Senin, 30 Oktober 2017

Menuju kebangkitan pribumi 20 Mei 2018




Oleh ;
Zikri Ahmad Fuadi

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Struktur Bangunan NKRI adalah Bangsa Indonesia sebagai pondasi dan Negara sebagai bangunan diatasnya...
Bangsa Indonesia yang terlahir pada 28 Oktober 1928, Merdeka 17 Agustus 1945 dan membentuk negara pada 18 Agustus 1945 merupakan Lintasan Kebenaran Sejarah Bangsa Indonesia yang menjadi pijakan bagaimana kita membangun Indonesia kedepan...
28 - 29 Oktober 2017 Kopdar Saudagar Nusantara di gelar diisi dengan aktivitas pemberdayaan kepada kurang lebih 7000 peserta yang hadir yang menghantarkan terjadinya sebuah peristiwa penting untuk negeri yakni Sumpah Saudagar Nusantara...
Adapun sumpah saudagar nusantara sebagai berikut...
SUMPAH SAUDAGAR NUSANTARA
Bismillahirrahmanirrahim
1. Kami saudagar Nusantara memutuskan untuk menjadi pribadi yang berdaya, dari mulai alam rasa, alam fikir, hingga alam tindak kami semua.
2. Kami saudagar Nusantara berjanji untuk menghadirkan keluarga dan rumah tangga yang berdaya, kami akan hadirkan rumah tangga rumah tangga yang kokoh, rumah tangga yang kuat, dimana anak anak akan tumbuh menjadi kuat, generasi menjadi kuat, dan tempat yang terbaik untuk mengambil energi cinta.
3. Kami saudagar Nusantara bertekat untuk membangun organisasi bisnis, membangun kekuatan produk, menghadirkan daya saing, memutuskan berjuang dan melawan, dan menolak kalah menolak menyerah.
4. Kami Saudagar Nusantara berjanji untuk mewakafkan diri kami semua, mewakafkan diri kami semua, mewakafkan diri kami semua, untuk aktifitas pemberdayaan di muka bumi nusantara, akan kami bangun forum forum pemberdayaan, akan kami isi forum forum pemberdayaan, dan tidak ada pilihan kecuali Berdaya di negeri sendiri.
5. Kami saudagar nusantara bertekat serius untuk, membangun negara indonesia, mencintai Indonesia, dan tidak akan istirahat, kecuali Indonesia mampu berdaya.
Sumpah saudagar Nusantara
29 Oktober 2017
BERDAYA DI NEGERI SENDIRI.
Membedah isi sumpah tersebut point 1 sampai point 4 bicara wilayah bangsa. point 5 bicara wilayah negara...
artinya sumpah saudagar tersebut telah menguatkan struktur NKRI, dimana bangsa sebagai pondasi dan negara sebagai bangunan diatasnya.
Fajar mulai menyingsing. Sambutlah fajar itu dengan kesadaran, dan kamu akan segera melihat matahari terbit.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Peran Pemuda Di Tengah Perpecahan



Sebagai agen perubahan, para kaum pemuda harus mampu mengubah kegaduhan yang terjadi menjadi sebuah kedalaman sesuai dengan identitas bangsa ini, persatuan.
Soekarno pernah berkata, Berikan aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia. Kalimat bung karno tersebut merupakan gambaran kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan. Bagi soekarno pemuda adalah corong dari sebuah perubahan karena kaum pemuda adalah yang kreatif, inovatif, energik, cerdas, dan berpikiran maju. Kita tentunya sudah menyaksikan bagaimana pernyataan bung karno terpatri dalam peristiwa sumpah pemuda merupakan tonggak yang penting bagi bangsa indonesia, seperti yang kita ketahui, tiga butir penting SUMPAH PEMUDA, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Tiga hal ini merupakan faktor penting bagi bangsa indonesia.
Proklamasi dan peristiwa Reformasi dimana kaum pemuda mampu berperan besar menggulingkan praktek penjajahan dari tanah air. Kedua peristiwa besar tersebut hendaknya menjadi refleksi bagi kaum pemuda. Kalau pemuda pada 1945 dan 1998 mampu mengakomodir segala kepentingan semua golongan untuk menciptakan persatuan. Mengapa kaum pemuda masa kini tidak bisa melakukan hal yang sama di tengah gejolak perpecahan yang kini sedang menerpa ibu pertiwi?
Ada beberapa kiat kontruktif yang bisa dilakukan pemuda guna melepaskan indonesia dari belenggu perpecahan ini. Pertama, melakukan aksi damai, turun ke jalan, dengan memekikkan pancasila sebagai system berbangsa dan bernegara menyatukan persepsi masyarakat. Gerakan ini diharapkan dapat menyadarkan sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa kita adalah bangsa yang berdiri diatas dasar nilai filosofi pancasila.
Mari tunjukkan semangat kebangsaan kaum pemuda dengan menjadi solusi di tengah masalah yang sedang dihadapi rakyat indonesia, bahwasanya rezim saat ini melakukan tindakan represif kepada rakyat indonesia dengan kebijakan yang tidak pro terhadap kepentingan rakyat.
Maka kami dari Bem Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) , Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI), serta Pemuda dan Pemudi Penegak Pancasila (PADIKAPAS), yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Indonesia menuntut :


TRITURA


SELAMATKAN MAHASISWA SEBAGAI ASET BANGSA DARI KEPENTINGAN ELIT POLITIK PRAKTIS

HENTIKAN TINDAKAN REPRESIFITAS PEMERINTAH TERHADAP RAKYAT INDONESIA

JADIKAN PANCASILA SEBAGAI SISTEM BERBANGSA DAN BERNEGARA

Pekan Jambore Kebangsaan Nasional mengundang Keperihatinan




Oleh ;

Rahmat Nuriyansah 



Di awal tahun 2000 an, saat bangsa ini baru saja mengalami proses transisi dan reformasi, untuk memasuki babak baru, yaitu kedewasaan kita dalam hal bernegara. Salah satunya adalah euphoria, sehingga demonstrasi menjadi salah satu cara yang paling populer untuk mengekspresikan diri, serentak merebak diseluruh tanah air. Dilakukan oleh para mahasiswa, organisasi massa, kelompok LSM, dan kelompok-kelompok lainnya. Apalagi hal ini dipicu dengan goyahnya pusat kekuasaan, sehingga presiden pun terancam di turunkan (impeachment).

Demontrasi yang awalnya terkendali dan elegan, bisa berubah menjadi kebringasan massa , saat disusupi oleh provokator. Lalu pengrusakan dan anarkisme menjadi berita keseharian. Apalagi saat bangsa ini seolah terbelah, antara pro dan kontra di sekitar sumbu-sumbu kekuasaan. Di media elektronik kekerasan itu ditampilkan, kadang teramat vulgar. Teriakan bunuh, hancurkan, darahnya halal, lalu tambah dengan pekikan Alahu akbar, seolah Tuhan meridhoi semua bentuk dan sajian kekerasan tadi.

Ada apa dengan bangsa ini? Semua serempak menjawab, kita semua sudah mengalami degradasi dalam hal rasa kebangsaan. Kita semua mengalami Krisis Kebangsaan, lupa bahwa kita semua bersaudara. Sehingga amat tak layak, ketika jaman reformasi yang dengan susah payah diusahakan bersama ini, justru harus di isi oleh perang saudara, yang siap meledak kapan saja. Ada benang merah antara demontrasi, anarkisme, penghancuran pihak lain dan  krisis kebangsaan.

Itulah kondisi yang terjadi, termasuk di Pekan Jambore Nasional Kebangsaan, yang baru saja dilaksanakan di Cipanas Kab. Cianjur. Berbagai macam kalangan aktivis berbondong-bondong hadir dengan penuh rasa percaya diri. Dari Sabang sampai Marauke. Naas, faktanya tidak sesuai dengan apa yang Pemuda harapkan. Target & sasarannya tidak pernah jelas. Hanya sekedar buang-buang Anggaran Rakyat. Saat menjadi tersendat dengan gelombang demontrasi yang nyaris tanpa henti. Harus ada solusinya, agar gonjang ganjing diluar sana, tidak harus ikut menggoyahkan suasana di tingkat lokal.

Saat itulah, ribuan aktivis seraya berdiskusi untuk mencari solusi. Ada 6000-/+ peserta yang tercatat di Pekan Jambore Kebangsaan Nasional. Kurang lebih sekitar 6 hari. Banyak ancaman baik secara vertikal maupun horizontal seperti demontrasi, ujung-ujungnya malah minta proyek agar mau diam dan tutup mulut. Acara tersebut dihadiri oleh Ketua MPR-RI, beberapa Menteri & Dosen.

Tidak ada transparansi & pengawasan yang dilakukan termasuk dalam mensinergitaskan mereka supaya bisa saling mengontrol dan tidak bertindak semaunya, apalagi jika ujungnya hanya minta bagian proyek, yang hasilnya hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. Hal ini bukan rahasia umum lagi. Ada banyak hal yang harus dikerjakan bersama, supaya kinerjanya bisa lebih efisien dan efektif serta transformasi keilmuannya dapat dipertanggung jawabkan.

Langkah kongkritnya, harus ada pertemuan akbar, yang dihadiri oleh seluruh organisasi yang terlibat. Semua harus bersepakat, bahwa situasi chaos didalam sana, tidak harus berdampak terlampau dalam. Untuk itu Gerakan Mahasiswa harus lebih cerdas dalam menyoal fakta khususnya dalam berbicara Bangsa & Negara supaya tidak lahir debit sekulerism yang tinggi.

Hari H, dilaksanakan sesuai schedule. Peserta sesak memenuhi ruangan, nampak beragam karena perbedaan atribut yang melekat. Moderator mempersilahkan Ketua MPR-RI untuk membuka Stadium Pertama materi sosialisasi 4 pilar MPR RI : Tantangan Nasionalisme Abad 21, disusul oleh menteri kewirausahaan oleh Menteri Perdagangan, Ketahanan Ekonomi Indonesia, Talk shaw anak muda tolak Radikalisme. Sampai saat ini baru 4 Materi forum tidak kondusif. Boro-boro fokus dengan materi yang disampaikan, proyek apa yang didapat! Hal ini mengundang keperihatinan bahwa sampai detik ini Pemuda terdistorsi & terdegradasi, padahal seyogyanya Pemuda adalah harapan Bangsa. Bagaimana mungkin Pemuda pemuda mau mensejahterakan Bangsa kalo watak imprealis itu melekat didalam otaknya dan menjadi sarang penyakit.

Dengan dinamika dan heterogenitas peserta, menjadi parameter mereka beberapa OKP. Sampai saat ini menjadi kondisi yang flat karena tak ada wajah yang sumeringah, kebingunan, karena terlalu thanks book-thingking bahkan sempat cek-cok diforum.

Demontrasi anarkis nyaris membelah negeri ini, sehingga kita semua dipertanyakan, apakah masih ada jiwa nasionalisme kebangsaan yang melekat dalam diri kita? Demontrasi habis-habisan, semua tenaga dan akal pikiran digunakan, melibatkan sema peserta jambore. Pekikan dan kegaduhan diforum mengambil jeda lagi, membiarkan peserta untuk membuat imajinasi dan menduga-duga.

Demontrasi itu adalah semua terlibat dalam sumbangsih ide-ide brilliat, gagasan sehingga mampu melahirkan suatu sikap. Supaya Pemuda mampu menjawab petkembangan zaman & mampu mensejahterakan Bangsa. Demontrasi yang jauh dari hawa nafsu untuk anarkis dan merusak, demontrasi yang jauh dari syahwat untuk membunuh dan menghancurkan, demontrasi yang bukan mencari pengaruh di sumbu sumbu kekuasaan.
Demontrasi ini, yang kami lakukan oleh kalangan masyarakat biasa biasa saja, justru untuk melanggengkan sang kehidupan, seraya tolong-menolong, tenggang rasa, membangun sebuah ketentraman dll. Demontrasi ini berbicara tentang semangat silaturahim. Sekian ribu peserta jambore gontok-gontokan diforum sementara Bangsa masih kebingungan besok akan makan apa. Tapi seharusnya berkumpul di tengah-tengah Pekan Jambore Kebangsaan Nasional yang menghabiskan anggaran Rakyat Milyaran rupiah, demi silaturahim berkumpul karena rahim, karena adanya kasih sayang diantara kita sesama manusia, karena kita semua Se-bangsa. Dan memecahkan persoalan Bangsa & Negara (Human Interisted).

Tak secuilpun mengalami krisis kebangsaan. Sebaliknya silahkan pertanyakan pada mereka dipusat pusat  kekuasaan atau kepada Pemateri yang bahkan siap membelah negeri, hanya agar mendapatkan sebuah kedukukan.

Sekarang, mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apakah semua yang hadir ini di ruangan ini, datang untuk silatulhoby? berkumpul hanya karena berhobi sama, kayak persatuan tukang mancing mania? Apakah silatulfikr, berkumpul semata karena menganut pola pikir yang sama? Apakah silatulilmi, berkumpul karena menguasai keilmuan yang sama? ataukah
Silatulrohmi, kita semua berkumpul karena perasaan sayang menyayangi, karena kita manusia, karena kita merasa Se-bangsa. Karena kita memiliki perasaan kebangsaan yang sama? Karena kita enggan dituduh mengalami krisis kebangsaan. Silahkan pilih?

Sebaliknya sinergistas antara eksekutif, legislatif dan aktivis, di moment Pekan Jambore Kebangsaan Nasional  jika didasari oleh semangat silaturahim, berkumpul semata karena rasa sayang. Supaya Bangsa tidak terus-menerus dijadikan korban oleh kepentingan elit global (Ekonomic Kapitalsm).

Sebuah momentum, ketika sebuah kelompok Pemuda diminta dan dipercaya untuk menjadi lem pelekat. Dalam masyarakat yang tadinya mendewakan perbedaan selaku syahwat. Padahal justru membuat kita semua, terlempar masuk kedalam ruang bersekat-sekat. Saat ini, keterpurukan fungsi dan pemeranan kita Pemuda  Indonesia menjadi hal nyata. Langkah langkah sistemik  pengkerdilan keberadaan Pemuda Indonesia bukan berita baru, termasuk usaha kriminilisasi

Mungkin Pemuda Indonesia harus melakukan re-positioning dan re-design, hal itu bisa saja terjadi. Seperti ucapan Mahatma Gandhi : Jika kamu mempunyai kebenaran, maka kebenaran itu harus ditambah dengan cinta. Jika tidak, pesan dan pembawaanya akan ditolak.

Cipanas, Thuesday 26 October 2017

Akal Akar adalah Budaya



Oleh ;
Ditto ArRsyd 
Ratusan tahun lalu masyarakat Indonesia setelah mengenal tulisan sudah mampu menciptakan teknologi dalam berkehidupan diantaranya bercocok tanam atau bertani, mendirikan sebuah bangunan, serta sudah memahami gejala rasional alam. Dalam suatu masa akan ada masanya, dan masa tersebut selalu melahirkan masa yang ada kesepemahaman antara konteks keyakinan, kemanusiaan dan lingkungan hidup, hal inilah yang senantiasa di dambakan oleh khalayak pemimpi semesta raya manusia karena untuk menuju kepada struktur tatanan sosial yang proporsional egaliter bukan hanya perihal kesejahteraan namun kebutuhan ihwal hal lain pun harus terpenuhi dari segala asek lahiriah ataupun rohani.
Peradaban tidak serta merta hadir kalau tanpa buah kasih dari seni berpikir tanpa pereduksian dari intuisi budi pekerti dan intelegensi yang kuat. Kesinambungan ini apabila mampu terjalin secara kontinyuitas dapat dipastikan setiap masing individu mempunya bom waktu nya tersendiri melalui proses menuju kesadaran kolektif yang berkeadaban dan berperadaban. Seorang petani tidak perlu diajarkan bertani, seorang guru tidak perlu diajarkan lagi mengajari dan mendidik siswanya, seorang akuntan tidak perlu diajari untuk menghitung kepemilikan, seorang nelayan tidak perlu diajarkan lagi menangkap ikan dan mengayuh dayungnya, karena setiap individu-individu tersebut mempunyai potensi-nya tersendiri dan menjauhakn diri agar selalu terhindar dari de-humaniasi.