Sabtu, 28 Oktober 2017

Akal Akar adalah Budaya



Oleh ;
Ditto ArRsyd 
Ratusan tahun lalu masyarakat Indonesia setelah mengenal tulisan sudah mampu menciptakan teknologi dalam berkehidupan diantaranya bercocok tanam atau bertani, mendirikan sebuah bangunan, serta sudah memahami gejala rasional alam. Dalam suatu masa akan ada masanya, dan masa tersebut selalu melahirkan masa yang ada kesepemahaman antara konteks keyakinan, kemanusiaan dan lingkungan hidup, hal inilah yang senantiasa di dambakan oleh khalayak pemimpi semesta raya manusia karena untuk menuju kepada struktur tatanan sosial yang proporsional egaliter bukan hanya perihal kesejahteraan namun kebutuhan ihwal hal lain pun harus terpenuhi dari segala asek lahiriah ataupun rohani.
Peradaban tidak serta merta hadir kalau tanpa buah kasih dari seni berpikir tanpa pereduksian dari intuisi budi pekerti dan intelegensi yang kuat. Kesinambungan ini apabila mampu terjalin secara kontinyuitas dapat dipastikan setiap masing individu mempunya bom waktu nya tersendiri melalui proses menuju kesadaran kolektif yang berkeadaban dan berperadaban. Seorang petani tidak perlu diajarkan bertani, seorang guru tidak perlu diajarkan lagi mengajari dan mendidik siswanya, seorang akuntan tidak perlu diajari untuk menghitung kepemilikan, seorang nelayan tidak perlu diajarkan lagi menangkap ikan dan mengayuh dayungnya, karena setiap individu-individu tersebut mempunyai potensi-nya tersendiri dan menjauhakn diri agar selalu terhindar dari de-humaniasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar