau penetapan pemimpin sebagai ajang melacur diri, cekcok perseteruan antar lembaga negara maupun organisasi formal - non formal, sentimen daerah (SARA) yang menimbulkan konflik antar sesama hingga keinginan daerah - daerah dan atau suku - agama yang ingin melepaskan diri dari persatuan indonesia.

Dalam arti bahwa berdasarkan catatan sejarah, sejak 18 agutus 1945 ketika sistem demokrasi masuk di negeri kita secara perlahan nan pasti, (itu merupakan) ancaman terjadinya kehancuran total NKRI semakin nyata didepan mata kita. Yang mana itu semua disebabkan alias gara-gara demokrasi, lantas mengapa sebegitu fatalkah itu semua terjadi cuma karena gara-gara demokrasi??
Hingga kini, demokrasi menjadi kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia di (hampir) seluruh negara-negara didunia, termasuk di NKRI.

    Sistem Demokrasi yang menggunakan metode "Parpol-Voting" (membuat kebijakan dan atau memilih pimpinan) dan juga sebagai pintu gerbang (Kapitalis-Imperialis-Kolonialis, Pragmatis, Komunis, Sosialis, Liberalis, Konservatis dll) pembebasan segala (faham/ajaran) Ideologi atas nama (kebebasan yang kebablasan) HAM merupakan produk barat. Maknanya bahwa Sistem Demokrasi bukanlah identitas asli negeri kita, dan demokrasi adalah pengkhianatan terbesar kita terhada ibu pertiwi kita yang memiliki pancasila sebagai kekasih ibu pertiwi kita.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk, diawali dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 mei 1908, serta didirikan nya Taman Siswa pada (Hardiknas 2 mei 1920 sebagai hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara) tanggal 3 juli 1922, kemudian pembacaan ikrar teks Sumpah Pemuda (Kongres Pemuda ke II pada tanggal 27-28 Oktober) tahun 1928 sebagai kelahiran Bangsa Indonesia yang dilanjutkan pembacaan teks Proklamasi oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta pada tanggal 17 agustus 1945 sebagai (Kemerdekaan Bangsa) buah hasil dari perjuangan pergerakan kemerdekaan indonesia. Sehingga (satu hari setelah kemerdekaan bangsa) pada tanggal 18 agutus 1945 PPKI menetapkan UUD'1945 (Preambule dan Konstitusi) dan menunjuk Soekarno-Hatta sebagai Presiden-Wakil Presiden Republik Indonesia, dari kesemua momentum serta proses pembentukan NKRI tersebut dilakukan dengan metode "Musyawarah-Mufakat" yang merupakan produk (Pancasila sebagai sistem, etika serta tekhnologi) "asli" NKRI, bukan dengan (Sistem Demokrasi) metode "Parpol-Voting".

Baik pancasila maupun demokrasi adalah dua sisi yang berbeda dan tidak bisa kita campur sedikitpun, karena kedua sisi tersebut adalah sistem-etika dan tekhnologi yang lahir di tempat yang berbeda dan metode yang berbeda pula. Sejarah membuktikan pada saat kedua sisi tersebut dicampur, baik dalam Orde Lama dengan "demokrasi terpimpin" nya, Orde Baru dengan "demokrasi pancasila" nya mengalami kegagalan, bahkan ketika Orde Reformasi sampai saat ini dengan "demokrasi (liberal kapitalistik) total" nya yang berjalanpun semakin menggiring kita kepada jurang kehancuran persatuan - kesatuan.

  Oleh karena itu, marilah kita segera sadar dan meninggalkan segala unsur demokrasi jika kita tidak ingin ancaman kehancuran negeri kita menjadi kenyataan, tegakkanlah pancasila secara murni sebagai produk asli dan identitas kita, agar kita semua berdaulat dan selamat sebagai bangsa.
Kembali kepada pancasila sebagai sistem kemandirian berbangsa & bernegara di republik indonesia adalah suatu keharusan, karena pancasila adalah etika & tekhnologi asli dari bangsa & negara republik indonesia [/sofyan].


Oleh ;
Saya  Rakyat  Jelata
Yang bertanggung jawab penuh atas tulisan ini

Senin, 05 Februari 2018

THE DAY OF MATREALISTIC




Aktivis Pergerakkan MMI Wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan (CIAYUMAJAKUNING),  PMII Jabar dan aktif di Brebes Mengabdi.


Saat peradaban manusia bergulir dari waktu kewaktu, semenjak masa-masa yang lampau sampai memasuki era modernisasi seperti yang kita alami saat ini.

Dimulai dari pemancangan abad modern oleh pemikiran Newton pada abad 17 yang lampau, dan saat ini berhasil membawa manusia menginjakan kaki di bulan, melalui penguasaan terhadap ilmu dan teknologi.

Sungguh sebuah jaman keemasan, hidup menjadi semakin mudah dan praktis, bahkan instan. Tidak ada lagi satupun tempat yang tersembunyi dimuka bumi ini, semua bisa diakses dengan cara real-time, melalui perangkat komputer yang dipadukan dengan telekomunikasi. Sehingga nampak bumi menjadi semakin menciut, karena jarak bukan lagi faktor yang menghalangi kemajuan manusia. Jaman keemasan yang mampu menyediakan segenap kebutuhan dasar manusia, baik secara fisik maupun sosial.

Berbicara persoalan fisik atau sosial merupakan kemudahan untuk terpenuhinya kebutuhan dasar ini, tidak jarang menggiring manusia untuk mencari kepuasan materialistik yang lebih jauh lagi, bahkan ujungnya adalah munculnya gejala hedonistik, dimana kepuasan hidup menjadi segala-galanya. Menjadi dasar dan sekaligus tujuan hidup itu sendiri. Paradigma Newtonian mengesahkan manusia untuk mencari bentuk-bentuk materi sebagai tujuan akhir bagi kepuasan dan hidup itu sendiri. Selain cara pandang materialistik diatas, hal lainnya adalah sangat mengetengahkan budaya mekanistik, yang sangat kental dengan penggunaan hukum sebab-akibat. Setiap entitas diurai / direduksi, kemudian dianalisa dengan menggunakan pendekatan analitis – rasionalis pada bagian-bagian terkecilnya.

Celakanya, seringkali nilai-nilai integreatif dari entitas tadi ikut terpecah, sehingga sebuah konsep nilai-maknawi secara keseluruhan menjadi hilang atau mengabur. Dan tatkala bagian-bagian parsial tadi kembali disintesa, maka bentuk awal tidak pernah utuh kembali, selain menjadi semacam tumpukan spare parts dari sebuah mobil, dan bukan mobilnya sendiri. Reduksionis, parsialis, analitis dan rasionalis serta machoistik, adalah gejala umum dalam jaman modern ini. Sampai dipenghujung abad 20 yang lalu. Manakala budaya newtonian dihadapkan pada ujung pencarian, yaitu munculnya fenomena chaotik, saat pendekatan materi, dan hukum sebab-akibat, tidak lagi mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan, mengenai berbagai realitas serta hakikat esensiel dari fenomena tadi.

Penyakit yang datang 30 tahun belakangan belum ditemukan obatnya. Pertentangan konsep kebenaran antara teori fisika relatifitas dan quantum belum juga ditemukan titik temunya. Dunia psikologi masih dikacaukan dengan konsep jiwa serta ruh, sehingga sering dikatakan sebagai ilmu jiwa yang tanpa jiwa. Padahal fisika dan psikologi adalah tiang pancang utama untuk membentuk filsafat ilmu.


Pemisahan kesadaran manusia, layaknya kamar kamar yang tak saling terhubung, seperti Emotion Quotient, Intelectual Quotient, Spritual Quotient, Moral Quotient, dll., jelas-jelas masih menggambarkan pendekatan Newtonian yang reduktif-parsialis. Manusia dan peradabannya membutuhkan pegangan baru. Sebuah cara pandang yang benar benar baru, yang mampu mengakomodir pemenuhan kebutuhan manusia untuk memahami realitas-realitas baru. Sebuah pandangan dan paradigma baru, lalu diikuti sebuah transformasi sosial, yang akan menjadi lokomotif untuk sebuah perubahan menyeluruh yang mendunia.

Di akhir abad 20, diusung oleh para ilmuwan terkemuka, jawaban alternatif yang sekaligus bertindak sebagai rising culture kata Fritjof Capra, atau counter culture versi Arnold Toynbee menjadi semakin mengemuka. Paradigma itu dinamakan sebagai pendekatan holistik, sistemik dan sekaligus organismik. Kuncinya adalah penggabungan dua sudut pandang oposisional, seperti analisa digabung dengan sintesa, reduksi – holistik, parsialis – integratif, rasionalis-intuitif dan machositik – feministik secara proporsional serta harmonis. Dalam fisika muncul teori baru untuk menjawab pertentangan relatifitas dan quantum, yaitu teori superstring. Dalam kosmologi, proses Big-bang sebagai dasar harus diawali oleh periode inflasi. Sementara dalam psikologi, muncul istilah wilayah kesadaran integratif yang tidak lagi bersifat parsialistik. Dalam sistemologi para ilmuwan mengembangkan teori kompleksitas, untuk menjawab pertanyaan mengenai sistem organisasi diri, atau sistem yang menata-dirinya, agar tetap eksis dan survive.

Seperti dalam biologi, dengan penemuan sistem Autopoiesis oleh Maturana - Varela. Yaitu sel sebagai sebuah kesatuan utuh menyeluruh, yang mempunyai hak-hak otonom sepenuhnya. Sistem yang mengatur dirinya sendiri, dimana semakin kompleks sebuah struktur, haknya semakin membesar. Semua akan berujung pada bentuk free-will, saat berujud menjadi mahluk terkompleks, yang bernama manusia. Semua itu mengerucutkan pandangan kita, bahwa perubahan dari sisi fisika, psikologi dan biologi, mengakibatkan filsafat ilmu berkembang pula, dan akibatnya disiplin-disiplin ilmu perlu untuk di re-definisi dan re-interprestasi.

Pendekatan pada wilayah spiritualis, sebagai akibat kejenuhan manusia pada dunia materi yang tidak menjawab esensi eksistensi manusia, membawa abad 21, konon akan menjadi abad spiritual. Capra dalam hidden connection menjelaskan, bahwa kelak diperusahaan-perusahaan besar dunia, yang bekerja bukan hanya mereka yang ahli dalam bidang-bidang ilmu dan teknologi serta manajemen, namun juga para sufi, alim-ulama, yang memahami konsep-konsep tentang sebuah keberadaan serta hakikat esensielnya.

Saat ini adalah masa transisi, sebuah masa yang hiruk-pikuk, sebuah jaman peralihan yang kaya warna abu-abu, dunia tak jelas alias remang-remang / twilight-zone. Setiap orang dihadapkan pada pilihan, apakah tetap tinggal diwilayah paradigma Newtonian yang mulai ambruk dan bangkrut, seperti juga peradaban-peradaban dunia lainnya, atau mengikuti perubahan alamiah yang merupakan fitrah atau sunnatullah. Semua itu menjadi sangat penting, sebab akan sangat menentukan antara eksis dan non-eksis, antara tumbuh dan stagnan, antara jelas dan chaos, antara sehat dan sakit.

Seluruhnya harus dimulai dari wilayah kesadaran sebagai esensi primer, dibanding dengan realitas fisik yang lebih bersifat sekunder. Yaitu kesadaran yang mengalami brain-storming, seraya melepas dunia mythos sisa peninggalan masa lampau. Kesadaran yang ditata ulang dengan mengikuti pandangan yang menyeluruh, utuh dan tumbuh (holistik, sistemik dan organismik).


Wilayah-wilayah kesadaran yang tadinya dapat direduksi kedalam kamar-kamar yang tak berhubungan, diteliti ulang menjadi sebuah aliran-kesadaran. Sebuah aliran psiko-energi dari ranah kesadaran paling bawah, merambat menuju wilayah kesadaran yang paling tinggi tanpa terputus, sehingga membentuk manusia yang sehat dan dewasa, yang matang serta terasah, baik secara fisik maupun kepribadiannya.
Terputusnya aliran akan mengakibatkan sindroma “mental looping” atau lingkaran setan, yang memutus proses tumbuhnya kesadaran, sehingga terjadi stagnasi kesadaran, seraya menghasilkan individu-individu dengan kepribadian yang sakit. Ketika hal itu dikolektifkan, lalu tak pelak munculah komunitas masyarakat yang juga sakit. Yang menganggap salah menjadi benar, yang membuat apapun yang tadinya nonsense, menjadi sebuah common sense.


Pada domain nonsense, seseorang yang telah terbukti melakukan pelanggaran hukum bisa diangkat menjadi pemimpin, bahkan ketua partai. Nonsense seseorang yang berada di penjara bisa tetap memimpin sindikat mafia. Nonsense, seseorang yang tak pernah belajar bisa lulus ujian. Nonsense seseorang yang tak pernah mengikuti pendidikan dasar, bisa menjadi pengembara, tanpa membahayakan keselamatan dirinya atau teman-teman seiringnya. Tapi sekarang, semua nonsense itu kini seolah menjadi make-sense, jika dompet anda cukup tebal..!!

Ketika individu-individu bermasalah ini membuat team work, maka yang ada adalah kerjasama dari orang-orang sakit. Bukan sebuah kesatuan harmonis yang sesuai dengan sistem tatadiri alamiah universal. Bukan seperti rombongan lebah, dimana setiap diri sudah paham dengan fungsi dan peran dirinya dalam kelompok. Diri yang diatur oleh fungsi, layaknya anak yang diatur oleh ibunya. Seperti diferensial yang menjadi turunan dari integral. Dan bukan sebaliknya dimana diri yang diberhalakan, lalu mengatur peranan dirinya, sekalipun harus bertabrakan dengan kepentingan komunitasnya, bahkan dengan common-sense.

Pemberhalaan diri menjadi sebuah common sense, bagi segolongan orang yang merasa dirinya superior. Dimana jika perlu negara inipun di klaim sebagai milik dan warisan leluhurnya.

Sementara bagi sebagian yang lainnya, yang merasa inferior, lalu hidup dan kehidupan layaknya sebuah bencana. Tinggal dimuka bumi ini hanya sebuah kesialan belaka. Seperti mewarisi dosa turunan, karena orang tuanya juga kaum inferior, layaknya karena dulu Adam berdosa pada Tuhan. Jika kaum muda, generasi berikutnya dari negeri ini berfikir seperti itu lalu apa kata dunia tentang pemuda-pemudi Indonesia? Yang berkutat dengan pemikiran, bahwa jika ingin superior, so be the safety player. Seraya menjadi kaum penjilat. Sebaliknya risk-taker hanya bagi kaum inferior, karena toh nothing to lose.

Kamis, 01 Februari 2018

Fenomena Dalam Realitas Nilai




Berbagai peristiwa datang silih berganti tentunya, suhu politik terus-menerus mengalami perubahan, dan pertempuran antara Islam dan kekufuranpun berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun yang pasti adalah bahwa hal ihwal hanyalah bagaikan anak-anak yatim yang berada di atas onggokan sampah. Ruh shahwah islamiyyah pada masa modern mendapatkan warisan kronis berupa penyimpangan dan kemunduran (pergeseran nilai) secara menyeluruh, sebagai akibat dari ketidakberdayaan dan kelemahan yang dialami pada masa-masa sebelumnya.

Ruas keselarasan tidak akan sanggup mendrive untuk bangkit dari ketidak berdayaan dan kelemahannya hanya dengan melalui usaha individu-individu yang bersifat terbatas, sebesar apapun kemampuan dan kesanggupan yang dikerahkan. Akan tetapi semuanya membutuhkan kemampuan dan upaya secara menyeluruh yang saling melengkapi, melengkapi dan membesarkan. Jika demikian keadaannya, maka bentuk kesahajaan itu bisa dijadikan sebagai parameter untuk mendapatkan karunia, yang dapat berjalan dengan penuh kepercayaan diri serta ketenteramannya. Dan meskipun perjalanannya terasa berat dengan berbagai fenomena karena banyaknya kerikil dan rintangan, akan tetapi disuatu hari kelak, tidakkah ada di antara kita yang bertanya kepada dirinya: Apakah peran yang harus dipersembahkan dalam meniti perjalanan?

Apakah cukup bagi seseorang untuk hidup hanya sebagai penonton? yang menyaksikan perjalanan shahwah islamiyyah hanya dari jauh tanpa ikut serta mengambil perannya, kecuali hanya sekedar bertepuk tangan dan dengan mengelus dada? Ataukah cukup bagi seseorang untuk ikut berperan hanya dengan memperbanyak jumlah dan kwantitas orang-orang shalih? Ataukah cukup bagi seseorang untuk berperan hanya dengan mengucapkan la hawla wa la quwwata illa billah dan inna lillahi wa inna ilayhi roji'un, tatkala amal atau gerakan mengalami musibah yang menyedihkan atau bahkan sangat menyedihkan?

Tentu tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan keteledoran yang sangat meninabobokan suatu nalar, sehingga menyebabkan kebanyakan orang tidak mau untuk ikut andil dan memberikan daya upayanya. Mungkin suatu bentuk rasa syukur kita tentunya karena memiliki kemampuan yang tiada batas, akan tetapi kemampuan tersebut masih bersifat pasif, beku/statis dan belum tergali untuk dimanfaatkan secara maksimal dan optimal dalam berkhidmat. Bahkan kebanyakan kemampuan yang kita miliki ini dililit oleh berbagai ketidakberdayaan dan kelemahan. Sehingga tidaklah mengherankan bagi kita tatkala melihat kebanyakan perilaku orang-orang shalih yang terlahir dalam angka bukan oleh value (jumlah mereka hanyalah sanggup untuk memberatkan bumi, namun mereka tidak sanggup untuk memperjuangkan sesuatu yang agung).

Hakikinya sumber daya yang dimiliki bukanlah berupa harta, persenjataan ataupun sumber tambang dan hal lainnya, karena sesungguhnya sumber daya hakiki tersebut adalah sumber daya manusia yang perkasa, yang memiliki tanggung jawab untuk mengemban amanah yang agung. Sumber daya hakiki berupa jiwa yang senantiasa siap untuk mempersembahkan dan bahkan mengorbankan untuk mengayomi dan melindungi tentunya (jadilah seorang kesatria yang berdiri kokoh di atas tanah, namun cita-citanya tinggi menerawang hingga menancap di atas langit).

Sampai saat ini pun belum ada suatu hal yang dapat membinasakan kemauan/ambisi kuat seseorang kecuali karena dirinya sendiri, yaitu dengan merendahkan dan membungkus dirinya dengan kelemahan, hingga melumpuhkan tekadnya, dan ia pun tidak sanggup lagi untuk bergerak dan beraktifitas. Yang membuat kemampuan seseorang terasa hambar dan tidak bermanfaat tiada lain adalah karena ia mengganggap dirinya sebagai orang yang lemah, serta tidak sanggup untuk beraktifitas dan bekerja secara kreatif. Akan tetapi pada umumnya, kebanyakan orang tidaklah akan sanggup untuk menggali kemampuan dan potensi dirinya kecuali melalui pelatihan dan pengalaman yang didapat secara continue.

Tentu sudah merupakan suatu hal yang lumrah bahwa hasil kerja seseorang sangatlah tergantung pada kadar kemauan/ambisi dan tekadnya. Seseorang yang memiliki kemauan atau ambisi adalah seseorang yang memiliki tujuan dan cita-cita tinggi, walaupun bisa jadi pada saat tertentu kemampuannya belum mampu untuk menggapainya. Namun ia akan senantiasa berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya hingga ambisi dan cita-citanya tercapai. Dan apabila kemampuannya telah tumbuh dan tergali, maka ia tidak akan berhenti pada sasarannya yang pertama saja, tetapi ia pun terus meningkatkan dan menggalinya dengan lebih seksama tentunya.

Pada fase merengkuh kemuliaan. Di saat orang lain tiada berkeinginan menggapainya. Mereka anggap kemuliaan sebagai kehinaan hingga kebanyakan mereka bermalas-malasan. Tiadalah sanggup untuk menggapai kemuliaan, kecuali seseorang yang mau bekerja keras dan mau bersabar. Jangan samakan kemuliaan dengan sebiji korma yang gampang di telan. Dan tiadalah dapat merengkuh kemuliaan, kecuali dengan membawa dan mengepakan sayap kesabaran.

Dalam hal ini mengatasi pergeseran nilai tentu ada pada keteguhan iman yang di perkuat oleh ilmu pengetahuan dan hati sehingga melahirkan sebuah pengamalan serta suatu hal yang baru pada tatanan nilai sehingga peradaban itu mampu maju dan berkembang dengan sebagaimana mestinya pada realitas waktu. Konsekuensi logis pada seluruh tatanan kehidupan, dzat maha jujur adalah waktu dalam memprakarsai nilai dan kita adalah pemimpin didalam seluruh tatanan dunia.

Minggu, 14 Januari 2018

Seharusnya Malu







Oleh : Riana Ayu Chandra


   Lagi-lagi saya menulis mengenai Mahasiswa/i. Seolah tiada bosan-bosannya saya membahas keironisan ini. Namun besar harapan saya agar artikel karya saya yang tak seberapa nilainya ini dapat dibaca dan dicermati oleh kawan-kawan Aktifis Pergerakan Mahasiswa dan khalayak umum untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan kita bersama.

  Ya.. Mahasiswa. Pelajar tingkat tertinggi yang sudah memiliki gelar Tuhan (Maha) dalam status sosialnya.

  Pelajar tingkat tertinggi yang sudah memiliki tanggung jawab terhadap pembangunan Bangsa dan Negaranya. Dan hanya di Indonesia inilah dapat anda jumpai seorang pelajar dengan penyebutan gelar Tuhan dalam status sosialnya, sebab disemua negara diseluruh dunia hanya menyebut seorang yang sudah melanjutkan tingkat pendidikannya pada tingkat bangku Perguruan Tinggi hanya dengan sebutan "siswa".

  Bukan Mahasiswa seperti di Indonesia. Menatap konstalasi nasional yang ada saat ini, dengan kondisi Indonesia yang sudah terombang-ambing dan dipukul dari seluruh sudut pertahanan yang ada. Nyatanya mahasiswa yang seharusnya menjadi "agent of change atau agen perubahan" mengalami mati suri. Ada wujudnya, namun mati dalam pergerakan.

  Mahasiswa hanya terfokus pada hal-hal yang itu-itu saja. Ada beberapa alasan yang menjadikan mahasiswa jauh berbeda dengan para pendahulunya dulu, diantaranya ialah ;

1. Pihak Kampus atau Perguruan Tinggi lebih membebankan mahasiswa dengan tugas dan IPK,
2. Hati nurani mati serta rasa peduli yang lenyap,
3. Tidak sadar akan konstalasi negaranya saat ini,
4. Lebih senang dibilang borjuis,
5. Budaya Barat dan Asing yang merubah gaya hidup Mahasiswa,
6. Mindset pertama yang ditanam ialah mindset individualis,
7. Kerja diperusahaan asing yang menjadi tujuan akhir setelah lulus,
8. Selalu beranggapan bahwa Indonesia sudah Merdeka 100% dan,
9. Ikut terjerat dalam kemajuan jaman yang malah merusak.


  Kini, entah mengapa secepat itu para kaum "intelektual" ini menganggap bahwa Indonesia sudah merdeka. Padahal nyatanya Indonesia masih dipukul diseluruh penjuru pertahanan kita.

  Seharusnya malu.. Untuk apa memiliki gelar Tuhan dalam status sosialnya bila masih buta terhadap konstalasi negaranya sendiri. Jangankan membaca konstalasi nasional, mempelajari sejarah Bangsa dan Negaranya pun enggan.

  Seharusnya malu.. Untuk apa penyebutan "agent of change" apabila hal ini hanya dijadikan sebuah penyebutan untuk dipamerkan saja tanpa pernah bisa diimplementasikan.

  Seharusnya malu.. Untuk apa melanjutkan jenjang pendidikan kalau hasilnya hanya ikut bangga hanya menjadi karyawan/wati saja, tapi tak bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk membantu masyarakat sekitar didalam memenuhi kebutuhan mereka.

Hm.. Mungkin hanya seperti ini bentuk penyadaran yang saya berikan. Semoga hasil dari artikel ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Koalisi Partai Senin Kamis Geo-Culture atau Politik Bunglon



Oleh: Rahmat Nuriyansah

Indonesia adalah negara yang sangat begitu besar. Mulai dari jumlah penduduk, luas wilayah, sumber daya alam hingga seni budaya dan adat istiadatnya. Dilihat dari Jumlah penduduknya, penduduk indonesia merupakan yang keempat terbesar didunia, dengan jumlah penduduk sekitar 258.316.051 jiwa (data Juli 2016) setelah Amerika, Cina, dan India. Dan menjadi salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah sebesar 1,904,569 km2 dengan jumlah pulau sebanyak 17.508 pulau.
Dalam hal ini tentu tidak terlepas dari keberadaan partai politik itu sendiri, konon negara kita menganut system demokrasi dan negara kita sangat begitu kaya & besar maka partai politik di indonesia harus banyak pula. Tapi semua itu justru menjadi petaka bagi keberadaan & kemajuan Bangsa bahkan menjadi ancaman keberadaan Negara (human error). Tidak adanya proses affirmasi pada tubuh partai politik itu sendiri sehingga menyebabkan partai tersebut bisa bergerak secara kondisional artinya tidak adanya sebuah aturan dasar dan komitmen untuk bersama-sama menumbuhkembangkan peradaban yang ada di Indonesia.

Evaluasi system demokrasi menjelang Pilwalkot, Pilkada dan Pilgub menjadi salah satu tranding topik baik dikalangan elit baik vertikal maupun horizontal secara keseluruhan khususnya di jawa barat & jawa tengah. Tentu sangat menarik keberadaan masyarakat luas yang kerap kali kita ketahui bersama terjadinya politik bunglon baik di Indonesia pada umumnya maupun di jawa barat dan jawa tengah. Ada banyak hal yang kita ketahui bersama kenapa Bangsa & Negara kita sulit untuk maju dan berkembang, dengan keberadaan partai politik itu sendiri. Tentu ada pada mental partai politik itu sendiri. Lain ladang lain belalang sangat begitu jauh berbeda dengan 2 Partai Raksasa di Amerika (partai rebublik & partai demokrat). Partai tersebut mampu memberikan sinyal positif bagi masyarakat luas di Amerika bahkan sangat begitu mudah untuk maju berkembang dengan pesat. Katakanlah partai repuplik berada di pemerintahan dan partai demokrat berada non-pemerintah.Kedua partai tersebut sangat berfungsi dengan baik sehingga check & balance itu ada dan melekat di tubuh Amerika itu sendiri.

Bagaimana keberadaan partai politik di Indonesia Itu sendiri? Apakah justru keberadaan partai politik merugikan Bangsa & Negara kita? tentu keberadaan partai di Indonesia justru merugikan Bangsa & Negara kita. Karena esensi dalam berpartai belum mempunyai dasar yang kuat akhirnya lahirlah politik bunglon tahun ini ikut siapa, tahun depan ikut kemana. Itulah yang di sebut bahwasannya partai politik di Indonesia belum mempunyai karakter yang utuh (gray area political).

Seharusnya partai politik itu mempunyai esensi yang jelas, apa yang dilakukan partai politik adalah mengajarkan ilmu. Tujuannya hanya untuk menjadikan partai politik itu berkarakter & berintegritas. Dan partai politik mampu menginspirasi masyarakat luas Indonesia, seraya menciptakan hal hal baru, bagi perkembangan sejarah dan budaya manusia serta kemanusiaan itu sendiri. Menginjak Abad-21 sudah dimulai, perubahan itu terjadi secara signifikan sehingga partai politik bisa menjadi inspirator bagi sekelilingnya. Bukan hanya mengajarkan perangkat untuk menjadi seorang spesialis teknis.

Tujuan utama partai politik harusnya jelas sama halnya dalam pembentukan karakter, sama halnya pendidikan. Sebuah wilayah soft skills, dimana satu satunya metoda adalah dengan cara partisi-patorik. Artinya dengan pengalaman realitas secara langsung, bersifat orisinil dan bukan permainan topeng diwajah. Partai politik yang menginspirasi, haruslah partai politik yang berjiwa inspirator, yang bukan hanya bisa mengajarkan melihat dan mendengar, namun juga meneliti, menyimak dan merasakan secara holistik.

Dalam sebuah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kekayaan perusahaan bukan lagi sumber daya manusia, modal kerja dan assets, namun justru pengetahuan pengetahuan baru (knowledge) yang bermanfaat secara langsung bagi masyarakat secara keseluruhan. Seperti Bill Gates (windows), Marc Zuckerberg (facebook), Jack Dorsey (twitter), Steve Chen (youtube), Sergey Brin (google) dan aplikasi smartphone lainnya, semuanya itu adalah pengetahuan temuan baru. Menginjak Abad-21 para pemimpin masa depan (partai politik), bukanlah mereka yang punya visi super canggih. Namun mereka yang sanggup menginspirasi anak buahnya untuk juga mempunyai visi. Tugas pemimpin adalah menyatukan semua visi tadi untuk membawa visi besar, dalam meraih kesejahteraan bersama. Demi maju dan berkembangnya suatu peradaban melalui karakter Bangsa.

Dalam berpartai seharusnya politisi adalah seorang inspirator, dengan kata lain seorang inspirator sesungguhnya juga menjadi guru pendidik bagi komunitasnya. Sebaliknya, siapapun yang tidak menebarkan atmosfir ter-inspirasi. Yang dengan ketokohannya seraya hanya mengandalkan kekuatan dogma yang sudah berkarat dan terkunci. Kadang dengan ancaman pemberian label-label yang menakutkan dan menyeramkan. Hanyalah para pengajar, yang mengharuskan murid-murid dan pengikutnya menganguk-angguk layaknya burung beo.

Bagi mereka kata inspirasi menjadi musuh dan sekaligus kejahatan besar bagi sang Status Quo. Jadi Koalisi Partai Politik senin kamis haruslah dibumi hanguskan supaya check & balance itu ada pada tubuh Indonesia.

Senin, 27 November 2017

Kemana Mahasiswa?



Oleh : Riana Ayu Chandra (Nana Hachan)




Seperti menjadi sebuah kewajaran ketika saya mengajukan pertanyaan “Kemana Mahasiswa?” ketika saya tatap konstalasi Indonesia saat ini. Pertanyaan ini makin berkecamuk ketika pemikiran saya makin dibenturkan dengan keadaan Mahasiswa dahulu dan yang ada saat ini. 

   Yang sama-sama kita sepakati, dahulu Mahasiswa merupakan tulang punggung pergerakan melawan kedzoliman para penguasa. Yang kita lihat pula, Mahasiswa dulu merupakan barisan pertama yang mampu dengan gagah berani memperjuangkan suara-suara rakyat yang disakiti oleh para penguasa. Hingga mampu menurunkan sebuah rezim otoriter Soeharto pada Mei 1998. 

   Tapi kenyataan itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada saat ini. Begitu banyak perbedaan yang terdapat didalamnya. Dan berikut ini akan saya jabarkan apa saja yang jadi pembeda ;

1.     Kampus terkenal yang ada dulu hanya ada 2. DiNegeri ada UI (Universitas Indonesia). Dan diSwasta ada UKI (Universitas Kristen Indonesia). Masih sedikit pemuda yang saat itu menyandang status Mahasiswa. 

2.     Mahasiswa dahulu masih tinggal dibawah kekuasaan tirani yang masih mengekang kebebasan masyarakat. Wajar kalau dahulu Mahasiswa masih mau berjuang atas nama rakyat. Saat ini? Jangan tanya. Banyak Mahasiswa kini yang nyatanya menganggap bahwa negaranya sudah merdeka 100% tapi nyatanya, kita hanya terbebas dari belenggu Penjajah. Melalui Intelektual dan teknologi, kita masih dijajah habis-habisan. 

3.     Organisasi Mahasiswa yang ada dahulu benar-benar merekrut kader yang bisa memperjuangkan apa yang menjadi garis besar haluan organisasi. Tapi saat ini, Mahasiswa hanya menjadikan organisasi menjadi ajang ikut-ikutan. 

4.     Sistem pendidikan awal yang juga berpengaruh dalam hal ini. Banyak Mahasiswa dulu yang paham benar akan apa itu Pancasila, bagaimana cara mempertahankan kesatuan bangsa dan negara, serta cara bermusyawarah. Karena Pancasila masih dimasukkan dalam sistem pendidikan nasional. Bahkan pada tehun 1964 diterapkan sebuah kurikulum yang pook bahasannya ialah Manusia Merdeka Berjiwa Pancasila. Tidak seperti adanya kami saat ini yang justru Pancasila yang menjadi pokok pelajaran terpenting mengenai negara kita malah dihapuskan. 

5.     Mental yang ada pada Mahasiswa dahulu jauh lebih berani daripada yang ada saat ini. Hal ini dikarenakan Mahasiwa dahulu masih hidup dibawah garis kungkungan para penguasa. Tidak seperti kita saat ini, yang hidup dengan kondisi yang sudah terbebas dari kungkungan tapi jutru kita terlena. 



  Entah mengapa, keadaan ini menjadi sebuah ironi dimana Mahasiswa justru malah tak peduli terhadap lingkungannya. Seolah kata pepatah yang menyatakan “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” hanya menjadi sebuah isapan jempol yang tak berarti. 

  Jangankan untuk ikut mengangkat toa, membentangkan spanduk dan menyebarkan agitasi untuk memperjuangkan rakyat. Hanya sekedar mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi saja banyak Mahasiswa hanya menjalankan 2 point pertama saja. 

Padahal Tri Dharma tidak akan menjadi Tri Dharma jika salah satunya saja tidak dijalankan. Sedangkan sifat yang terkandung didalamnya memiliki sifat yang kolektif – kolegial. Saling melengkapi dan saling menutupi.  

Karena nyatanya pendidikan yang dijalankan selama bertahun-tahun tidak akan ada artinya tanpa adanya penelitian. Penelitian yang dijalankanpun, hanya akan dianggap omong kosong ketika lakukan tanpa disertai pendidikan. Serta, pendidikan yang disertai penelitian tanpa diabdikan untuk masyarakat hanya akan menemui jalan buntu. 


Sekalinya ada yang menjalankannya hanya dilakukan pada semester akhir yang ditujukan untuk sebuah skripsi demi kelulusan. 

 Kemana Mahasiswa ketika konstalasi Indonesia dianggap darurat kepemimpinan? Kemana Mahasiswa ketika Indonesia dinyatakan darurat korupsi? Akankah Mahasiswa hanya diam saja ketika Indonesia terombang – ambing dalam keterpurukan? 

  Hanya ada satu pernyataan yang sebenarnya harus diucapkan ketika hal ini terjadi “LAWAN”. Tapi sayang, sungguh sayang. Mahasiswa yang ada kini hanya tertidur pulas dalam buaian nina bobo para penguasa. Demikianlah sebuah artikel sederhana yang berusaha saya buat.

DEMOKRASI SISTEM GAGAL YANG TERUS DI PERTAHANKAN



OLEH : IBRAHIM ADJIE


Semenjak di terapkanya sistem demokrasi di Republik ini hingga saat ini alih-alih merubah bangsa ini menjadi lebih baik dan sejahtera dalam kehidupanya kenyataannya malah sebaliknya negeri ini semakin kacau balau dan Rakyatnya semakin miskin.
Bukan hanya ituSumber Daya Alam yang begitu melimpah ruah tidak bisa di rasakan atau di nikmati secara maksimal oleh masyarakat bangsa ini, adapun yang lebih banyak menikmati justru bangsa asing beserta kaki tangannya. Harta bangsa ini di keruk habis oleh bangsa asing ajaibnya aksi perampokan yang di lakukan bangsa asing terhadap sumber daya alam kita di legalitas oleh peraturan perundangan yang berlaku di negeri ini salah satu contohnya adalah tambang emas Freeport di jayapura (papua).
Bukan hanya SDA kita yang keruk habis bahkan moral masyarakat bangsa ini pun di rusak sedemikian rupa dengan dalih modernisasi dan kebebasan, sehingga hilangnya nilai-nilai keTuhanan , etika dan estetika sebagai watak dasar dari prilaku asli masyarakat bangsa ini yang menjunjung tinggi keberadaban. Kenyataanya pada saat ini sangatlah kontradiktif dari sifat dasar masyarakat kita tadi yang kini telah berubah drastis menjadi Individualis, Matrealistis bahkan cenderung apatis.
Di dalam hal penataan negara pun arahnya menjadi semakin tidak jelas, praktek KORUPSI yang semakin menggila dan pertengkaran antar kelompok anak bangsa yang semakin mengkhawatirkan keutuhan dalam berbangsa dan bernegara baik kelompok organisasi politik, organisasi kemasyarakatan maupun organisasi keagamaan mereka saling beradu ini semua akibat dari bobroknya sistem bernegara kita yang menganut sistem demokrasi.
Harapan-harapan yang di janjikan dalam sistem ini sesungguhnya tiada lain hanyalah KEBOHONGAN sekaligus PEMBODOHAN terhadap masyarakat, contoh kasus dengan di selenggarakannya PESTA DEMOKRASI mulai dari PILPRES, PILEG, PILKADA PROVINSI sampai PILKADA KABUPATEN yang semua penyelenggaraannya menggunakan uang Rakyat hingga puluhan bahkan ratusan triliun rupiah namun apa yang di dapat dan di rasakan oleh Rakyat hanya kekecewaan demi kekecewaan dan Rakyat tetap hidup dalam kesusahan.
Sadarlah wahai Anak-Anak Bangsa bahwa negeri ini di ambang kehancuran akibat dari kegagalan sistem yang bernama demokrasi.
Padahal para LELUHUR BANGSA ini sudah menyiapkan rumusan konsep yang mengandung nilai-nilai KeTuhanan yang begitu tinggi luhur dan mulia yang sesuai dengan fakta tentang pola hidup keseharian bangsa Indonesia yang Agamis, toleran, bergotong royong dengan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan musyawarah selalu menjadi landasan utama dalam suatu permufakatan dan konsep itu bernama PANCASILA. Para leluhur bangsa ini bercita-cita agar Pancasila dapat di jadikan sebagai sistem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Nusanatara agar tercapainya sebuah KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA inilah cita-cita tertinggi para Founding Fathers kita.
Untuk itu saya mengajak kepada segenap anak bangsa untuk kembali kepada JATI DIRI kita sebagai bangsa yang berPancasila.
Tinggalkan sistem demokrasi yang tiada lain adalah bagian dari kepentingan asing untuk menguasai negeri ini sekaligus sebagai pintu masuk bagi ideologi-ideologi luar agar dapat berkembang di negeri kita tercinta ini.
SADAR DAN BANGKITLAH WAHAI PUTRA-PUTRI IBU PERTIWI SELAMATKAN BANGSA DAN NEGERIMU DARI KEHANCURAN, WUJUDKAN CITA-CITA MULIA LELUHURMU DAN MEREKA AKAN BANGGA PADAMU
“PANCASILA BERDAULAT BANGSA SELAMAT”
“NKRI BERAZASKAN PANCASILA BUKAN BERAZASKAN DEMOKRASI”
🇮🇩 ðŸ‡®ðŸ‡© ðŸ‡®ðŸ‡© ðŸ‡®ðŸ‡© 

Jumat, 10 November 2017

Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana?



Oleh ;

Nana Hachan 
(Riana Ayu Chandra)
Mahasiswi STIE PELITA BANGSA


Seperti yang kita sepakati bersama bahwa pendidikan merupakan modal pertama yang harus dipenuhi setiap Negara demi membangun Negara diseluruh dunia. Sudah sepatutnya pendidikan dijadikan focus pemerintah untuk ditingkatkan. Karena ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa sudah terdapat dalam cita – cita bangsa yang diamanatkan dalam Preambul UUD 1945.

Tapi, saya sedikit merasa miris ketika dibenturkan dengan realita yang ada. Hal ini karena masih saya temui banyaknya angka Anak Putus Sekolah (APS) dan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia meskipun Pemerintah sudah dengan berbaik hati membuat peraturan sekolah gratis demi tercapainya pemerataan pendidikan di Indonesia.

Hal ini dapat kita lihat pada Kabupaten Bekasi tempat saya tinggal dimana masih terdapat 200.000 anak terlantar. Padahal Kabupaten Bekasi merupakan kota Industri dimana ribuan pabrik berdiri dengan subur diatasnya. Ada beberapa alasan mengapa hal ini bisa terjadi.


1. Ekonomi keluarga rendah Adanya banyak anak yang memilih untuk lebih baik ikut serta mencari nafkah ketimbang menuntaskan kewajibannya dalam mengenyam pendidikan dibangku sekolah;

2. Mainset Orang Tua Sebenarnya tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya memiliki masa depan yang sama seperti kedua orang tuanya. Tapi nyatanya banyak anak yang justru memilih bekerja karena mainset orang tua yang selalu berkata bahwa sekolah itu mahal. Meskipun yang kita ketahui bersama bahwa pemerintah sudah membuat program sekolah gratis;

3. Kartu KIP Tidak Merata Semoga saja hal ini dapat didengar oleh pemerintah. Kartu Indonesia Pintar atau yang biasa kita sebut KIP tidak begitu berarti karena nyatanya pemberian atau penyebarannya masih belum merata;

4. PPBD Online Membingungkan Banyak pihak orang tua yang sangat menyayangkan system yang berlaku untuk mendaftarkan peserta didik baru pada setiap sekolah. Hal ini dikarenakan banyak orang tua murid yang masih gagal teknologi. Belum lagi pendaftaran yang sering offline.

5. NEM Yang Tinggi Saya baru sadar bahwa kecerdasan anak sekolah ternyata hanya dilihat dari nilai akhir yang didapat di Ujian Nasional. Entah mengapa sepertinya hal ini juga yang jadi penghambat anak Indonesia untuk meneruskan pendidikannya kejenjang selanjutnya.


Dan yang sangat saya pahami bahwa kemajuan pendidikan dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada. Tapi analisa social yang saya lakukan ditempat tinggal saya sendiri ternyata masih menunjukkan banyaknya pengangguran di Kabupaten Bekasi. Pengangguran ini juga disebabkan oleh banyaknya pendatang yang ikut serta bersaing mencari kerja dan tinggal serta mengadu nasib di Kabupaten Bekasi. Kemudian saya akan membahas sebuah pertanyaan yang sangat indah yang saya ukir pada judul diatas. Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana? Sekali lagi, yang kita sepakati bersama bahwa pendidikan merupakan foundasi terpenting untuk membangun Negara ini.


 Yang kita ketahui bersama, setiap Negara ini berganti kepemimpinan pasti selalu berganti pula peraturan yang dijalankan disemua sector. Indonesia sendiri sudah mengalami 10 kali perubahan kurikulum pendidikan. Berikut ini tahap demi tahap pergantian kurikulum pendidikan tersebut dan penjelasannya :

1. Kurikulum 1947 Bentuknya memuat 2 hal pokok:

a. daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya,
b. Garis-garis besar pengajaran.


2. Kurikulum 1952 Bentuknya memuat 5 hal pokok berikut:

a. Pendidikan pikiran harus dikurangi,
b. Isi pelajaran harus dihubungkan dengan kesenian,
c. Pendidikan watak,
d. Pendidikan jasmani, dan
e. Kewarganegaraan Masyarakat.


3. Rencana Kurikulum 1964 dan Kurikulum 1964 Bentuknya memuat 5 hal pokok berikut:

a. Manusia Indonesia berjiwa Pancasila,
b. ManPower,
c. Kepribadian Kebudayaan Nasional yang luhur,
d. Ilmu dan teknologi yang tinggi, dan
e. Pergerakan rakyat dan revolusi. Rencana Pendidikan 1964 melahirkan Kurikulum 1964 yang menitik beratkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana.

4. Kurikulum 1968 Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.

5. Kurikulum 1975 Adapun ciri-ciri lebih lengkap kurikulum ini adalah sebagai berikut: Berorientasi pada tujuan. Menganut pendekatan integratif dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

6. Kurikulum 1984 Adapun ciri umum kurikulum ini adalah sebagai berikut: Berorientasi kepada tujuan instruksional. Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Menggunakan pendekatan keterampilan proses.

7. Kurikulum 1994 Adapun ciri umum dari kurikulum ini adalah sebagai berikut: Sifat kurikulum objective based curriculum Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi). Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.

8. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 Depdiknas mengemukakan karakteristik KBK ialah sebagai berikut. Menekankan pada ketercapaian komoetensi siswa baik secara individual maupun klasikal Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatann dan metode bervariasi Sumber belajar bukan hanya guru tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsure edukatif Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya poenguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

9. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 Guru memiliki otoritas dalam mengembangkan kurikulum secara bebas dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan di sekolahnya.

10. Kurikulum 2013 Ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013. Kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar, yang menyangkut metodologi pembelajaran, yang nilainya pada pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG) baru mencapai rata-rata 44,46 Kompetensi akademik di mana guru harus menguasai metode penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswa. Kompetensi sosial yang harus dimiliki guru agar tidak bertindak asocial kepada siswa dan teman sejawat lainnya. Kompetensi manajerial atau kepemimpinan karena guru sebagai seorang yang akan digugu dan ditiru siswa. Kesiapan guru sangat urgen dalam pelaksanaan kurikulum ini. Kesiapan guru ini akan berdampak pada kegiatan guru dalam mendorong mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang telah mereka peroleh setelah menerima materi pembelajaran.

Mari sama – sama kita cermati, betapa beruntungnya kakek dan nenek atau ibu dan bapak kita pada jaman dulu yang masih bersekolah pada kurun tahun 1964. Tak merasa ambigu terhadap sejarah apalagi Pancasila seperti kita saat ini. Mengapa saya berkata demikian? Karena pokok bahasan pertama yang menjadi nilai terpenting kala itu ialah manusia Indonesia berjiwa Pancasila.

Tidak seperti adanya kita saat ini yang buta akan selarah bangsa kita sendiri karena pelajaran yang substansi didalamnya saja dihapuskan. Apakah mungkin dengan alasan mengikuti perkembangan jaman menjadi pacuan mengapa Pancasila dihapuskan dari sekolah – sekolah yang ada diIndonesia? Sangat disayangkan ketika hal itu terjadi.

Bukankah Bung Karno sendiri selalu mengingatkan anak Bangsa untuk selalu mengingat sejarah dengan berkata “JASMERAH” Tapi kini JAS MERAH sudah luntur dan berganti menjadi kemajuan teknologi yang membuat semua orang terlena dibuatnya hingga melupakan sejarah. Tapi apa yang dapat kita lakukan agar sejarah tidak hanya menjadi angin lalu? Hanya satu, kita semua hanya dapat bersuara pada pemerintah untuk tetap menyertakan pelajaran sejarah dan Pancasila pada kurikulum pendidikan.

Selebihnya kita hanya mampu memberi tahukan kepada kerabat terdekat terkait pentingnya sejarah. Demikian artikel yang tidak seberapa ini saya buat. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih. Besar harapan saya agar artikel ini bermanfaat untuk kita semua.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Peran Pemuda Di Tengah Perpecahan



Sebagai agen perubahan, para kaum pemuda harus mampu mengubah kegaduhan yang terjadi menjadi sebuah kedalaman sesuai dengan identitas bangsa ini, persatuan.
Soekarno pernah berkata, Berikan aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia. Kalimat bung karno tersebut merupakan gambaran kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan. Bagi soekarno pemuda adalah corong dari sebuah perubahan karena kaum pemuda adalah yang kreatif, inovatif, energik, cerdas, dan berpikiran maju. Kita tentunya sudah menyaksikan bagaimana pernyataan bung karno terpatri dalam peristiwa sumpah pemuda merupakan tonggak yang penting bagi bangsa indonesia, seperti yang kita ketahui, tiga butir penting SUMPAH PEMUDA, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Tiga hal ini merupakan faktor penting bagi bangsa indonesia.
Proklamasi dan peristiwa Reformasi dimana kaum pemuda mampu berperan besar menggulingkan praktek penjajahan dari tanah air. Kedua peristiwa besar tersebut hendaknya menjadi refleksi bagi kaum pemuda. Kalau pemuda pada 1945 dan 1998 mampu mengakomodir segala kepentingan semua golongan untuk menciptakan persatuan. Mengapa kaum pemuda masa kini tidak bisa melakukan hal yang sama di tengah gejolak perpecahan yang kini sedang menerpa ibu pertiwi?
Ada beberapa kiat kontruktif yang bisa dilakukan pemuda guna melepaskan indonesia dari belenggu perpecahan ini. Pertama, melakukan aksi damai, turun ke jalan, dengan memekikkan pancasila sebagai system berbangsa dan bernegara menyatukan persepsi masyarakat. Gerakan ini diharapkan dapat menyadarkan sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa kita adalah bangsa yang berdiri diatas dasar nilai filosofi pancasila.
Mari tunjukkan semangat kebangsaan kaum pemuda dengan menjadi solusi di tengah masalah yang sedang dihadapi rakyat indonesia, bahwasanya rezim saat ini melakukan tindakan represif kepada rakyat indonesia dengan kebijakan yang tidak pro terhadap kepentingan rakyat.
Maka kami dari Bem Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) , Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI), serta Pemuda dan Pemudi Penegak Pancasila (PADIKAPAS), yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Indonesia menuntut :


TRITURA


SELAMATKAN MAHASISWA SEBAGAI ASET BANGSA DARI KEPENTINGAN ELIT POLITIK PRAKTIS

HENTIKAN TINDAKAN REPRESIFITAS PEMERINTAH TERHADAP RAKYAT INDONESIA

JADIKAN PANCASILA SEBAGAI SISTEM BERBANGSA DAN BERNEGARA

Pekan Jambore Kebangsaan Nasional mengundang Keperihatinan




Oleh ;

Rahmat Nuriyansah 



Di awal tahun 2000 an, saat bangsa ini baru saja mengalami proses transisi dan reformasi, untuk memasuki babak baru, yaitu kedewasaan kita dalam hal bernegara. Salah satunya adalah euphoria, sehingga demonstrasi menjadi salah satu cara yang paling populer untuk mengekspresikan diri, serentak merebak diseluruh tanah air. Dilakukan oleh para mahasiswa, organisasi massa, kelompok LSM, dan kelompok-kelompok lainnya. Apalagi hal ini dipicu dengan goyahnya pusat kekuasaan, sehingga presiden pun terancam di turunkan (impeachment).

Demontrasi yang awalnya terkendali dan elegan, bisa berubah menjadi kebringasan massa , saat disusupi oleh provokator. Lalu pengrusakan dan anarkisme menjadi berita keseharian. Apalagi saat bangsa ini seolah terbelah, antara pro dan kontra di sekitar sumbu-sumbu kekuasaan. Di media elektronik kekerasan itu ditampilkan, kadang teramat vulgar. Teriakan bunuh, hancurkan, darahnya halal, lalu tambah dengan pekikan Alahu akbar, seolah Tuhan meridhoi semua bentuk dan sajian kekerasan tadi.

Ada apa dengan bangsa ini? Semua serempak menjawab, kita semua sudah mengalami degradasi dalam hal rasa kebangsaan. Kita semua mengalami Krisis Kebangsaan, lupa bahwa kita semua bersaudara. Sehingga amat tak layak, ketika jaman reformasi yang dengan susah payah diusahakan bersama ini, justru harus di isi oleh perang saudara, yang siap meledak kapan saja. Ada benang merah antara demontrasi, anarkisme, penghancuran pihak lain dan  krisis kebangsaan.

Itulah kondisi yang terjadi, termasuk di Pekan Jambore Nasional Kebangsaan, yang baru saja dilaksanakan di Cipanas Kab. Cianjur. Berbagai macam kalangan aktivis berbondong-bondong hadir dengan penuh rasa percaya diri. Dari Sabang sampai Marauke. Naas, faktanya tidak sesuai dengan apa yang Pemuda harapkan. Target & sasarannya tidak pernah jelas. Hanya sekedar buang-buang Anggaran Rakyat. Saat menjadi tersendat dengan gelombang demontrasi yang nyaris tanpa henti. Harus ada solusinya, agar gonjang ganjing diluar sana, tidak harus ikut menggoyahkan suasana di tingkat lokal.

Saat itulah, ribuan aktivis seraya berdiskusi untuk mencari solusi. Ada 6000-/+ peserta yang tercatat di Pekan Jambore Kebangsaan Nasional. Kurang lebih sekitar 6 hari. Banyak ancaman baik secara vertikal maupun horizontal seperti demontrasi, ujung-ujungnya malah minta proyek agar mau diam dan tutup mulut. Acara tersebut dihadiri oleh Ketua MPR-RI, beberapa Menteri & Dosen.

Tidak ada transparansi & pengawasan yang dilakukan termasuk dalam mensinergitaskan mereka supaya bisa saling mengontrol dan tidak bertindak semaunya, apalagi jika ujungnya hanya minta bagian proyek, yang hasilnya hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. Hal ini bukan rahasia umum lagi. Ada banyak hal yang harus dikerjakan bersama, supaya kinerjanya bisa lebih efisien dan efektif serta transformasi keilmuannya dapat dipertanggung jawabkan.

Langkah kongkritnya, harus ada pertemuan akbar, yang dihadiri oleh seluruh organisasi yang terlibat. Semua harus bersepakat, bahwa situasi chaos didalam sana, tidak harus berdampak terlampau dalam. Untuk itu Gerakan Mahasiswa harus lebih cerdas dalam menyoal fakta khususnya dalam berbicara Bangsa & Negara supaya tidak lahir debit sekulerism yang tinggi.

Hari H, dilaksanakan sesuai schedule. Peserta sesak memenuhi ruangan, nampak beragam karena perbedaan atribut yang melekat. Moderator mempersilahkan Ketua MPR-RI untuk membuka Stadium Pertama materi sosialisasi 4 pilar MPR RI : Tantangan Nasionalisme Abad 21, disusul oleh menteri kewirausahaan oleh Menteri Perdagangan, Ketahanan Ekonomi Indonesia, Talk shaw anak muda tolak Radikalisme. Sampai saat ini baru 4 Materi forum tidak kondusif. Boro-boro fokus dengan materi yang disampaikan, proyek apa yang didapat! Hal ini mengundang keperihatinan bahwa sampai detik ini Pemuda terdistorsi & terdegradasi, padahal seyogyanya Pemuda adalah harapan Bangsa. Bagaimana mungkin Pemuda pemuda mau mensejahterakan Bangsa kalo watak imprealis itu melekat didalam otaknya dan menjadi sarang penyakit.

Dengan dinamika dan heterogenitas peserta, menjadi parameter mereka beberapa OKP. Sampai saat ini menjadi kondisi yang flat karena tak ada wajah yang sumeringah, kebingunan, karena terlalu thanks book-thingking bahkan sempat cek-cok diforum.

Demontrasi anarkis nyaris membelah negeri ini, sehingga kita semua dipertanyakan, apakah masih ada jiwa nasionalisme kebangsaan yang melekat dalam diri kita? Demontrasi habis-habisan, semua tenaga dan akal pikiran digunakan, melibatkan sema peserta jambore. Pekikan dan kegaduhan diforum mengambil jeda lagi, membiarkan peserta untuk membuat imajinasi dan menduga-duga.

Demontrasi itu adalah semua terlibat dalam sumbangsih ide-ide brilliat, gagasan sehingga mampu melahirkan suatu sikap. Supaya Pemuda mampu menjawab petkembangan zaman & mampu mensejahterakan Bangsa. Demontrasi yang jauh dari hawa nafsu untuk anarkis dan merusak, demontrasi yang jauh dari syahwat untuk membunuh dan menghancurkan, demontrasi yang bukan mencari pengaruh di sumbu sumbu kekuasaan.
Demontrasi ini, yang kami lakukan oleh kalangan masyarakat biasa biasa saja, justru untuk melanggengkan sang kehidupan, seraya tolong-menolong, tenggang rasa, membangun sebuah ketentraman dll. Demontrasi ini berbicara tentang semangat silaturahim. Sekian ribu peserta jambore gontok-gontokan diforum sementara Bangsa masih kebingungan besok akan makan apa. Tapi seharusnya berkumpul di tengah-tengah Pekan Jambore Kebangsaan Nasional yang menghabiskan anggaran Rakyat Milyaran rupiah, demi silaturahim berkumpul karena rahim, karena adanya kasih sayang diantara kita sesama manusia, karena kita semua Se-bangsa. Dan memecahkan persoalan Bangsa & Negara (Human Interisted).

Tak secuilpun mengalami krisis kebangsaan. Sebaliknya silahkan pertanyakan pada mereka dipusat pusat  kekuasaan atau kepada Pemateri yang bahkan siap membelah negeri, hanya agar mendapatkan sebuah kedukukan.

Sekarang, mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apakah semua yang hadir ini di ruangan ini, datang untuk silatulhoby? berkumpul hanya karena berhobi sama, kayak persatuan tukang mancing mania? Apakah silatulfikr, berkumpul semata karena menganut pola pikir yang sama? Apakah silatulilmi, berkumpul karena menguasai keilmuan yang sama? ataukah
Silatulrohmi, kita semua berkumpul karena perasaan sayang menyayangi, karena kita manusia, karena kita merasa Se-bangsa. Karena kita memiliki perasaan kebangsaan yang sama? Karena kita enggan dituduh mengalami krisis kebangsaan. Silahkan pilih?

Sebaliknya sinergistas antara eksekutif, legislatif dan aktivis, di moment Pekan Jambore Kebangsaan Nasional  jika didasari oleh semangat silaturahim, berkumpul semata karena rasa sayang. Supaya Bangsa tidak terus-menerus dijadikan korban oleh kepentingan elit global (Ekonomic Kapitalsm).

Sebuah momentum, ketika sebuah kelompok Pemuda diminta dan dipercaya untuk menjadi lem pelekat. Dalam masyarakat yang tadinya mendewakan perbedaan selaku syahwat. Padahal justru membuat kita semua, terlempar masuk kedalam ruang bersekat-sekat. Saat ini, keterpurukan fungsi dan pemeranan kita Pemuda  Indonesia menjadi hal nyata. Langkah langkah sistemik  pengkerdilan keberadaan Pemuda Indonesia bukan berita baru, termasuk usaha kriminilisasi

Mungkin Pemuda Indonesia harus melakukan re-positioning dan re-design, hal itu bisa saja terjadi. Seperti ucapan Mahatma Gandhi : Jika kamu mempunyai kebenaran, maka kebenaran itu harus ditambah dengan cinta. Jika tidak, pesan dan pembawaanya akan ditolak.

Cipanas, Thuesday 26 October 2017

Kamis, 19 Mei 2016

MANUSIA IKHSAN DI BUMI DENGAN MUSYAWARAH - MUFAKAT ATAU KESEPAKATAN DEMOKRASI

Bagaimana menunjuk dan atau melahirkan seorang Pemimpin yang berjiwa Kesatria, yang membangun Peradaban dan Tekhnologi di Dunia???




Manusia diciptakan di muka Bumi dalam perbedaan dimensi ruang ( Langit ) dan waktu, Warna kulit, Ras, Suku-suku, Agama, ribuan Bahasa dalam teritorial berbeda untuk Saling Mengenal dan Pandai berbicara ( Berilmu ) dengan Akal - Nafsu yang dimiliki Sebagaimana Hakekat nya manusia.


    Dan didalam menyelesaikan Suatu permasalahanpun, secara turun temurun Manusia diajarkan untuk Bermusyawarah dalam ribuan perbedaan pendapat untuk mendapatkan satu Mufakat membangun suatu Kebijakan oleh Pemimpin berdasarkan Hasil musyawarah tersebut.


 Sehingga apapun segala macam permasalahan nya untuk mendapatkan Mufakat, seorang Pemimpin yang terlahir didalam membuat Kebijakan apapun hanya berdasarkan hasil dari musyawarah-mufakat. Karena Pemimpin adalah seorang yang memimpin suatu Kaum, Ummat, Bangsa, Negara dan atau suatu Kelompok atas dasar Kemaslahatan ( Kesejahteraan ) Ummat didalam membangun suatu peradaban maupun Tekhnologi Orginal berdasarkan Budaya, Hukum, Sosial, Politik, Ekonomi maupun Lingkungan.


Makna nya bahwa pada saat Musyawarah - Mufakat dijalankan, Hakekat manusia sebagai seorang pemimpin yang Pandai berbicara ( Berilmu) secara bersamaan ( Alamiah ) terjadi, Dimana sikap Kepemimpinan ( Kemampuan ) di dalam Musyawarah - Mufakat terjadi kemampuan memiliki Kompetensi, Komunikatif, Kepedulian, Keberanian pada saat membuat suatu Kebijakan Kebijakan dari Permasalahan yang sudah di Mufakati sebagai bentuk Kreativitas ( Trust Sharing ) Musyawarah - Mufakat.




                                           MUSYAWARAH

                                                                   
Mengutamakan  Gotong Royong dengan dasar Kasih Sayang Kekeluargaan. Kepandaian mengungkapkan Pendapat atas dasar Ilmu, Tekhnik, Management sebagi Hak nya.

                                                                      ||

                                                         MUFAKAT

                                                                      ||

Membangun Kemampuan Kompetensi, Komunikatif, Kepedulian dan Keberanian untuk Kreativitas Kemaslahatan Ummat. Putusan Kebijakan yang di bangun dari Perbedaan Pendapat berdasarkan Kemaslahatan.

                                                                      ||                      

                                                     PEMIMPIN

                                                                      ||

Mandataris yang membawa Amanat Kebijakan Ummat yang sudah di Mufakati.






  Akan tetapi, ketika manusia di dalam menyelesaikan segala Permasalahan nya menggunakan Metode Demokrasi, bisa di pastikan yang namanya Perpecahan Kepentingan setiap Individu maupun Kelompok manusia tersebut sebagai dasar nya. Karena memang Metode Demokrasi terjadi di dalam menyelesaikan permasalahan pengambilan Kebijakan - kebijakan Putusan menggunakan dan atau mengedepankan Perdebatan Konflik ( Asumsi dan Hawa Nafsu ) yang di selesaikan dengan Kesepakatan ( Hak Suara / Dominasi Kekuasaan ) bersama berdasarkan Kepentingan Individu maupun Kelompok tertentu yang melahirkan Penguasa hasil Cipta Rekayasa Kesepakatan.




                                                         DEMOKRASI

                                        

Menggunakan Kekuatan Status dengan Kekuatan Modal untuk Mendapatkan Kekuatan Suara.
Mengedepankan maupun Menanamkan Intrik Kedengkian ( Hawa nafsu ) untuk Mendapatkan Kekuatan.

                                                                                ||

                                                              KESEPAKATAN

                                                                                ||

Merekayasa Kesepakatan Suara Terbanyak dan Membentuk Gabungan Kekuatan Kelompok untuk setiap Wilayah Kekuasaan

                                                                                ||

                                                              PENGUASA

                                                                               ||

Mandataris yang membawa Amanat Kebijakan Kepentingan Kekuatan Individu maupun Kelompok yang sudah di Sepakati.








Makna nya bahwa Pada saat Kesepakatan Berdemokrasi dijalankan, Hakekat manusia tercipta sebagai pemimpin yang Pandai berbicara ( Berilmu ) secara bersamaan ( Rekayasa ) terjadi, Dimana hanya Sikap Kekuasaaan ( Kemampuan Merekayasa) lah yang di utamakan di dalam menciptakan Kompetensi, Komunikatif, Kepedulian, maupun Keberanian membuat suatu Putusan Kebijakan dari Permasalahan tersebut hanyalah Bentuk Kesepakatan Rekayasa atas dasar Kepentingan Penguasa maupun Kelompok tertentu ( Power Sharing ) belaka. Tidak mengherankan jika Suatu kaum, Ummat dan atau Negri yang di Pimpin oleh Penguasa menggunakan metode Demokrasi selalu menimbulkan bermacam Bencana Alam maupun bermacam - macam Krisis Budaya, Hukum, Sosial, Politik, Ekonomi maupun Lingkungan yang mengancam Perpecahan besar - besaran, baik secara Cepat atau Lambat.