Jumat, 27 April 2018

Global Quotient The Movement Is Processed Energy Our Reasoning



  Berbicara pada tahun 2000 an, cukup menarik terntunya yang dimana ketika tengah marak kursus dan pelatihan mental-emosional yang dekat dengan wilayah spiritual. Pada saat yang nyaris sama, lahirlah pula sekian banyak perguruan pernafasan dan tenaga dalam, dengan banyak guru-guru besarnya yang konon sudah mirip setengah dewa. Apapun lah. Namun bukan itu inti masalahnya. Pelatihan yang wah, kadang tersaji dihotel mewah, ratusan orang terperangah ketika gambar hidup terpampang dilayar lebar. Ribuan watt sound sistem menggelegar di kuping pendengar. Lalu diakhir sesi mereka mulai tersedu dalam tangis yang tertelan perlahan muncul ke insafan, walau katanya hanya bertahan hanya beberapa bulan yaaah cukup lumayan lumayan tentunya.
  Sebuah sistem evaluasi diri, tentu selalu baik. Mengingatkan kita pada apa, siapa, darimana, sedang apa dan hendak kemana kita kelak. Sederet pertanyaan eksistensialis yang secara fitrah selalu terngiang dalam rongga rongga pendengaran manusia. Kita haus dengan semua jawaban jawaban itu. Layaknya orang dahaga ditengah gurun sahara, merindukan setetes air agar sang hidup tetap menyala. Agar saat kematian menjemput, jawaban itu telah tersedia, untuk kita bawa kealam sana. Tetapi ketika segala macam pelatihan sudah mulai membawa bawa ranah kesadaran, lengkap dengan pusat-pusat kecerdasannya, alias Quotient, mulai ada sesuatu yang mengganjal dalam akal logika. Apalagi waktu dibawa keranah yang paling substansial, saya mulai tak lagi paham.
  What is that consciousness? Jika pendekatan yang digunakan model Sigmund Freud yang ahli psikoanalis, maka jelas jelas saya sudah gagal paham. Freud menggambarkan ruang kesadaran, layaknya ruang kelas, sebuah ruang Newton. Akibat pengaruh teori sosial darwinism yang melihat alam semesta ini layaknya mesin filter besar. Hanya yang kuat saja yang akan lolos (survival of the fittest). Dalam ruangan tadi terdapat 3 entitas pokok dengan masing-masing wilayah kekuasaannya. Aspek Ego (akal) berada ditengah, tertarik dan terjepit oleh 2 aspek lainnya yaitu Id (nafsu) dan superego (sang nurani). Ego kadang tertarik secara mekanis ke arah Id, kadang tersedot kearah superego.
  Paling parah tentunya adalah ketika ruang kesadaran bisa dibagi dalam prosentase. Jika kamar ego ingin besar (akal, pintar), maka ruang Id (nafsu) dan superego (spiritual, intuitif, nurani ) dikecilkan, karena ketiganya tidak boleh melebihi angka 100%. Seorang ilmuwan, ego akalnya 90%, nafsunya 10%, dan intuisinya (yang tidak objektif ilmiah itu) di nol kan saja. Sebaliknya seorang ulama besar, pendeta agung, wilayah super-egonya 90%, akalnya cukup 5% dan nafsunya bahkan ditekan habis menuju nol prosen. Ketika masuk ke wilayah kesadaran dan kecerdasannya, hal yang sama terjadi. Semua jenis kesadaran layaknya kamar-kamar terpisah, tertutup dan terisolasi antara satu dengan yang lainnya. Seolah mereka tak saling berhubungan yang lebih lucu lagi, tak saling membutuhkan. Who is that?
  Jika anda ingin sukses dunia dan akhirat, cukup Emotion Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) saja. Lalu sang intelektual Quotient (IQ) dikemanakan? Kurang penting - penting amat orang harus pintar (IQ), yang penting harus baik (EQ) dan soleh (SQ). Benar benar mengadopsi gaya Sigmund Freud. Karena pendekatannya ruang newton alias ruang materi, yang mirip kamar-kamar terpisah, maka dua hal yang pasti adalah, diperbolehkannya unsur Politis dan klaim. Sorry ulama, enggan untuk percaya? lihat kamar SQ ku 97%. Punten seorang ilmuwan tidak yakin? otak ber IQ 160. Dan disana sang Rahwana ngakak .. hua hua hua … akulah si raja begal, pengedar obat bius, mucikari PSK, karena kamar id (nafsu) ku 95% Semuanya dengan bangga menyatakan klaim. Membuat para penonton disekitar menjadi kaum yang hanya mampu terdiam dan tersipu.
  Even though, seyogyanya hukum fitrah sudah berbicara. Hanya ada 2 bentuk dari keberadaan di alam semesta ini yakni berupa materi, dan berupa bentuk energi, sedang wadahnya kita sebut dengan ruang-waktu / space-time continuum. Mata untuk melihat jelas-jelas materi, namun kesadaran penglihatan, mestinya bukan dalam bentuk granular materi. Demikian halnya dengan kesadaran pendengaran, bahkan perasaan hati dalaman, semuanya bukan materi. Sehingga satu-satunya opsi, maka kesadaran mestilah dalam bentuk energy. Ada banyak bentuk materi, mulai dari liquid, solid, gas, plasma bahkan yang paling aneh dalam bentuk super-fluidal.
  Demikian pula energi, formatnya juga beragam, mulai dari kalori, kinetik, potensial, bio energy sampai psiko-energi. Kesadaran adalah energi psikis, sebuah proses-mental dalam tatanan yang paling kecil layaknya dalam sebuah sel. Karena bentuknya energi, maka apapun ujudnya, satu hal yang pasti, dia harus mengikuti hukum hukum yang sesuai dengan energi itu sendiri. Hukum hukum ini mestilah sangat berbeda dengan hukum di dunia materi. Salah satu yang paling nyata adalah ketidak-mungkinannya untuk di klaim.
  Jika dalam wilayah materi, dengan mudah saya katakan ini “pulpen saya karena faktanya pulpen berada ditangan saya saat itu” dan tak seorangpun memegangnya kecuali saya pribadi. Tapi coba katakana ini ide saya ! belum tentu orang mengangguk, karena mungkin saja ada orang lain ditempat itu, atau dibelahan dunia lain, yang juga mempunyai gagasan yang sama (kolektif). Bentuk pengejawantahan ini salah satu sifat energy yang tak pernah menetap. Dia selalu akan mengalir dengan dinamis, dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Jika disumbat dia akan menekan (overdrive), akibatnya bisa terjadi defisit pada saluran sesudahnya. Layaknya membayangkan sungai dari pegunungan, mengalir menuju laut. Sepanjang jalan kadang saluran menyempit menimbulkan arus deras. Kadang menggenang terhalang oleh dan alami maupun buatan. Kadang harus menguap habis menjadi awan diperjalanan. Sifat dari psiko-energi alias aliran kesadaran juga mengalir. Tidak mungkin ada ruang kamar kesadaran yang terpisah dan terkucil. Semua kamar itu mempunyai pintu yang terbuka, mereka saling terhubung antara satu dengan yang lainnya. Mengalir dalam aturan kronologis dan hierarkis, dari sebuah tingkat kesadaran pada tingkat kesadaran lainnya yang lebih tinggi. Pada setiap ranah kesadaran, mereka membentuk persepsi atas setiap realitas dalam bentuk gelombang energi. Dimana ujung dari seluruh persepsi itu adalah berupa hikmah pembelajaran kognitif atas setiap realitas yang dihadapi, ketika sang eksisten berhadapan dan terjun dalam sebuah pengalaman realitas.
  Sorry , when i fail to understand. Saat IQ di nafikan dan untuk menjadi sukses, cukup hanya dengan Emotion dan Spiritual Quotient ( ESQ) saja. Secara nalar, bagaimana kita memahami Sang Maha Akal (SQ) jika akal logikanya (IQ) nya jongkok. Bagaimana menumbuhkan sebuah hikmah pemahaman (SQ), tanpa melalui proses pengertian hukum-hukum logika (IQ) terlebih dahulu. Padahal pula tak kurang dari 46 kali kata akal tertulis dalam kitab suci. Padahal tak kurang pula bahwa tolabul ilmi itu merupakan hal yang wajib. Kemudian dalam sebulan, konsep GQ disusun dalam sebuah buku cercerita tentang aliran energi-kesadaran, yang seraya membangun ranah tingkat kesadaran beserta dengan pusat pusat kecerdasannya. Dari kesadaran yang paling bawah, dimana manusia ditakdirkan untuk dilahirkan selaku mahluk eksistensialis. Mengawali keberadaan dengan kesadaran tentang keberadaannya terlebih dahulu, lalu bergerak secara transenden mencari sang esensi diri, yang menjadi jati diri. Membentuk the Integrated Quotient merupakan sebuah kecerdasan yang menyeluruh.
Mengalir dari tingkat terendah ke arah muaranya, melalui ranah-ranah kesadarannya;
a. Kecerdasan inderawi ( Physical Quotient )
b. Kecerdasan emosi ( Emotion Quotient )
c. Kecerdasan Intelektual ( Intelectual Quotient.
d. Kecerdasan Sosial ( Social Quotient )
e. Kecerdasan Profesional ( Profesional Quotient )
f. Kecerdasan mencari gagasan ( Inspirational Quotient )
g. Kecerdasan Spiritual ( Spiritual Quotient )
  Dari perbincangan minggu lalu dengan beberapa elemen aktivis di Bandung ada beberapa hal yang perlu kita sadari bersama bahwa sakit adalah sebuah gejala adanya blocking dalam aliran kesadaran. Sakit adalah petunjuk dimana ranah kesadaran yang harus segera dibetulkan. Sakit adalah sebuah penanda, bahwa kita sudah keluar dari fitrah sang semesta. Tidaklah salah untuk berbuat salah jika itu mengajari kita, untuk menjadi tahu mana yang benar. Berbuatlah yang benar sehingga maklum mana yang salah karena yang sebenar benarnya salah adalah saat kita tak berbuat apapun juga. Dan manusia, adalah mahluk sempurna mahluk kognitif, yang selalu belajar dari setiap pengalaman realitas saat menjalani hidup dan kehidupan karenanya Setiap langkah kemarin adalah misteri, tentu hari itu juga merupakan sejarah yang kokoh tuk dijiwai dan hari ini adalah anugerah yang tiada tertandingi.

Senin, 23 April 2018

Anak Indonesia Dilarang Untuk Bermimpi



Sebelumnya maaf apabila terdapat banyak kesalahan dan coretan hitam dalam tulisan perdana saya ini. Sebab saya memang masih belajar untuk menulis artikel seperti ini.

  Seperti sebuah hadiah buruk bagi anak Indonesia ketika pemerintah, khususnya Presiden Republik Indonesia mengeluarkan sebuah kebijakan tentang mempermudah Tenaga Kerja Asing untuk bekerja di Indonesia. Bagaimana tidak, coba anda bayangkan berapa banyak kelak anak bangsa yang justru jadi pengangguran.

  Saya Masih ingat benar betapa Pak Jokowi berjanji didepan seluruh masyarakat Indonesia melalui televisi. Beliau dengan lantang akan membuka 10.000 (sepuluh ribu) lapangan pekerjaan. Saya harap, bukan hanya diri saya semata yang mengingat hal tersebut. Tapi seiring berjalannya waktu, kenyataan yang kita temui hanyalah sebuah ilusi besar.

  Ya… Dengan statement tersebut nyatanya pak Presiden lebih mempercayai tanah airnya untuk dikelola pada pihak asing. Padahal apa salahnya memberikan sedikit kepercayaan pada anak Indonesia sendiri untuk mengelola tahan air ini?

  Entah, mungkin saja saat ini pak Presiden yang terhormat itu tengah berpikir bahwa sanya pendidikan anak Indonesia masih jauh dibawah rata-rata. Bagaimana tidak, coba anda lihat. Kebijakan Pemerintah untuk menggratiskan sekolah bagi anak Indonesia masih sebatas Sekolah Menengah Pertama. Coba anda lihat Negara lain yang justru telah menjamin pendidikan anak-anak dinegaranya sudah sampai tingkat Perguruan Tinggi.

  Belum lagi, perjuangan kami sebagai anak Indonesia jauh lebih berat. UNBK atau Ujian Nasional Berbasis Komputer nyatanya justru memberatkan kami. Tidak semua sekolah Negeri maupun Swasta di Indonesia memiliki labolatorium computer yang memadai. Imbasnya? Kami yang terkadang diminta untuk membeli laptop sendiri. Sedangkan untuk makan dan kebutuhan sekolah kami sehari-hari pun, Orangtua kami masih kesusahan.

  Lantas kini saya pertanyakan, seandainya kami besar nanti, harus menjadi apa? Apakah harus, nasib kami tetap seperti ini? Sedangkan di Negara ini pun, para asing dan aseng itu tengah menikmati dengan sepuas hati hasil kekayaan bumi Pertiwi yang saya sendiri jamin tidak pernah habis isi nya meski yang kita tahu, sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu diserap dan dihabiskan oleh sebuah perusahaan asing bernama “Freeport”.

  Innalillahi saya ucapkan ketika Presiden Negara ini sudah tak mampu mendengar lagi jerit tangis anak Bangsa yang merasa terdzolimi berkat kebijakan yang dikeluarkannya. Sebab, tugas Presiden tidak hanya menjadi perwakilan Negara saja dalam ranah Internasional. Tapi juga sebagai simbol dari maju atau mundurnya Negara.

  Saat ini, kasihan anak Bangsa yang memang tidak bisa atau bahkan dilarang untuk bermimpi. Biar bagaimana pun, bermimpi merupakan hak setiap orang. Kalau sekarang lihat nyatanya, gak semua anak bangsa bisa bermimpi. Hanya orang2 berduit lah yg berhak mendapatkan hal tersebut. Bukankah "mencerdaskan kehidupan bangsa" sudah jelas tertuang dalam amanat preambul UUD '45? Mengapa bisa demikian? Sebab demokrasi masih berjalan bebas dinegara ini. Hingga akhirnya cita2 akhir dari negara ini, "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" gak bisa dicapai.


Sedikit kisah dari tanah tandus Kabupaten Bekasi


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh…

Sebelumnya, ijinkan saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya, Tsari Marwah. Panggil saja saya Tsari. Saya lahir dan besar di Kabupaten Bekasi. Tepatnya diperkampungan kumuh yang dipenuhi dengan sampah atau limbah industri dan rumah dari Perumahan.

 Bapak hanya seorang buruh biasa yang setiap harinya bekerja sebagai buruh bangunan harian. Sedangkan ibu, hanya ibu rumah tangga biasa. Saya anak ke dua dari tiga bersaudara, saat ini saya duduk dibangku kelas 2 SMP disalah satu sekolah swasta Kabupaten Bekasi.

Keseharian saya selain bersekolah ialah membantu Ibu dirumah, selebihnya membantu kak Nana, salah satu mentor yang banyak mengajari saya mengenai Pancasila di Taman Belajar Masyarakat (TBM) Rumah Kita setiap hari Sabtu dan Minggu.


  Demikian artikel dan lembaran perkenalan dari saya ini. Semoga mampu mewakili suara anak Indonesia lainnya yang belum mampu terdengar oleh para penguasa. Sekurang dan selebihnya saya ucapkan maaf dan terimakasih.


Cikarang, 25 Maret 2018
Tsari Marwah

Pelajar SMP 04 Baiturrahman Cikarang Utara

Senin, 02 April 2018

The Last Man of Mountain The Light That Never Fails




 Oleh:
Rahmat Nuriyansah
(MKPN-Pancasila Center-MMI-PMII)

  Bermula pada kisah pendakian, ratapan sang saka Merah Putih di bawah teriknya matahari warna langit yang membiru dan cerah. Antara ada dan tiada berbanding lurus dalam dimensi ruang & waktu. Konsep diri dalam membangun dan menata suatu tatanan peradaban sulit dipisahkan antara dead or a life dibawah holistikal Bumi.

  Bahasa dalam sebuah ketiadaan, Rist Taker adalah kelompok orang dengan kepribadian mencari tantangan, disisi lain mampu memprakarsai jiawanya seperti target yang harus dicapai. Mereka ini adalah golongan risk-taker yang berani mengambil resiko, kadang dengan pertaruhan tak masuk akal. Sekalipun tampak serabutan, tapi sikap berani bertanggung-jawab atas beban target yang harus dicapai, akan dilaksanakan sebaik-baiknya.

  Hujan, angin kencang, kabut tebal itulah resiko yang harus dihadapi oleh seorang risk-taker. Mencari kayu bakar seperti rutinitas saat didalam dunia pendakian karena itu bukan sebuah pilihan tetapi itulah suatu hal yang harus dikerjakan. Saat waktu itu tiba disitulah adzan harus dikumandangkan untuk menghadap kepada Sang Maha Dzat. Berdzikir, bertasbi dengan penuh rasa kemerdekaan. Disitulah Gunung menjadi tempat Sang Maha Dzat menampakan diri kepada Nabi Musa. Gunung menjadi tempat Sang Maha Dzat dalam memperlihatkan kebesarannya dan menyadarkan Nabi Musa AS untuk bertaubat.

  “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (QS: Al-A'raf Ayat: 143).

  Dan layaknya risk-taker pada umumnya berjiwa besar dengan penuh ketauladanan. Semua berusaha menghindari kata “normal”, yang kebalikannya dengan kata “abnormal” karena kelak bisa dimunculkan kriteria kenormalan, yang sesungguhnya relatif atau tidak mutlak. Mungkin kata “karakter” lebih tepat, atau sebuah pola umum yang tidak pernah lepas dari nilai baik-buruk, benar-salah.

  Blue print, para pengelana di rimba, para petualang ditengah belantara adalah Risk-Taker. Bukan hanya sekarang, tapi warisan dari para pendahulunya. Seorang Norman Edwin dan Didiek Syamsu, mengantar teamnya yang kena hipotermia dan frostbite di Aconcagua Argentina, ke Rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun seminggu recovery di RS, Norman dan Didiek kembali mendaki Aconcagua, semata karena tugas dan tanggung jawabnya untuk mengibarkan sang dwiwarna di puncak tertinggi benua Amerika Selatan. Walaupun untuk itu, akhirnya kedua sekawan dari Mapala UI itu, harus kembali ke Indonesia dalam kantung mayat. Risk-Taker sejati, yang mempunyai karakter serta berani mengambil resiko .

  Di jalan pendakian yang begitu sangat alami resiko serta pilihan begitu banyak. Dalam setiap pemanjatan jenis batuan menjadi pusat perhatian. Setiap rekahan batu diperhitungkan, setiap alat dicocokan dengan keadaan. Pemasangan rangkaian runner tak boleh zig-zag. Jarak runner harus memperhitungkan fall-factor. Intinya pemanjatan dinding alami Semeru, Gunung Slamet, Gunung Ciremai dinding serta barat Gunung Rinjani, Yelowstone, North Face Eiger, Meru, dll. lebih menantang bagi para Risk-Taker, dimana daya tahan, daya survivabilitas, daya kreatif, antusiasme akan dipacu sampai pada batas limitnya.

  Demikian pula Indonesia dalam bentangan luas Garis Katulistiwa. Peribadatan itu nampak begitu holistik saat perenungan menjadi dunia yang begitu sakral. Lalu keanehan itu muncul , layaknya sebuah anomali yang terjadi. Bahwa Sang Risk-Taker yang konon sulit diatur, dan susah dikendalikan. Padahal tak ada yang menyuruh dan mengatur, tak ada yg memberi komando, mengancam dengan sangsi, atau mengiming-imingi reward tapi untuk satu hal itu, semua sepakat, sifat Risk-Taker akan disimpan dulu disaku. Momentum itu terjadi yang diangguki secara kolektif itu, adalah isi dari secarik kertas, berjudul.

  Sebuah code of conduct. Padahal jika bicara masalah konten dari code of conduct, semuanya masih bisa saja debatable, bisa saja pro dan kontra. Namun yang diangguki dan dihormati bersama, bukan dalam kontennya, terlebih dalam konteksnya, yaitu arti dan nilai-nilai sebuah “kesepakatan bersama”. Menghargai dan konsisten pada kesepakatan bersama, adalah sikap utama dari watak seorang ksatria. Sebaliknya menjilat ludah sendiri, seraya berkhianat pada komitmen awal, adalah pelanggaran terbesar, yang tak akan mendapat tempat.

  Hanya sebuah pola kesepakatan bersama yang akan berlaku bagi sang Risk-Taker. Iming-iming kedudukan, kekuasaan, atau sebaliknya berupa tekanan dan ancaman, bakal dianggap sepi. Diseluruh pelosok negeri sudah membuktikan hal itu dengan terang benderang. Seberapa banyak ditekan, dituduh, dihakimi, dibekukan, dibubarkan, dipenjarakan, tak ada dukungan anggaran, di bully netizen, tetap saja Risk-Taker maju & berkembang tanpa mampu sebuah rezim penguasapun menahannya.

  Sampai saat ini keadaan semakin kompleks, persoalan di masayarakat sedemikian berkembang, tentu dibutuhkan keberanian dalam membangun usaha terpadu dari Risk-Taker yang digadang-gadang sebagai garda terakhir Bangsa ini. Dibutuhkan usaha yang berkaliber untuk kembali membangun “kesepakatan bersama”, sebagai satu satunya cara menyatukan suara dari pelosok negeri.
  Tentu semestinya kesepakatan berangkat dari area lokal, yang mengerucut menuju wilayah nasional. Sebuah konsep dari kesepakatan di forum lokal menuju kesepakatan di forum nasional, sebuah pendekatan bottom up. Dimana jika di lokal saja sudah tak mampu bersepakat, jangan harap diarea yang lebih luas lagi.

  Sangat berbeda pendekatan komando yang bersifat top-down, entah karena politik, uang atau kekuasaan percuma saja. Kecuali hanya akan menimbulkan resistensi bersama. Juga merasa diri paling besar, paling berpengalaman, paling hebat, paling kaya, dan paling paling lainnya, tak bakal didengar. Karena semua pegiat literasi maka sudah tahu persis, bahwa di alam sana tak ada seorangpun yang bisa menundukan hukum ketidak pastian. Tidak George Mallory dan Irvine, Kapten Scott, Amundsen, bahkan Jimmy Chin, Renan Osturk, dan si kapten Conrad Anker.

  Dengan cara inilah maka Sang Risk-Taker siap untuk kembali membangun Kesepakatan bersama (seyogyanya musyawarah). Untuk Kemerdekaan Bangsa Indonesia secara luas, Membela Martabat Bangsa Indonesia, Menjaga Kehormatan suatu Bangsa Indonesia serta Berdaulatnya Bangsa Indonesia.
Jakarta, 2 April 2018