Sabtu, 28 Oktober 2017

Pekan Jambore Kebangsaan Nasional mengundang Keperihatinan




Oleh ;

Rahmat Nuriyansah 



Di awal tahun 2000 an, saat bangsa ini baru saja mengalami proses transisi dan reformasi, untuk memasuki babak baru, yaitu kedewasaan kita dalam hal bernegara. Salah satunya adalah euphoria, sehingga demonstrasi menjadi salah satu cara yang paling populer untuk mengekspresikan diri, serentak merebak diseluruh tanah air. Dilakukan oleh para mahasiswa, organisasi massa, kelompok LSM, dan kelompok-kelompok lainnya. Apalagi hal ini dipicu dengan goyahnya pusat kekuasaan, sehingga presiden pun terancam di turunkan (impeachment).

Demontrasi yang awalnya terkendali dan elegan, bisa berubah menjadi kebringasan massa , saat disusupi oleh provokator. Lalu pengrusakan dan anarkisme menjadi berita keseharian. Apalagi saat bangsa ini seolah terbelah, antara pro dan kontra di sekitar sumbu-sumbu kekuasaan. Di media elektronik kekerasan itu ditampilkan, kadang teramat vulgar. Teriakan bunuh, hancurkan, darahnya halal, lalu tambah dengan pekikan Alahu akbar, seolah Tuhan meridhoi semua bentuk dan sajian kekerasan tadi.

Ada apa dengan bangsa ini? Semua serempak menjawab, kita semua sudah mengalami degradasi dalam hal rasa kebangsaan. Kita semua mengalami Krisis Kebangsaan, lupa bahwa kita semua bersaudara. Sehingga amat tak layak, ketika jaman reformasi yang dengan susah payah diusahakan bersama ini, justru harus di isi oleh perang saudara, yang siap meledak kapan saja. Ada benang merah antara demontrasi, anarkisme, penghancuran pihak lain dan  krisis kebangsaan.

Itulah kondisi yang terjadi, termasuk di Pekan Jambore Nasional Kebangsaan, yang baru saja dilaksanakan di Cipanas Kab. Cianjur. Berbagai macam kalangan aktivis berbondong-bondong hadir dengan penuh rasa percaya diri. Dari Sabang sampai Marauke. Naas, faktanya tidak sesuai dengan apa yang Pemuda harapkan. Target & sasarannya tidak pernah jelas. Hanya sekedar buang-buang Anggaran Rakyat. Saat menjadi tersendat dengan gelombang demontrasi yang nyaris tanpa henti. Harus ada solusinya, agar gonjang ganjing diluar sana, tidak harus ikut menggoyahkan suasana di tingkat lokal.

Saat itulah, ribuan aktivis seraya berdiskusi untuk mencari solusi. Ada 6000-/+ peserta yang tercatat di Pekan Jambore Kebangsaan Nasional. Kurang lebih sekitar 6 hari. Banyak ancaman baik secara vertikal maupun horizontal seperti demontrasi, ujung-ujungnya malah minta proyek agar mau diam dan tutup mulut. Acara tersebut dihadiri oleh Ketua MPR-RI, beberapa Menteri & Dosen.

Tidak ada transparansi & pengawasan yang dilakukan termasuk dalam mensinergitaskan mereka supaya bisa saling mengontrol dan tidak bertindak semaunya, apalagi jika ujungnya hanya minta bagian proyek, yang hasilnya hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. Hal ini bukan rahasia umum lagi. Ada banyak hal yang harus dikerjakan bersama, supaya kinerjanya bisa lebih efisien dan efektif serta transformasi keilmuannya dapat dipertanggung jawabkan.

Langkah kongkritnya, harus ada pertemuan akbar, yang dihadiri oleh seluruh organisasi yang terlibat. Semua harus bersepakat, bahwa situasi chaos didalam sana, tidak harus berdampak terlampau dalam. Untuk itu Gerakan Mahasiswa harus lebih cerdas dalam menyoal fakta khususnya dalam berbicara Bangsa & Negara supaya tidak lahir debit sekulerism yang tinggi.

Hari H, dilaksanakan sesuai schedule. Peserta sesak memenuhi ruangan, nampak beragam karena perbedaan atribut yang melekat. Moderator mempersilahkan Ketua MPR-RI untuk membuka Stadium Pertama materi sosialisasi 4 pilar MPR RI : Tantangan Nasionalisme Abad 21, disusul oleh menteri kewirausahaan oleh Menteri Perdagangan, Ketahanan Ekonomi Indonesia, Talk shaw anak muda tolak Radikalisme. Sampai saat ini baru 4 Materi forum tidak kondusif. Boro-boro fokus dengan materi yang disampaikan, proyek apa yang didapat! Hal ini mengundang keperihatinan bahwa sampai detik ini Pemuda terdistorsi & terdegradasi, padahal seyogyanya Pemuda adalah harapan Bangsa. Bagaimana mungkin Pemuda pemuda mau mensejahterakan Bangsa kalo watak imprealis itu melekat didalam otaknya dan menjadi sarang penyakit.

Dengan dinamika dan heterogenitas peserta, menjadi parameter mereka beberapa OKP. Sampai saat ini menjadi kondisi yang flat karena tak ada wajah yang sumeringah, kebingunan, karena terlalu thanks book-thingking bahkan sempat cek-cok diforum.

Demontrasi anarkis nyaris membelah negeri ini, sehingga kita semua dipertanyakan, apakah masih ada jiwa nasionalisme kebangsaan yang melekat dalam diri kita? Demontrasi habis-habisan, semua tenaga dan akal pikiran digunakan, melibatkan sema peserta jambore. Pekikan dan kegaduhan diforum mengambil jeda lagi, membiarkan peserta untuk membuat imajinasi dan menduga-duga.

Demontrasi itu adalah semua terlibat dalam sumbangsih ide-ide brilliat, gagasan sehingga mampu melahirkan suatu sikap. Supaya Pemuda mampu menjawab petkembangan zaman & mampu mensejahterakan Bangsa. Demontrasi yang jauh dari hawa nafsu untuk anarkis dan merusak, demontrasi yang jauh dari syahwat untuk membunuh dan menghancurkan, demontrasi yang bukan mencari pengaruh di sumbu sumbu kekuasaan.
Demontrasi ini, yang kami lakukan oleh kalangan masyarakat biasa biasa saja, justru untuk melanggengkan sang kehidupan, seraya tolong-menolong, tenggang rasa, membangun sebuah ketentraman dll. Demontrasi ini berbicara tentang semangat silaturahim. Sekian ribu peserta jambore gontok-gontokan diforum sementara Bangsa masih kebingungan besok akan makan apa. Tapi seharusnya berkumpul di tengah-tengah Pekan Jambore Kebangsaan Nasional yang menghabiskan anggaran Rakyat Milyaran rupiah, demi silaturahim berkumpul karena rahim, karena adanya kasih sayang diantara kita sesama manusia, karena kita semua Se-bangsa. Dan memecahkan persoalan Bangsa & Negara (Human Interisted).

Tak secuilpun mengalami krisis kebangsaan. Sebaliknya silahkan pertanyakan pada mereka dipusat pusat  kekuasaan atau kepada Pemateri yang bahkan siap membelah negeri, hanya agar mendapatkan sebuah kedukukan.

Sekarang, mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apakah semua yang hadir ini di ruangan ini, datang untuk silatulhoby? berkumpul hanya karena berhobi sama, kayak persatuan tukang mancing mania? Apakah silatulfikr, berkumpul semata karena menganut pola pikir yang sama? Apakah silatulilmi, berkumpul karena menguasai keilmuan yang sama? ataukah
Silatulrohmi, kita semua berkumpul karena perasaan sayang menyayangi, karena kita manusia, karena kita merasa Se-bangsa. Karena kita memiliki perasaan kebangsaan yang sama? Karena kita enggan dituduh mengalami krisis kebangsaan. Silahkan pilih?

Sebaliknya sinergistas antara eksekutif, legislatif dan aktivis, di moment Pekan Jambore Kebangsaan Nasional  jika didasari oleh semangat silaturahim, berkumpul semata karena rasa sayang. Supaya Bangsa tidak terus-menerus dijadikan korban oleh kepentingan elit global (Ekonomic Kapitalsm).

Sebuah momentum, ketika sebuah kelompok Pemuda diminta dan dipercaya untuk menjadi lem pelekat. Dalam masyarakat yang tadinya mendewakan perbedaan selaku syahwat. Padahal justru membuat kita semua, terlempar masuk kedalam ruang bersekat-sekat. Saat ini, keterpurukan fungsi dan pemeranan kita Pemuda  Indonesia menjadi hal nyata. Langkah langkah sistemik  pengkerdilan keberadaan Pemuda Indonesia bukan berita baru, termasuk usaha kriminilisasi

Mungkin Pemuda Indonesia harus melakukan re-positioning dan re-design, hal itu bisa saja terjadi. Seperti ucapan Mahatma Gandhi : Jika kamu mempunyai kebenaran, maka kebenaran itu harus ditambah dengan cinta. Jika tidak, pesan dan pembawaanya akan ditolak.

Cipanas, Thuesday 26 October 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar