Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juli 2018

Sekilas tentang Gerakan Kemerdekaan Indonesia dan Sejarah Perjalanan Bangsa

 


  Sesungguhnya bukan pada kualitas pemimpin itu sendiri melainkan pada Sistem yang dibangun, lebih tepatnya pada kualitas Pemimpin dalam membangun sebuah sistem. Seperti bahasa yang lugas "beriring-iringan patah ditengah" disampaikan Dr. A. Rivai dan Dr. Tjipto, niscaya akan memegang peranan yang jauh berlainan sekali di dalam gerakan kemerdekaan Indonesia jika disini ada kapital besar milik bumiputra.

  Sejak runtuhnya kerajaan Majapahit dan masuknya era penjajahan oleh Bangsa Belanda, maka seluruh aspek kehidupan Bangsa yang bernaung dibawah kerajaan dan kesultanan yang tersebar diseluruh Nusantara secara perlahan tapi pasti telas dikuasi oleh Bangsa Belanda.

  Bangsa Besar yang kodratnya adalah bangsa lautan/bahari, secara perlahan dan pasti oleh penjajah telah diubah kodratnya menjadi bangsa daratan/ agraris. Dengan politik ''devide et impera" Bangsa Belanda dengan mudah menguasai dan menakhlukan semua kerajaaan dan Kesultanan Nusantara dan dikendalikan sesuai dengan kepentingannya. Dan saat itu mulailah era penjajahan/ penindasan masuk yang melahirkan berbagai macam kesengsaraan rakyat Nusantara. Perlakuan tersebut telah membangkitkan dan mendorong semangat para pemimpin kelompok Anak Bangsa untuk melakukan perlawanan atas ketidakadilan.

  Orde lama, orde baru, reformasi bahkan sampai saat ini merupakan dekade penjajah yunani secara soft power. Bangsa Indonesia hidup dengan penuh latar belakang yang kusam padahal banyak Negara- negara kecil dan miskin di dunia yang kaya karena kekayaan sumber daya alam Indonesia. Hal ini sulit direduksi oleh aktivis muda maupun elite politik bahkan sekelas pakar sekaligus. Tentu menjadi bahan evaluasi bersama atas runtuhnya semangat patriotisme Bangsa Indonesia dibawah "sistem liberalistik kapitalisme" yang berasal dari yunani.

  Faktanya adalah Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim itu dikebiri menggunakan SARA, di level Ulamapun banyak Ulama yang salah kaprah dalam menarasikan Islam. For example: ramainya Islam Nusantara, salah satu Ustadzah dibiarkan memohon-mohon maaf di atas kesalahpahaman tentang Islam Nusantara di salah satu televisi nasional dan itu live ditonton seluruh dunia. Jelas ini menyimpang dari ajaran nenek moyang kita, baik para wali dan sunan.

  Hal ini disebabkan akibat dipaksakannya sistem demokrasi yang berasal dari yunani. Sebagai akibatnya masyarakat nusantara yang semula selalu rukun, damai, welas asih, suka tolong menolong, dan menjaga silaturahmi telah berubah menjadi masyarakat yang individualis, egois, mementingkan diri sendiri.

  Hubungan harmonis yang pernah ada dalam kehidupan masyarakat telah berubah menjadi disharmonis sudah menjurus ke arah SARA (suku, agama dan ras) yang membahayakan keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan ini sudah berada dalam titik nadir tentu perlu penyelamatan segera. Berkenaan dengan sistem tata cara berbangsa dan bernegara (belief of system).

  Harmonisasi sains & teknologi (Pancasila) merupakan solusi yang tepat untuk melindungi dan menjaga keutuhan suatu peradaban dalam gugus segita potensi Bangsa. Yang mampu dijadikan sebagai regulator dan koridor (sistem) dalam kehidupan tata cara berbangsa dan bernegara yang baik dan benar, guna tidak menimbulkan kehidupan yang pragmatis, individualistis, persaingan, perpecahan dll.

  Para pemangku Amanah Bangsa yakni agamawan yang melakukan perlawanan terhadap belanda seperti perng padri, perang di ponogoro, perang maluku dan sebagainya. Cendikiawan yang melakukan perlawanan dengan cara meningkatkan pendidikan terhadap anak bangsa. Tentara keamanan rakyat (TKR) dengan penuh kesadaran mengangkat senjata terhadap Belanda kemudian menjadi cikal bakal Tentara Repulik Indonesia. Dan peran penting para Raja, Sultan dan Pemangku Adat yang menggunakan kekayaan dan kemampuan yang dimilikinya untuk membantu perjuangan tersebut. Keterlibatan mereka adalah fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri dan sebenarnya mereka adalah Pewaris Amanah Bangsa yang Sah.

  Indonesia mempunyai budaya keaneka ragaman adat istiadat yang menjadi pandu dunia. Tentu semua haruslah berangkat melalui history bukan story dan berbasis kesadaran nilai bahwa Indonesia adalah Negara Terkuat secara Potensi Bangsa & Terkaya secara sumber daya alam di dunia (mercusuar dunia) bahwa "gemah ripaloh jinawi toto tentrem kerto raharjo" itu haruslah melekat ditubuh Peradaban Masyarakat Nusantara.

Jakarta, 23 July 2018
PKC PMII Jawa Barat, Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan & Explorasi Teknologi, MMI Jawa Barat & TIM Brebes Mengabdi

Rahmat Nuriyansah

Jumat, 27 April 2018

Global Quotient The Movement Is Processed Energy Our Reasoning



  Berbicara pada tahun 2000 an, cukup menarik terntunya yang dimana ketika tengah marak kursus dan pelatihan mental-emosional yang dekat dengan wilayah spiritual. Pada saat yang nyaris sama, lahirlah pula sekian banyak perguruan pernafasan dan tenaga dalam, dengan banyak guru-guru besarnya yang konon sudah mirip setengah dewa. Apapun lah. Namun bukan itu inti masalahnya. Pelatihan yang wah, kadang tersaji dihotel mewah, ratusan orang terperangah ketika gambar hidup terpampang dilayar lebar. Ribuan watt sound sistem menggelegar di kuping pendengar. Lalu diakhir sesi mereka mulai tersedu dalam tangis yang tertelan perlahan muncul ke insafan, walau katanya hanya bertahan hanya beberapa bulan yaaah cukup lumayan lumayan tentunya.
  Sebuah sistem evaluasi diri, tentu selalu baik. Mengingatkan kita pada apa, siapa, darimana, sedang apa dan hendak kemana kita kelak. Sederet pertanyaan eksistensialis yang secara fitrah selalu terngiang dalam rongga rongga pendengaran manusia. Kita haus dengan semua jawaban jawaban itu. Layaknya orang dahaga ditengah gurun sahara, merindukan setetes air agar sang hidup tetap menyala. Agar saat kematian menjemput, jawaban itu telah tersedia, untuk kita bawa kealam sana. Tetapi ketika segala macam pelatihan sudah mulai membawa bawa ranah kesadaran, lengkap dengan pusat-pusat kecerdasannya, alias Quotient, mulai ada sesuatu yang mengganjal dalam akal logika. Apalagi waktu dibawa keranah yang paling substansial, saya mulai tak lagi paham.
  What is that consciousness? Jika pendekatan yang digunakan model Sigmund Freud yang ahli psikoanalis, maka jelas jelas saya sudah gagal paham. Freud menggambarkan ruang kesadaran, layaknya ruang kelas, sebuah ruang Newton. Akibat pengaruh teori sosial darwinism yang melihat alam semesta ini layaknya mesin filter besar. Hanya yang kuat saja yang akan lolos (survival of the fittest). Dalam ruangan tadi terdapat 3 entitas pokok dengan masing-masing wilayah kekuasaannya. Aspek Ego (akal) berada ditengah, tertarik dan terjepit oleh 2 aspek lainnya yaitu Id (nafsu) dan superego (sang nurani). Ego kadang tertarik secara mekanis ke arah Id, kadang tersedot kearah superego.
  Paling parah tentunya adalah ketika ruang kesadaran bisa dibagi dalam prosentase. Jika kamar ego ingin besar (akal, pintar), maka ruang Id (nafsu) dan superego (spiritual, intuitif, nurani ) dikecilkan, karena ketiganya tidak boleh melebihi angka 100%. Seorang ilmuwan, ego akalnya 90%, nafsunya 10%, dan intuisinya (yang tidak objektif ilmiah itu) di nol kan saja. Sebaliknya seorang ulama besar, pendeta agung, wilayah super-egonya 90%, akalnya cukup 5% dan nafsunya bahkan ditekan habis menuju nol prosen. Ketika masuk ke wilayah kesadaran dan kecerdasannya, hal yang sama terjadi. Semua jenis kesadaran layaknya kamar-kamar terpisah, tertutup dan terisolasi antara satu dengan yang lainnya. Seolah mereka tak saling berhubungan yang lebih lucu lagi, tak saling membutuhkan. Who is that?
  Jika anda ingin sukses dunia dan akhirat, cukup Emotion Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) saja. Lalu sang intelektual Quotient (IQ) dikemanakan? Kurang penting - penting amat orang harus pintar (IQ), yang penting harus baik (EQ) dan soleh (SQ). Benar benar mengadopsi gaya Sigmund Freud. Karena pendekatannya ruang newton alias ruang materi, yang mirip kamar-kamar terpisah, maka dua hal yang pasti adalah, diperbolehkannya unsur Politis dan klaim. Sorry ulama, enggan untuk percaya? lihat kamar SQ ku 97%. Punten seorang ilmuwan tidak yakin? otak ber IQ 160. Dan disana sang Rahwana ngakak .. hua hua hua … akulah si raja begal, pengedar obat bius, mucikari PSK, karena kamar id (nafsu) ku 95% Semuanya dengan bangga menyatakan klaim. Membuat para penonton disekitar menjadi kaum yang hanya mampu terdiam dan tersipu.
  Even though, seyogyanya hukum fitrah sudah berbicara. Hanya ada 2 bentuk dari keberadaan di alam semesta ini yakni berupa materi, dan berupa bentuk energi, sedang wadahnya kita sebut dengan ruang-waktu / space-time continuum. Mata untuk melihat jelas-jelas materi, namun kesadaran penglihatan, mestinya bukan dalam bentuk granular materi. Demikian halnya dengan kesadaran pendengaran, bahkan perasaan hati dalaman, semuanya bukan materi. Sehingga satu-satunya opsi, maka kesadaran mestilah dalam bentuk energy. Ada banyak bentuk materi, mulai dari liquid, solid, gas, plasma bahkan yang paling aneh dalam bentuk super-fluidal.
  Demikian pula energi, formatnya juga beragam, mulai dari kalori, kinetik, potensial, bio energy sampai psiko-energi. Kesadaran adalah energi psikis, sebuah proses-mental dalam tatanan yang paling kecil layaknya dalam sebuah sel. Karena bentuknya energi, maka apapun ujudnya, satu hal yang pasti, dia harus mengikuti hukum hukum yang sesuai dengan energi itu sendiri. Hukum hukum ini mestilah sangat berbeda dengan hukum di dunia materi. Salah satu yang paling nyata adalah ketidak-mungkinannya untuk di klaim.
  Jika dalam wilayah materi, dengan mudah saya katakan ini “pulpen saya karena faktanya pulpen berada ditangan saya saat itu” dan tak seorangpun memegangnya kecuali saya pribadi. Tapi coba katakana ini ide saya ! belum tentu orang mengangguk, karena mungkin saja ada orang lain ditempat itu, atau dibelahan dunia lain, yang juga mempunyai gagasan yang sama (kolektif). Bentuk pengejawantahan ini salah satu sifat energy yang tak pernah menetap. Dia selalu akan mengalir dengan dinamis, dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Jika disumbat dia akan menekan (overdrive), akibatnya bisa terjadi defisit pada saluran sesudahnya. Layaknya membayangkan sungai dari pegunungan, mengalir menuju laut. Sepanjang jalan kadang saluran menyempit menimbulkan arus deras. Kadang menggenang terhalang oleh dan alami maupun buatan. Kadang harus menguap habis menjadi awan diperjalanan. Sifat dari psiko-energi alias aliran kesadaran juga mengalir. Tidak mungkin ada ruang kamar kesadaran yang terpisah dan terkucil. Semua kamar itu mempunyai pintu yang terbuka, mereka saling terhubung antara satu dengan yang lainnya. Mengalir dalam aturan kronologis dan hierarkis, dari sebuah tingkat kesadaran pada tingkat kesadaran lainnya yang lebih tinggi. Pada setiap ranah kesadaran, mereka membentuk persepsi atas setiap realitas dalam bentuk gelombang energi. Dimana ujung dari seluruh persepsi itu adalah berupa hikmah pembelajaran kognitif atas setiap realitas yang dihadapi, ketika sang eksisten berhadapan dan terjun dalam sebuah pengalaman realitas.
  Sorry , when i fail to understand. Saat IQ di nafikan dan untuk menjadi sukses, cukup hanya dengan Emotion dan Spiritual Quotient ( ESQ) saja. Secara nalar, bagaimana kita memahami Sang Maha Akal (SQ) jika akal logikanya (IQ) nya jongkok. Bagaimana menumbuhkan sebuah hikmah pemahaman (SQ), tanpa melalui proses pengertian hukum-hukum logika (IQ) terlebih dahulu. Padahal pula tak kurang dari 46 kali kata akal tertulis dalam kitab suci. Padahal tak kurang pula bahwa tolabul ilmi itu merupakan hal yang wajib. Kemudian dalam sebulan, konsep GQ disusun dalam sebuah buku cercerita tentang aliran energi-kesadaran, yang seraya membangun ranah tingkat kesadaran beserta dengan pusat pusat kecerdasannya. Dari kesadaran yang paling bawah, dimana manusia ditakdirkan untuk dilahirkan selaku mahluk eksistensialis. Mengawali keberadaan dengan kesadaran tentang keberadaannya terlebih dahulu, lalu bergerak secara transenden mencari sang esensi diri, yang menjadi jati diri. Membentuk the Integrated Quotient merupakan sebuah kecerdasan yang menyeluruh.
Mengalir dari tingkat terendah ke arah muaranya, melalui ranah-ranah kesadarannya;
a. Kecerdasan inderawi ( Physical Quotient )
b. Kecerdasan emosi ( Emotion Quotient )
c. Kecerdasan Intelektual ( Intelectual Quotient.
d. Kecerdasan Sosial ( Social Quotient )
e. Kecerdasan Profesional ( Profesional Quotient )
f. Kecerdasan mencari gagasan ( Inspirational Quotient )
g. Kecerdasan Spiritual ( Spiritual Quotient )
  Dari perbincangan minggu lalu dengan beberapa elemen aktivis di Bandung ada beberapa hal yang perlu kita sadari bersama bahwa sakit adalah sebuah gejala adanya blocking dalam aliran kesadaran. Sakit adalah petunjuk dimana ranah kesadaran yang harus segera dibetulkan. Sakit adalah sebuah penanda, bahwa kita sudah keluar dari fitrah sang semesta. Tidaklah salah untuk berbuat salah jika itu mengajari kita, untuk menjadi tahu mana yang benar. Berbuatlah yang benar sehingga maklum mana yang salah karena yang sebenar benarnya salah adalah saat kita tak berbuat apapun juga. Dan manusia, adalah mahluk sempurna mahluk kognitif, yang selalu belajar dari setiap pengalaman realitas saat menjalani hidup dan kehidupan karenanya Setiap langkah kemarin adalah misteri, tentu hari itu juga merupakan sejarah yang kokoh tuk dijiwai dan hari ini adalah anugerah yang tiada tertandingi.

Senin, 23 April 2018

Anak Indonesia Dilarang Untuk Bermimpi



Sebelumnya maaf apabila terdapat banyak kesalahan dan coretan hitam dalam tulisan perdana saya ini. Sebab saya memang masih belajar untuk menulis artikel seperti ini.

  Seperti sebuah hadiah buruk bagi anak Indonesia ketika pemerintah, khususnya Presiden Republik Indonesia mengeluarkan sebuah kebijakan tentang mempermudah Tenaga Kerja Asing untuk bekerja di Indonesia. Bagaimana tidak, coba anda bayangkan berapa banyak kelak anak bangsa yang justru jadi pengangguran.

  Saya Masih ingat benar betapa Pak Jokowi berjanji didepan seluruh masyarakat Indonesia melalui televisi. Beliau dengan lantang akan membuka 10.000 (sepuluh ribu) lapangan pekerjaan. Saya harap, bukan hanya diri saya semata yang mengingat hal tersebut. Tapi seiring berjalannya waktu, kenyataan yang kita temui hanyalah sebuah ilusi besar.

  Ya… Dengan statement tersebut nyatanya pak Presiden lebih mempercayai tanah airnya untuk dikelola pada pihak asing. Padahal apa salahnya memberikan sedikit kepercayaan pada anak Indonesia sendiri untuk mengelola tahan air ini?

  Entah, mungkin saja saat ini pak Presiden yang terhormat itu tengah berpikir bahwa sanya pendidikan anak Indonesia masih jauh dibawah rata-rata. Bagaimana tidak, coba anda lihat. Kebijakan Pemerintah untuk menggratiskan sekolah bagi anak Indonesia masih sebatas Sekolah Menengah Pertama. Coba anda lihat Negara lain yang justru telah menjamin pendidikan anak-anak dinegaranya sudah sampai tingkat Perguruan Tinggi.

  Belum lagi, perjuangan kami sebagai anak Indonesia jauh lebih berat. UNBK atau Ujian Nasional Berbasis Komputer nyatanya justru memberatkan kami. Tidak semua sekolah Negeri maupun Swasta di Indonesia memiliki labolatorium computer yang memadai. Imbasnya? Kami yang terkadang diminta untuk membeli laptop sendiri. Sedangkan untuk makan dan kebutuhan sekolah kami sehari-hari pun, Orangtua kami masih kesusahan.

  Lantas kini saya pertanyakan, seandainya kami besar nanti, harus menjadi apa? Apakah harus, nasib kami tetap seperti ini? Sedangkan di Negara ini pun, para asing dan aseng itu tengah menikmati dengan sepuas hati hasil kekayaan bumi Pertiwi yang saya sendiri jamin tidak pernah habis isi nya meski yang kita tahu, sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu diserap dan dihabiskan oleh sebuah perusahaan asing bernama “Freeport”.

  Innalillahi saya ucapkan ketika Presiden Negara ini sudah tak mampu mendengar lagi jerit tangis anak Bangsa yang merasa terdzolimi berkat kebijakan yang dikeluarkannya. Sebab, tugas Presiden tidak hanya menjadi perwakilan Negara saja dalam ranah Internasional. Tapi juga sebagai simbol dari maju atau mundurnya Negara.

  Saat ini, kasihan anak Bangsa yang memang tidak bisa atau bahkan dilarang untuk bermimpi. Biar bagaimana pun, bermimpi merupakan hak setiap orang. Kalau sekarang lihat nyatanya, gak semua anak bangsa bisa bermimpi. Hanya orang2 berduit lah yg berhak mendapatkan hal tersebut. Bukankah "mencerdaskan kehidupan bangsa" sudah jelas tertuang dalam amanat preambul UUD '45? Mengapa bisa demikian? Sebab demokrasi masih berjalan bebas dinegara ini. Hingga akhirnya cita2 akhir dari negara ini, "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" gak bisa dicapai.


Sedikit kisah dari tanah tandus Kabupaten Bekasi


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh…

Sebelumnya, ijinkan saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya, Tsari Marwah. Panggil saja saya Tsari. Saya lahir dan besar di Kabupaten Bekasi. Tepatnya diperkampungan kumuh yang dipenuhi dengan sampah atau limbah industri dan rumah dari Perumahan.

 Bapak hanya seorang buruh biasa yang setiap harinya bekerja sebagai buruh bangunan harian. Sedangkan ibu, hanya ibu rumah tangga biasa. Saya anak ke dua dari tiga bersaudara, saat ini saya duduk dibangku kelas 2 SMP disalah satu sekolah swasta Kabupaten Bekasi.

Keseharian saya selain bersekolah ialah membantu Ibu dirumah, selebihnya membantu kak Nana, salah satu mentor yang banyak mengajari saya mengenai Pancasila di Taman Belajar Masyarakat (TBM) Rumah Kita setiap hari Sabtu dan Minggu.


  Demikian artikel dan lembaran perkenalan dari saya ini. Semoga mampu mewakili suara anak Indonesia lainnya yang belum mampu terdengar oleh para penguasa. Sekurang dan selebihnya saya ucapkan maaf dan terimakasih.


Cikarang, 25 Maret 2018
Tsari Marwah

Pelajar SMP 04 Baiturrahman Cikarang Utara

Senin, 02 April 2018

The Last Man of Mountain The Light That Never Fails




 Oleh:
Rahmat Nuriyansah
(MKPN-Pancasila Center-MMI-PMII)

  Bermula pada kisah pendakian, ratapan sang saka Merah Putih di bawah teriknya matahari warna langit yang membiru dan cerah. Antara ada dan tiada berbanding lurus dalam dimensi ruang & waktu. Konsep diri dalam membangun dan menata suatu tatanan peradaban sulit dipisahkan antara dead or a life dibawah holistikal Bumi.

  Bahasa dalam sebuah ketiadaan, Rist Taker adalah kelompok orang dengan kepribadian mencari tantangan, disisi lain mampu memprakarsai jiawanya seperti target yang harus dicapai. Mereka ini adalah golongan risk-taker yang berani mengambil resiko, kadang dengan pertaruhan tak masuk akal. Sekalipun tampak serabutan, tapi sikap berani bertanggung-jawab atas beban target yang harus dicapai, akan dilaksanakan sebaik-baiknya.

  Hujan, angin kencang, kabut tebal itulah resiko yang harus dihadapi oleh seorang risk-taker. Mencari kayu bakar seperti rutinitas saat didalam dunia pendakian karena itu bukan sebuah pilihan tetapi itulah suatu hal yang harus dikerjakan. Saat waktu itu tiba disitulah adzan harus dikumandangkan untuk menghadap kepada Sang Maha Dzat. Berdzikir, bertasbi dengan penuh rasa kemerdekaan. Disitulah Gunung menjadi tempat Sang Maha Dzat menampakan diri kepada Nabi Musa. Gunung menjadi tempat Sang Maha Dzat dalam memperlihatkan kebesarannya dan menyadarkan Nabi Musa AS untuk bertaubat.

  “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (QS: Al-A'raf Ayat: 143).

  Dan layaknya risk-taker pada umumnya berjiwa besar dengan penuh ketauladanan. Semua berusaha menghindari kata “normal”, yang kebalikannya dengan kata “abnormal” karena kelak bisa dimunculkan kriteria kenormalan, yang sesungguhnya relatif atau tidak mutlak. Mungkin kata “karakter” lebih tepat, atau sebuah pola umum yang tidak pernah lepas dari nilai baik-buruk, benar-salah.

  Blue print, para pengelana di rimba, para petualang ditengah belantara adalah Risk-Taker. Bukan hanya sekarang, tapi warisan dari para pendahulunya. Seorang Norman Edwin dan Didiek Syamsu, mengantar teamnya yang kena hipotermia dan frostbite di Aconcagua Argentina, ke Rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun seminggu recovery di RS, Norman dan Didiek kembali mendaki Aconcagua, semata karena tugas dan tanggung jawabnya untuk mengibarkan sang dwiwarna di puncak tertinggi benua Amerika Selatan. Walaupun untuk itu, akhirnya kedua sekawan dari Mapala UI itu, harus kembali ke Indonesia dalam kantung mayat. Risk-Taker sejati, yang mempunyai karakter serta berani mengambil resiko .

  Di jalan pendakian yang begitu sangat alami resiko serta pilihan begitu banyak. Dalam setiap pemanjatan jenis batuan menjadi pusat perhatian. Setiap rekahan batu diperhitungkan, setiap alat dicocokan dengan keadaan. Pemasangan rangkaian runner tak boleh zig-zag. Jarak runner harus memperhitungkan fall-factor. Intinya pemanjatan dinding alami Semeru, Gunung Slamet, Gunung Ciremai dinding serta barat Gunung Rinjani, Yelowstone, North Face Eiger, Meru, dll. lebih menantang bagi para Risk-Taker, dimana daya tahan, daya survivabilitas, daya kreatif, antusiasme akan dipacu sampai pada batas limitnya.

  Demikian pula Indonesia dalam bentangan luas Garis Katulistiwa. Peribadatan itu nampak begitu holistik saat perenungan menjadi dunia yang begitu sakral. Lalu keanehan itu muncul , layaknya sebuah anomali yang terjadi. Bahwa Sang Risk-Taker yang konon sulit diatur, dan susah dikendalikan. Padahal tak ada yang menyuruh dan mengatur, tak ada yg memberi komando, mengancam dengan sangsi, atau mengiming-imingi reward tapi untuk satu hal itu, semua sepakat, sifat Risk-Taker akan disimpan dulu disaku. Momentum itu terjadi yang diangguki secara kolektif itu, adalah isi dari secarik kertas, berjudul.

  Sebuah code of conduct. Padahal jika bicara masalah konten dari code of conduct, semuanya masih bisa saja debatable, bisa saja pro dan kontra. Namun yang diangguki dan dihormati bersama, bukan dalam kontennya, terlebih dalam konteksnya, yaitu arti dan nilai-nilai sebuah “kesepakatan bersama”. Menghargai dan konsisten pada kesepakatan bersama, adalah sikap utama dari watak seorang ksatria. Sebaliknya menjilat ludah sendiri, seraya berkhianat pada komitmen awal, adalah pelanggaran terbesar, yang tak akan mendapat tempat.

  Hanya sebuah pola kesepakatan bersama yang akan berlaku bagi sang Risk-Taker. Iming-iming kedudukan, kekuasaan, atau sebaliknya berupa tekanan dan ancaman, bakal dianggap sepi. Diseluruh pelosok negeri sudah membuktikan hal itu dengan terang benderang. Seberapa banyak ditekan, dituduh, dihakimi, dibekukan, dibubarkan, dipenjarakan, tak ada dukungan anggaran, di bully netizen, tetap saja Risk-Taker maju & berkembang tanpa mampu sebuah rezim penguasapun menahannya.

  Sampai saat ini keadaan semakin kompleks, persoalan di masayarakat sedemikian berkembang, tentu dibutuhkan keberanian dalam membangun usaha terpadu dari Risk-Taker yang digadang-gadang sebagai garda terakhir Bangsa ini. Dibutuhkan usaha yang berkaliber untuk kembali membangun “kesepakatan bersama”, sebagai satu satunya cara menyatukan suara dari pelosok negeri.
  Tentu semestinya kesepakatan berangkat dari area lokal, yang mengerucut menuju wilayah nasional. Sebuah konsep dari kesepakatan di forum lokal menuju kesepakatan di forum nasional, sebuah pendekatan bottom up. Dimana jika di lokal saja sudah tak mampu bersepakat, jangan harap diarea yang lebih luas lagi.

  Sangat berbeda pendekatan komando yang bersifat top-down, entah karena politik, uang atau kekuasaan percuma saja. Kecuali hanya akan menimbulkan resistensi bersama. Juga merasa diri paling besar, paling berpengalaman, paling hebat, paling kaya, dan paling paling lainnya, tak bakal didengar. Karena semua pegiat literasi maka sudah tahu persis, bahwa di alam sana tak ada seorangpun yang bisa menundukan hukum ketidak pastian. Tidak George Mallory dan Irvine, Kapten Scott, Amundsen, bahkan Jimmy Chin, Renan Osturk, dan si kapten Conrad Anker.

  Dengan cara inilah maka Sang Risk-Taker siap untuk kembali membangun Kesepakatan bersama (seyogyanya musyawarah). Untuk Kemerdekaan Bangsa Indonesia secara luas, Membela Martabat Bangsa Indonesia, Menjaga Kehormatan suatu Bangsa Indonesia serta Berdaulatnya Bangsa Indonesia.
Jakarta, 2 April 2018

Kamis, 22 Februari 2018

Semua "gara-gara" Demokrasi





Sebelum nyinyir, biasakan "dibaca sampai selesai" terlebih dahulu agar tidak tersesat didalam memahaminya dan jangan lupa siapkan cemilan atau kopinya, biar tidak merem ayam.

Sampai saat ini, sudah banyak sekali fenomena-fenomena yang (menjadi "masalah")  bermunculan di negeri tercinta kita, entah itu dalam jajaran pemerintahan pusat hingga tingkat (keluarga) masyarakat kecil sekalipun. Namun, sudah sepatutnya kita semua menyadari bahwa itu semua terjadi "gara-gara sistem demokrasi" yang kita gandrungi sebagai dalang segala cabang fenomena masalah yang negeri ini hadapi.

    Ya, gara-gara demokrasi ; kita semua rakyat indonesia mengalami rekayasa - pemaksaan kemiskinan yang tidak semestinya, yang miskin semakin terbodohkan - terpinggirkan, yang kaya semakin malas menjalani kewajiban tolong-menolong dan bersaing dalam menimbun kekayaannya dengan menjadikan rakyat jelata sebagai tumbal. Gara-gara demokrasi ; anak-anak yang semestinya fokus dan orang tua tidak perlu memikirkan biaya dalam dunia pendidikannya malah dipaksa menjadi robot yang dipersiapkan untuk menjadi jongos alias budak alias babu, gara-gara demokrasi ; mengakibatkan perpecahan antar sahabat sekawan - persaudaraan bahkan antar keluarga cuma perkara berbeda mendukung parpol atau paslon, gara-gara demokrasi ; kita dipaksa menanam tanaman untuk kebutuhan dapur (bahkan disuruh mengkonsumsi "keong) sebagai pokok kehidupan sehari-hari karena tingginya harga kebutuhan pokok tersebut yang mencekik leher, gara-gara demokrasi ; kita semua dipaksa ikut berjudi ketika para paslon melacurkan dirinya kepada kita yang awam kepada mereka dan menanti iming-imingan uang sogokan alias serangan fajar didalam menjalankan aktivitas "Pemilu Raya" baik dalam pemilihan presiden sampai kepala daerah, gara-gara demokrasi ; semakin banyaknya penggusuran paksa terhadap rakyat asli orang-orang bangsa indonesia yang tersingkir akibat kekalahan didalam bersaing mendapatkan uang, gara-gara demokrasi ; telah memunculkan kriminalisasi rimba terhadap bapak ahok serta habib rizieq syihab yang mengakibatkan panasnya perseteruan antar etnis dan agama baik dalam isu terror - kebangkitan kader ideologi PKI terdahulu, gara-gara demokrasi ; kita semua rakyat indonesia yang susah secara ekonomi mengalami kesulitan didalam proses administrasi dan bahkan maraknya pungli ketika membuat status kewarganegaraan-hak milik tanah dan atau rumah-pajak sampai legalitas atau perpanjangan kepemilikan kendaraan bermotor, gara-gara demokrasi ; tiada hari tanpa ada unjuk rasa dari para demonstran yang meneriakkan lantang segala aspirasi serta keluhan atau kekecewaan nya sebagai parlemen jalanan terhadap pemerintah maupun pemerintahan namun malah menimbulkan keresahan khalayak ramai secara keamanan maupun kenyamanan yang terganggu (karena baik mayoritas demonstran maupun pihak keamanan selalu terjadi anarkis) rutinitasnya, gara-gara demokrasi ; semua perempuan (gadis remaja sampai ibu-ibu dapur yang lebih memilih meninggalkan kodratnya) serta guru-guru (lalai terhadap murid-murid nya yang mengakibatkan A moral dan A etika) maupun tokoh-tokoh agama (baik islam dan non islam ikut-ikutan berdemokrasi dan meninggalkan kewajibannya kepada masyarakat) tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, gara-gara demokrasi ; tuhan telah berganti menjadi uang - jabatan - kekuasaan,  dan masih banyak lagi.

   Baik dari kasus budaya dengan adanya  kontaminasi (american style - chinese style - freeseks - LGBT - miras - narkoba) gaya hidup secara berlebihan yang justru semakin meninggalkan jauh budaya tinggi leluhur kita, penegakkan hukum yang semakin tumpul dikalangan pejabat negara, KKN yang dilakukan serentak oleh hampir seluruh jajaran pejabat negara maupun seluruh parpol, mahalnya pendidikan - kesehatan yang semakin justru malah merubah paradigma makna hidup dan mengarah terhadap kerusakan Moralitas - Estetika serta Etika, pengambilan strategis kebijakan yang selalu menimbulkan pro-kontra dan atau penetapan pemimpin sebagai ajang melacur diri, cekcok perseteruan antar lembaga negara maupun organisasi formal - non formal, sentimen daerah (SARA) yang menimbulkan konflik antar sesama hingga keinginan daerah - daerah dan atau suku - agama yang ingin melepaskan diri dari persatuan indonesia.

Dalam arti bahwa berdasarkan catatan sejarah, sejak 18 agutus 1945 ketika sistem demokrasi masuk di negeri kita secara perlahan nan pasti, (itu merupakan) ancaman terjadinya kehancuran total NKRI semakin nyata didepan mata kita. Yang mana itu semua disebabkan alias gara-gara demokrasi, lantas mengapa sebegitu fatalkah itu semua terjadi cuma karena gara-gara demokrasi??
Hingga kini, demokrasi menjadi kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia di (hampir) seluruh negara-negara didunia, termasuk di NKRI.

    Sistem Demokrasi yang menggunakan metode "Parpol-Voting" (membuat kebijakan dan atau memilih pimpinan) dan juga sebagai pintu gerbang (Kapitalis-Imperialis-Kolonialis, Pragmatis, Komunis, Sosialis, Liberalis, Konservatis dll) pembebasan segala (faham/ajaran) Ideologi atas nama (kebebasan yang kebablasan) HAM merupakan produk barat. Maknanya bahwa Sistem Demokrasi bukanlah identitas asli negeri kita, dan demokrasi adalah pengkhianatan terbesar kita terhada ibu pertiwi kita yang memiliki pancasila sebagai kekasih ibu pertiwi kita.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terbentuk, diawali dengan berdirinya organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 mei 1908, serta didirikan nya Taman Siswa pada (Hardiknas 2 mei 1920 sebagai hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara) tanggal 3 juli 1922, kemudian pembacaan ikrar teks Sumpah Pemuda (Kongres Pemuda ke II pada tanggal 27-28 Oktober) tahun 1928 sebagai kelahiran Bangsa Indonesia yang dilanjutkan pembacaan teks Proklamasi oleh Dwi Tunggal Soekarno-Hatta pada tanggal 17 agustus 1945 sebagai (Kemerdekaan Bangsa) buah hasil dari perjuangan pergerakan kemerdekaan indonesia. Sehingga (satu hari setelah kemerdekaan bangsa) pada tanggal 18 agutus 1945 PPKI menetapkan UUD'1945 (Preambule dan Konstitusi) dan menunjuk Soekarno-Hatta sebagai Presiden-Wakil Presiden Republik Indonesia, dari kesemua momentum serta proses pembentukan NKRI tersebut dilakukan dengan metode "Musyawarah-Mufakat" yang merupakan produk (Pancasila sebagai sistem, etika serta tekhnologi) "asli" NKRI, bukan dengan (Sistem Demokrasi) metode "Parpol-Voting".

Baik pancasila maupun demokrasi adalah dua sisi yang berbeda dan tidak bisa kita campur sedikitpun, karena kedua sisi tersebut adalah sistem-etika dan tekhnologi yang lahir di tempat yang berbeda dan metode yang berbeda pula. Sejarah membuktikan pada saat kedua sisi tersebut dicampur, baik dalam Orde Lama dengan "demokrasi terpimpin" nya, Orde Baru dengan "demokrasi pancasila" nya mengalami kegagalan, bahkan ketika Orde Reformasi sampai saat ini dengan "demokrasi (liberal kapitalistik) total" nya yang berjalanpun semakin menggiring kita kepada jurang kehancuran persatuan - kesatuan.

  Oleh karena itu, marilah kita segera sadar dan meninggalkan segala unsur demokrasi jika kita tidak ingin ancaman kehancuran negeri kita menjadi kenyataan, tegakkanlah pancasila secara murni sebagai produk asli dan identitas kita, agar kita semua berdaulat dan selamat sebagai bangsa.
Kembali kepada pancasila sebagai sistem kemandirian berbangsa & bernegara di republik indonesia adalah suatu keharusan, karena pancasila adalah etika & tekhnologi asli dari bangsa & negara republik indonesia [/sofyan].


Oleh ;
Saya  Rakyat  Jelata
Yang bertanggung jawab penuh atas tulisan ini

Kamis, 01 Februari 2018

Fenomena Dalam Realitas Nilai




Berbagai peristiwa datang silih berganti tentunya, suhu politik terus-menerus mengalami perubahan, dan pertempuran antara Islam dan kekufuranpun berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, namun yang pasti adalah bahwa hal ihwal hanyalah bagaikan anak-anak yatim yang berada di atas onggokan sampah. Ruh shahwah islamiyyah pada masa modern mendapatkan warisan kronis berupa penyimpangan dan kemunduran (pergeseran nilai) secara menyeluruh, sebagai akibat dari ketidakberdayaan dan kelemahan yang dialami pada masa-masa sebelumnya.

Ruas keselarasan tidak akan sanggup mendrive untuk bangkit dari ketidak berdayaan dan kelemahannya hanya dengan melalui usaha individu-individu yang bersifat terbatas, sebesar apapun kemampuan dan kesanggupan yang dikerahkan. Akan tetapi semuanya membutuhkan kemampuan dan upaya secara menyeluruh yang saling melengkapi, melengkapi dan membesarkan. Jika demikian keadaannya, maka bentuk kesahajaan itu bisa dijadikan sebagai parameter untuk mendapatkan karunia, yang dapat berjalan dengan penuh kepercayaan diri serta ketenteramannya. Dan meskipun perjalanannya terasa berat dengan berbagai fenomena karena banyaknya kerikil dan rintangan, akan tetapi disuatu hari kelak, tidakkah ada di antara kita yang bertanya kepada dirinya: Apakah peran yang harus dipersembahkan dalam meniti perjalanan?

Apakah cukup bagi seseorang untuk hidup hanya sebagai penonton? yang menyaksikan perjalanan shahwah islamiyyah hanya dari jauh tanpa ikut serta mengambil perannya, kecuali hanya sekedar bertepuk tangan dan dengan mengelus dada? Ataukah cukup bagi seseorang untuk ikut berperan hanya dengan memperbanyak jumlah dan kwantitas orang-orang shalih? Ataukah cukup bagi seseorang untuk berperan hanya dengan mengucapkan la hawla wa la quwwata illa billah dan inna lillahi wa inna ilayhi roji'un, tatkala amal atau gerakan mengalami musibah yang menyedihkan atau bahkan sangat menyedihkan?

Tentu tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan keteledoran yang sangat meninabobokan suatu nalar, sehingga menyebabkan kebanyakan orang tidak mau untuk ikut andil dan memberikan daya upayanya. Mungkin suatu bentuk rasa syukur kita tentunya karena memiliki kemampuan yang tiada batas, akan tetapi kemampuan tersebut masih bersifat pasif, beku/statis dan belum tergali untuk dimanfaatkan secara maksimal dan optimal dalam berkhidmat. Bahkan kebanyakan kemampuan yang kita miliki ini dililit oleh berbagai ketidakberdayaan dan kelemahan. Sehingga tidaklah mengherankan bagi kita tatkala melihat kebanyakan perilaku orang-orang shalih yang terlahir dalam angka bukan oleh value (jumlah mereka hanyalah sanggup untuk memberatkan bumi, namun mereka tidak sanggup untuk memperjuangkan sesuatu yang agung).

Hakikinya sumber daya yang dimiliki bukanlah berupa harta, persenjataan ataupun sumber tambang dan hal lainnya, karena sesungguhnya sumber daya hakiki tersebut adalah sumber daya manusia yang perkasa, yang memiliki tanggung jawab untuk mengemban amanah yang agung. Sumber daya hakiki berupa jiwa yang senantiasa siap untuk mempersembahkan dan bahkan mengorbankan untuk mengayomi dan melindungi tentunya (jadilah seorang kesatria yang berdiri kokoh di atas tanah, namun cita-citanya tinggi menerawang hingga menancap di atas langit).

Sampai saat ini pun belum ada suatu hal yang dapat membinasakan kemauan/ambisi kuat seseorang kecuali karena dirinya sendiri, yaitu dengan merendahkan dan membungkus dirinya dengan kelemahan, hingga melumpuhkan tekadnya, dan ia pun tidak sanggup lagi untuk bergerak dan beraktifitas. Yang membuat kemampuan seseorang terasa hambar dan tidak bermanfaat tiada lain adalah karena ia mengganggap dirinya sebagai orang yang lemah, serta tidak sanggup untuk beraktifitas dan bekerja secara kreatif. Akan tetapi pada umumnya, kebanyakan orang tidaklah akan sanggup untuk menggali kemampuan dan potensi dirinya kecuali melalui pelatihan dan pengalaman yang didapat secara continue.

Tentu sudah merupakan suatu hal yang lumrah bahwa hasil kerja seseorang sangatlah tergantung pada kadar kemauan/ambisi dan tekadnya. Seseorang yang memiliki kemauan atau ambisi adalah seseorang yang memiliki tujuan dan cita-cita tinggi, walaupun bisa jadi pada saat tertentu kemampuannya belum mampu untuk menggapainya. Namun ia akan senantiasa berusaha keras untuk meningkatkan kemampuannya hingga ambisi dan cita-citanya tercapai. Dan apabila kemampuannya telah tumbuh dan tergali, maka ia tidak akan berhenti pada sasarannya yang pertama saja, tetapi ia pun terus meningkatkan dan menggalinya dengan lebih seksama tentunya.

Pada fase merengkuh kemuliaan. Di saat orang lain tiada berkeinginan menggapainya. Mereka anggap kemuliaan sebagai kehinaan hingga kebanyakan mereka bermalas-malasan. Tiadalah sanggup untuk menggapai kemuliaan, kecuali seseorang yang mau bekerja keras dan mau bersabar. Jangan samakan kemuliaan dengan sebiji korma yang gampang di telan. Dan tiadalah dapat merengkuh kemuliaan, kecuali dengan membawa dan mengepakan sayap kesabaran.

Dalam hal ini mengatasi pergeseran nilai tentu ada pada keteguhan iman yang di perkuat oleh ilmu pengetahuan dan hati sehingga melahirkan sebuah pengamalan serta suatu hal yang baru pada tatanan nilai sehingga peradaban itu mampu maju dan berkembang dengan sebagaimana mestinya pada realitas waktu. Konsekuensi logis pada seluruh tatanan kehidupan, dzat maha jujur adalah waktu dalam memprakarsai nilai dan kita adalah pemimpin didalam seluruh tatanan dunia.

Senin, 27 November 2017

DEMOKRASI SISTEM GAGAL YANG TERUS DI PERTAHANKAN



OLEH : IBRAHIM ADJIE


Semenjak di terapkanya sistem demokrasi di Republik ini hingga saat ini alih-alih merubah bangsa ini menjadi lebih baik dan sejahtera dalam kehidupanya kenyataannya malah sebaliknya negeri ini semakin kacau balau dan Rakyatnya semakin miskin.
Bukan hanya ituSumber Daya Alam yang begitu melimpah ruah tidak bisa di rasakan atau di nikmati secara maksimal oleh masyarakat bangsa ini, adapun yang lebih banyak menikmati justru bangsa asing beserta kaki tangannya. Harta bangsa ini di keruk habis oleh bangsa asing ajaibnya aksi perampokan yang di lakukan bangsa asing terhadap sumber daya alam kita di legalitas oleh peraturan perundangan yang berlaku di negeri ini salah satu contohnya adalah tambang emas Freeport di jayapura (papua).
Bukan hanya SDA kita yang keruk habis bahkan moral masyarakat bangsa ini pun di rusak sedemikian rupa dengan dalih modernisasi dan kebebasan, sehingga hilangnya nilai-nilai keTuhanan , etika dan estetika sebagai watak dasar dari prilaku asli masyarakat bangsa ini yang menjunjung tinggi keberadaban. Kenyataanya pada saat ini sangatlah kontradiktif dari sifat dasar masyarakat kita tadi yang kini telah berubah drastis menjadi Individualis, Matrealistis bahkan cenderung apatis.
Di dalam hal penataan negara pun arahnya menjadi semakin tidak jelas, praktek KORUPSI yang semakin menggila dan pertengkaran antar kelompok anak bangsa yang semakin mengkhawatirkan keutuhan dalam berbangsa dan bernegara baik kelompok organisasi politik, organisasi kemasyarakatan maupun organisasi keagamaan mereka saling beradu ini semua akibat dari bobroknya sistem bernegara kita yang menganut sistem demokrasi.
Harapan-harapan yang di janjikan dalam sistem ini sesungguhnya tiada lain hanyalah KEBOHONGAN sekaligus PEMBODOHAN terhadap masyarakat, contoh kasus dengan di selenggarakannya PESTA DEMOKRASI mulai dari PILPRES, PILEG, PILKADA PROVINSI sampai PILKADA KABUPATEN yang semua penyelenggaraannya menggunakan uang Rakyat hingga puluhan bahkan ratusan triliun rupiah namun apa yang di dapat dan di rasakan oleh Rakyat hanya kekecewaan demi kekecewaan dan Rakyat tetap hidup dalam kesusahan.
Sadarlah wahai Anak-Anak Bangsa bahwa negeri ini di ambang kehancuran akibat dari kegagalan sistem yang bernama demokrasi.
Padahal para LELUHUR BANGSA ini sudah menyiapkan rumusan konsep yang mengandung nilai-nilai KeTuhanan yang begitu tinggi luhur dan mulia yang sesuai dengan fakta tentang pola hidup keseharian bangsa Indonesia yang Agamis, toleran, bergotong royong dengan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan musyawarah selalu menjadi landasan utama dalam suatu permufakatan dan konsep itu bernama PANCASILA. Para leluhur bangsa ini bercita-cita agar Pancasila dapat di jadikan sebagai sistem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Nusanatara agar tercapainya sebuah KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA inilah cita-cita tertinggi para Founding Fathers kita.
Untuk itu saya mengajak kepada segenap anak bangsa untuk kembali kepada JATI DIRI kita sebagai bangsa yang berPancasila.
Tinggalkan sistem demokrasi yang tiada lain adalah bagian dari kepentingan asing untuk menguasai negeri ini sekaligus sebagai pintu masuk bagi ideologi-ideologi luar agar dapat berkembang di negeri kita tercinta ini.
SADAR DAN BANGKITLAH WAHAI PUTRA-PUTRI IBU PERTIWI SELAMATKAN BANGSA DAN NEGERIMU DARI KEHANCURAN, WUJUDKAN CITA-CITA MULIA LELUHURMU DAN MEREKA AKAN BANGGA PADAMU
“PANCASILA BERDAULAT BANGSA SELAMAT”
“NKRI BERAZASKAN PANCASILA BUKAN BERAZASKAN DEMOKRASI”
🇮🇩 ðŸ‡®ðŸ‡© ðŸ‡®ðŸ‡© ðŸ‡®ðŸ‡© 

Senin, 30 Oktober 2017

Menuju kebangkitan pribumi 20 Mei 2018




Oleh ;
Zikri Ahmad Fuadi

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Struktur Bangunan NKRI adalah Bangsa Indonesia sebagai pondasi dan Negara sebagai bangunan diatasnya...
Bangsa Indonesia yang terlahir pada 28 Oktober 1928, Merdeka 17 Agustus 1945 dan membentuk negara pada 18 Agustus 1945 merupakan Lintasan Kebenaran Sejarah Bangsa Indonesia yang menjadi pijakan bagaimana kita membangun Indonesia kedepan...
28 - 29 Oktober 2017 Kopdar Saudagar Nusantara di gelar diisi dengan aktivitas pemberdayaan kepada kurang lebih 7000 peserta yang hadir yang menghantarkan terjadinya sebuah peristiwa penting untuk negeri yakni Sumpah Saudagar Nusantara...
Adapun sumpah saudagar nusantara sebagai berikut...
SUMPAH SAUDAGAR NUSANTARA
Bismillahirrahmanirrahim
1. Kami saudagar Nusantara memutuskan untuk menjadi pribadi yang berdaya, dari mulai alam rasa, alam fikir, hingga alam tindak kami semua.
2. Kami saudagar Nusantara berjanji untuk menghadirkan keluarga dan rumah tangga yang berdaya, kami akan hadirkan rumah tangga rumah tangga yang kokoh, rumah tangga yang kuat, dimana anak anak akan tumbuh menjadi kuat, generasi menjadi kuat, dan tempat yang terbaik untuk mengambil energi cinta.
3. Kami saudagar Nusantara bertekat untuk membangun organisasi bisnis, membangun kekuatan produk, menghadirkan daya saing, memutuskan berjuang dan melawan, dan menolak kalah menolak menyerah.
4. Kami Saudagar Nusantara berjanji untuk mewakafkan diri kami semua, mewakafkan diri kami semua, mewakafkan diri kami semua, untuk aktifitas pemberdayaan di muka bumi nusantara, akan kami bangun forum forum pemberdayaan, akan kami isi forum forum pemberdayaan, dan tidak ada pilihan kecuali Berdaya di negeri sendiri.
5. Kami saudagar nusantara bertekat serius untuk, membangun negara indonesia, mencintai Indonesia, dan tidak akan istirahat, kecuali Indonesia mampu berdaya.
Sumpah saudagar Nusantara
29 Oktober 2017
BERDAYA DI NEGERI SENDIRI.
Membedah isi sumpah tersebut point 1 sampai point 4 bicara wilayah bangsa. point 5 bicara wilayah negara...
artinya sumpah saudagar tersebut telah menguatkan struktur NKRI, dimana bangsa sebagai pondasi dan negara sebagai bangunan diatasnya.
Fajar mulai menyingsing. Sambutlah fajar itu dengan kesadaran, dan kamu akan segera melihat matahari terbit.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Peran Pemuda Di Tengah Perpecahan



Sebagai agen perubahan, para kaum pemuda harus mampu mengubah kegaduhan yang terjadi menjadi sebuah kedalaman sesuai dengan identitas bangsa ini, persatuan.
Soekarno pernah berkata, Berikan aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia. Kalimat bung karno tersebut merupakan gambaran kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan. Bagi soekarno pemuda adalah corong dari sebuah perubahan karena kaum pemuda adalah yang kreatif, inovatif, energik, cerdas, dan berpikiran maju. Kita tentunya sudah menyaksikan bagaimana pernyataan bung karno terpatri dalam peristiwa sumpah pemuda merupakan tonggak yang penting bagi bangsa indonesia, seperti yang kita ketahui, tiga butir penting SUMPAH PEMUDA, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Tiga hal ini merupakan faktor penting bagi bangsa indonesia.
Proklamasi dan peristiwa Reformasi dimana kaum pemuda mampu berperan besar menggulingkan praktek penjajahan dari tanah air. Kedua peristiwa besar tersebut hendaknya menjadi refleksi bagi kaum pemuda. Kalau pemuda pada 1945 dan 1998 mampu mengakomodir segala kepentingan semua golongan untuk menciptakan persatuan. Mengapa kaum pemuda masa kini tidak bisa melakukan hal yang sama di tengah gejolak perpecahan yang kini sedang menerpa ibu pertiwi?
Ada beberapa kiat kontruktif yang bisa dilakukan pemuda guna melepaskan indonesia dari belenggu perpecahan ini. Pertama, melakukan aksi damai, turun ke jalan, dengan memekikkan pancasila sebagai system berbangsa dan bernegara menyatukan persepsi masyarakat. Gerakan ini diharapkan dapat menyadarkan sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa kita adalah bangsa yang berdiri diatas dasar nilai filosofi pancasila.
Mari tunjukkan semangat kebangsaan kaum pemuda dengan menjadi solusi di tengah masalah yang sedang dihadapi rakyat indonesia, bahwasanya rezim saat ini melakukan tindakan represif kepada rakyat indonesia dengan kebijakan yang tidak pro terhadap kepentingan rakyat.
Maka kami dari Bem Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) , Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI), serta Pemuda dan Pemudi Penegak Pancasila (PADIKAPAS), yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Indonesia menuntut :


TRITURA


SELAMATKAN MAHASISWA SEBAGAI ASET BANGSA DARI KEPENTINGAN ELIT POLITIK PRAKTIS

HENTIKAN TINDAKAN REPRESIFITAS PEMERINTAH TERHADAP RAKYAT INDONESIA

JADIKAN PANCASILA SEBAGAI SISTEM BERBANGSA DAN BERNEGARA

Pekan Jambore Kebangsaan Nasional mengundang Keperihatinan




Oleh ;

Rahmat Nuriyansah 



Di awal tahun 2000 an, saat bangsa ini baru saja mengalami proses transisi dan reformasi, untuk memasuki babak baru, yaitu kedewasaan kita dalam hal bernegara. Salah satunya adalah euphoria, sehingga demonstrasi menjadi salah satu cara yang paling populer untuk mengekspresikan diri, serentak merebak diseluruh tanah air. Dilakukan oleh para mahasiswa, organisasi massa, kelompok LSM, dan kelompok-kelompok lainnya. Apalagi hal ini dipicu dengan goyahnya pusat kekuasaan, sehingga presiden pun terancam di turunkan (impeachment).

Demontrasi yang awalnya terkendali dan elegan, bisa berubah menjadi kebringasan massa , saat disusupi oleh provokator. Lalu pengrusakan dan anarkisme menjadi berita keseharian. Apalagi saat bangsa ini seolah terbelah, antara pro dan kontra di sekitar sumbu-sumbu kekuasaan. Di media elektronik kekerasan itu ditampilkan, kadang teramat vulgar. Teriakan bunuh, hancurkan, darahnya halal, lalu tambah dengan pekikan Alahu akbar, seolah Tuhan meridhoi semua bentuk dan sajian kekerasan tadi.

Ada apa dengan bangsa ini? Semua serempak menjawab, kita semua sudah mengalami degradasi dalam hal rasa kebangsaan. Kita semua mengalami Krisis Kebangsaan, lupa bahwa kita semua bersaudara. Sehingga amat tak layak, ketika jaman reformasi yang dengan susah payah diusahakan bersama ini, justru harus di isi oleh perang saudara, yang siap meledak kapan saja. Ada benang merah antara demontrasi, anarkisme, penghancuran pihak lain dan  krisis kebangsaan.

Itulah kondisi yang terjadi, termasuk di Pekan Jambore Nasional Kebangsaan, yang baru saja dilaksanakan di Cipanas Kab. Cianjur. Berbagai macam kalangan aktivis berbondong-bondong hadir dengan penuh rasa percaya diri. Dari Sabang sampai Marauke. Naas, faktanya tidak sesuai dengan apa yang Pemuda harapkan. Target & sasarannya tidak pernah jelas. Hanya sekedar buang-buang Anggaran Rakyat. Saat menjadi tersendat dengan gelombang demontrasi yang nyaris tanpa henti. Harus ada solusinya, agar gonjang ganjing diluar sana, tidak harus ikut menggoyahkan suasana di tingkat lokal.

Saat itulah, ribuan aktivis seraya berdiskusi untuk mencari solusi. Ada 6000-/+ peserta yang tercatat di Pekan Jambore Kebangsaan Nasional. Kurang lebih sekitar 6 hari. Banyak ancaman baik secara vertikal maupun horizontal seperti demontrasi, ujung-ujungnya malah minta proyek agar mau diam dan tutup mulut. Acara tersebut dihadiri oleh Ketua MPR-RI, beberapa Menteri & Dosen.

Tidak ada transparansi & pengawasan yang dilakukan termasuk dalam mensinergitaskan mereka supaya bisa saling mengontrol dan tidak bertindak semaunya, apalagi jika ujungnya hanya minta bagian proyek, yang hasilnya hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. Hal ini bukan rahasia umum lagi. Ada banyak hal yang harus dikerjakan bersama, supaya kinerjanya bisa lebih efisien dan efektif serta transformasi keilmuannya dapat dipertanggung jawabkan.

Langkah kongkritnya, harus ada pertemuan akbar, yang dihadiri oleh seluruh organisasi yang terlibat. Semua harus bersepakat, bahwa situasi chaos didalam sana, tidak harus berdampak terlampau dalam. Untuk itu Gerakan Mahasiswa harus lebih cerdas dalam menyoal fakta khususnya dalam berbicara Bangsa & Negara supaya tidak lahir debit sekulerism yang tinggi.

Hari H, dilaksanakan sesuai schedule. Peserta sesak memenuhi ruangan, nampak beragam karena perbedaan atribut yang melekat. Moderator mempersilahkan Ketua MPR-RI untuk membuka Stadium Pertama materi sosialisasi 4 pilar MPR RI : Tantangan Nasionalisme Abad 21, disusul oleh menteri kewirausahaan oleh Menteri Perdagangan, Ketahanan Ekonomi Indonesia, Talk shaw anak muda tolak Radikalisme. Sampai saat ini baru 4 Materi forum tidak kondusif. Boro-boro fokus dengan materi yang disampaikan, proyek apa yang didapat! Hal ini mengundang keperihatinan bahwa sampai detik ini Pemuda terdistorsi & terdegradasi, padahal seyogyanya Pemuda adalah harapan Bangsa. Bagaimana mungkin Pemuda pemuda mau mensejahterakan Bangsa kalo watak imprealis itu melekat didalam otaknya dan menjadi sarang penyakit.

Dengan dinamika dan heterogenitas peserta, menjadi parameter mereka beberapa OKP. Sampai saat ini menjadi kondisi yang flat karena tak ada wajah yang sumeringah, kebingunan, karena terlalu thanks book-thingking bahkan sempat cek-cok diforum.

Demontrasi anarkis nyaris membelah negeri ini, sehingga kita semua dipertanyakan, apakah masih ada jiwa nasionalisme kebangsaan yang melekat dalam diri kita? Demontrasi habis-habisan, semua tenaga dan akal pikiran digunakan, melibatkan sema peserta jambore. Pekikan dan kegaduhan diforum mengambil jeda lagi, membiarkan peserta untuk membuat imajinasi dan menduga-duga.

Demontrasi itu adalah semua terlibat dalam sumbangsih ide-ide brilliat, gagasan sehingga mampu melahirkan suatu sikap. Supaya Pemuda mampu menjawab petkembangan zaman & mampu mensejahterakan Bangsa. Demontrasi yang jauh dari hawa nafsu untuk anarkis dan merusak, demontrasi yang jauh dari syahwat untuk membunuh dan menghancurkan, demontrasi yang bukan mencari pengaruh di sumbu sumbu kekuasaan.
Demontrasi ini, yang kami lakukan oleh kalangan masyarakat biasa biasa saja, justru untuk melanggengkan sang kehidupan, seraya tolong-menolong, tenggang rasa, membangun sebuah ketentraman dll. Demontrasi ini berbicara tentang semangat silaturahim. Sekian ribu peserta jambore gontok-gontokan diforum sementara Bangsa masih kebingungan besok akan makan apa. Tapi seharusnya berkumpul di tengah-tengah Pekan Jambore Kebangsaan Nasional yang menghabiskan anggaran Rakyat Milyaran rupiah, demi silaturahim berkumpul karena rahim, karena adanya kasih sayang diantara kita sesama manusia, karena kita semua Se-bangsa. Dan memecahkan persoalan Bangsa & Negara (Human Interisted).

Tak secuilpun mengalami krisis kebangsaan. Sebaliknya silahkan pertanyakan pada mereka dipusat pusat  kekuasaan atau kepada Pemateri yang bahkan siap membelah negeri, hanya agar mendapatkan sebuah kedukukan.

Sekarang, mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apakah semua yang hadir ini di ruangan ini, datang untuk silatulhoby? berkumpul hanya karena berhobi sama, kayak persatuan tukang mancing mania? Apakah silatulfikr, berkumpul semata karena menganut pola pikir yang sama? Apakah silatulilmi, berkumpul karena menguasai keilmuan yang sama? ataukah
Silatulrohmi, kita semua berkumpul karena perasaan sayang menyayangi, karena kita manusia, karena kita merasa Se-bangsa. Karena kita memiliki perasaan kebangsaan yang sama? Karena kita enggan dituduh mengalami krisis kebangsaan. Silahkan pilih?

Sebaliknya sinergistas antara eksekutif, legislatif dan aktivis, di moment Pekan Jambore Kebangsaan Nasional  jika didasari oleh semangat silaturahim, berkumpul semata karena rasa sayang. Supaya Bangsa tidak terus-menerus dijadikan korban oleh kepentingan elit global (Ekonomic Kapitalsm).

Sebuah momentum, ketika sebuah kelompok Pemuda diminta dan dipercaya untuk menjadi lem pelekat. Dalam masyarakat yang tadinya mendewakan perbedaan selaku syahwat. Padahal justru membuat kita semua, terlempar masuk kedalam ruang bersekat-sekat. Saat ini, keterpurukan fungsi dan pemeranan kita Pemuda  Indonesia menjadi hal nyata. Langkah langkah sistemik  pengkerdilan keberadaan Pemuda Indonesia bukan berita baru, termasuk usaha kriminilisasi

Mungkin Pemuda Indonesia harus melakukan re-positioning dan re-design, hal itu bisa saja terjadi. Seperti ucapan Mahatma Gandhi : Jika kamu mempunyai kebenaran, maka kebenaran itu harus ditambah dengan cinta. Jika tidak, pesan dan pembawaanya akan ditolak.

Cipanas, Thuesday 26 October 2017

Akal Akar adalah Budaya



Oleh ;
Ditto ArRsyd 
Ratusan tahun lalu masyarakat Indonesia setelah mengenal tulisan sudah mampu menciptakan teknologi dalam berkehidupan diantaranya bercocok tanam atau bertani, mendirikan sebuah bangunan, serta sudah memahami gejala rasional alam. Dalam suatu masa akan ada masanya, dan masa tersebut selalu melahirkan masa yang ada kesepemahaman antara konteks keyakinan, kemanusiaan dan lingkungan hidup, hal inilah yang senantiasa di dambakan oleh khalayak pemimpi semesta raya manusia karena untuk menuju kepada struktur tatanan sosial yang proporsional egaliter bukan hanya perihal kesejahteraan namun kebutuhan ihwal hal lain pun harus terpenuhi dari segala asek lahiriah ataupun rohani.
Peradaban tidak serta merta hadir kalau tanpa buah kasih dari seni berpikir tanpa pereduksian dari intuisi budi pekerti dan intelegensi yang kuat. Kesinambungan ini apabila mampu terjalin secara kontinyuitas dapat dipastikan setiap masing individu mempunya bom waktu nya tersendiri melalui proses menuju kesadaran kolektif yang berkeadaban dan berperadaban. Seorang petani tidak perlu diajarkan bertani, seorang guru tidak perlu diajarkan lagi mengajari dan mendidik siswanya, seorang akuntan tidak perlu diajari untuk menghitung kepemilikan, seorang nelayan tidak perlu diajarkan lagi menangkap ikan dan mengayuh dayungnya, karena setiap individu-individu tersebut mempunyai potensi-nya tersendiri dan menjauhakn diri agar selalu terhindar dari de-humaniasi.

Rabu, 02 November 2016

Negara Dalam Mengeksploitasi Idealisme Intelektual dan Polemik Ahok

Jakarta, (Pancasila Center) - Independensian Kampus sebagai tempat mencetak ikhsan 'akademis' , belakangan terus bergeser atau berubah fungsi karena kooptasi politik.

Sehingga,hari ini Negara telah menginjak injak idelaisme mahasiswa.

Sungguh sangat disayangkan bilamana seluruh kampus harus menuruti kemauan negara melalui 'kemenristekdikti' untuk tidak turun aksi dalam menyikapi satu orang penista agama.



Ini bukan disebabkan islamnya, melainkan karena pernyataan ahok ini menimbulkan polemik yang akan memecah belah kerukunan ummat beragama dan mencederai nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Bisa saja suatu saat ahok akan memperlakukan hal yang sama kepada ummat kristiani, budha, maupun hindu.

Sementara 'bangsa indonesia' adalah bangsa yang beragama, yang tentu disetiap agama itu mengajarkan untuk saling bertoleransi, dan menjunjung persatuan dan kesatuan.

Hal ini tentu saja telah dieksplorasi dalam rentang waktu yang cukup lama oleh para leluhur, sementara ahok telah menghianati hal itu. Mungkin karena pemahamannya tentang bangsa yang masih dangkal atau karena ahok sendiri yang menciptakan manuver terhadap kelompok fundamentalis.

Bilamana mahasiswa mengindahkan surat kemenristekdikti dan tidak turun kejalan menyuarakan penegakan hukum atas kasus penistaan agama yang dilakukan ahok, maka sama saja mahasiswa telah menghianati TRI DHARMA PT.

Lebih jauh lagi mahasiswa telah menghianati bangsa dan negaranya sendiri.



*Pernyataan dan Tanggapan Muhammad Rudy Tanjung Seorang Pejuang Militan Asal Selat Panjang Riau Mengenai Surat Edaran dari Kemenristekdikti sebagai Dampak dari Polemik Ahok Menjelang Demo 04/11/2016