Senin, 27 November 2017

Kemana Mahasiswa?



Oleh : Riana Ayu Chandra (Nana Hachan)




Seperti menjadi sebuah kewajaran ketika saya mengajukan pertanyaan “Kemana Mahasiswa?” ketika saya tatap konstalasi Indonesia saat ini. Pertanyaan ini makin berkecamuk ketika pemikiran saya makin dibenturkan dengan keadaan Mahasiswa dahulu dan yang ada saat ini. 

   Yang sama-sama kita sepakati, dahulu Mahasiswa merupakan tulang punggung pergerakan melawan kedzoliman para penguasa. Yang kita lihat pula, Mahasiswa dulu merupakan barisan pertama yang mampu dengan gagah berani memperjuangkan suara-suara rakyat yang disakiti oleh para penguasa. Hingga mampu menurunkan sebuah rezim otoriter Soeharto pada Mei 1998. 

   Tapi kenyataan itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada saat ini. Begitu banyak perbedaan yang terdapat didalamnya. Dan berikut ini akan saya jabarkan apa saja yang jadi pembeda ;

1.     Kampus terkenal yang ada dulu hanya ada 2. DiNegeri ada UI (Universitas Indonesia). Dan diSwasta ada UKI (Universitas Kristen Indonesia). Masih sedikit pemuda yang saat itu menyandang status Mahasiswa. 

2.     Mahasiswa dahulu masih tinggal dibawah kekuasaan tirani yang masih mengekang kebebasan masyarakat. Wajar kalau dahulu Mahasiswa masih mau berjuang atas nama rakyat. Saat ini? Jangan tanya. Banyak Mahasiswa kini yang nyatanya menganggap bahwa negaranya sudah merdeka 100% tapi nyatanya, kita hanya terbebas dari belenggu Penjajah. Melalui Intelektual dan teknologi, kita masih dijajah habis-habisan. 

3.     Organisasi Mahasiswa yang ada dahulu benar-benar merekrut kader yang bisa memperjuangkan apa yang menjadi garis besar haluan organisasi. Tapi saat ini, Mahasiswa hanya menjadikan organisasi menjadi ajang ikut-ikutan. 

4.     Sistem pendidikan awal yang juga berpengaruh dalam hal ini. Banyak Mahasiswa dulu yang paham benar akan apa itu Pancasila, bagaimana cara mempertahankan kesatuan bangsa dan negara, serta cara bermusyawarah. Karena Pancasila masih dimasukkan dalam sistem pendidikan nasional. Bahkan pada tehun 1964 diterapkan sebuah kurikulum yang pook bahasannya ialah Manusia Merdeka Berjiwa Pancasila. Tidak seperti adanya kami saat ini yang justru Pancasila yang menjadi pokok pelajaran terpenting mengenai negara kita malah dihapuskan. 

5.     Mental yang ada pada Mahasiswa dahulu jauh lebih berani daripada yang ada saat ini. Hal ini dikarenakan Mahasiwa dahulu masih hidup dibawah garis kungkungan para penguasa. Tidak seperti kita saat ini, yang hidup dengan kondisi yang sudah terbebas dari kungkungan tapi jutru kita terlena. 



  Entah mengapa, keadaan ini menjadi sebuah ironi dimana Mahasiswa justru malah tak peduli terhadap lingkungannya. Seolah kata pepatah yang menyatakan “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” hanya menjadi sebuah isapan jempol yang tak berarti. 

  Jangankan untuk ikut mengangkat toa, membentangkan spanduk dan menyebarkan agitasi untuk memperjuangkan rakyat. Hanya sekedar mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi saja banyak Mahasiswa hanya menjalankan 2 point pertama saja. 

Padahal Tri Dharma tidak akan menjadi Tri Dharma jika salah satunya saja tidak dijalankan. Sedangkan sifat yang terkandung didalamnya memiliki sifat yang kolektif – kolegial. Saling melengkapi dan saling menutupi.  

Karena nyatanya pendidikan yang dijalankan selama bertahun-tahun tidak akan ada artinya tanpa adanya penelitian. Penelitian yang dijalankanpun, hanya akan dianggap omong kosong ketika lakukan tanpa disertai pendidikan. Serta, pendidikan yang disertai penelitian tanpa diabdikan untuk masyarakat hanya akan menemui jalan buntu. 


Sekalinya ada yang menjalankannya hanya dilakukan pada semester akhir yang ditujukan untuk sebuah skripsi demi kelulusan. 

 Kemana Mahasiswa ketika konstalasi Indonesia dianggap darurat kepemimpinan? Kemana Mahasiswa ketika Indonesia dinyatakan darurat korupsi? Akankah Mahasiswa hanya diam saja ketika Indonesia terombang – ambing dalam keterpurukan? 

  Hanya ada satu pernyataan yang sebenarnya harus diucapkan ketika hal ini terjadi “LAWAN”. Tapi sayang, sungguh sayang. Mahasiswa yang ada kini hanya tertidur pulas dalam buaian nina bobo para penguasa. Demikianlah sebuah artikel sederhana yang berusaha saya buat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar