Berbicara pada tahun 2000 an, cukup menarik terntunya yang dimana ketika tengah marak kursus dan pelatihan mental-emosional yang dekat dengan wilayah spiritual. Pada saat yang nyaris sama, lahirlah pula sekian banyak perguruan pernafasan dan tenaga dalam, dengan banyak guru-guru besarnya yang konon sudah mirip setengah dewa. Apapun lah. Namun bukan itu inti masalahnya. Pelatihan yang wah, kadang tersaji dihotel mewah, ratusan orang terperangah ketika gambar hidup terpampang dilayar lebar. Ribuan watt sound sistem menggelegar di kuping pendengar. Lalu diakhir sesi mereka mulai tersedu dalam tangis yang tertelan perlahan muncul ke insafan, walau katanya hanya bertahan hanya beberapa bulan yaaah cukup lumayan lumayan tentunya.
Sebuah sistem evaluasi diri, tentu selalu baik. Mengingatkan kita pada apa, siapa, darimana, sedang apa dan hendak kemana kita kelak. Sederet pertanyaan eksistensialis yang secara fitrah selalu terngiang dalam rongga rongga pendengaran manusia. Kita haus dengan semua jawaban jawaban itu. Layaknya orang dahaga ditengah gurun sahara, merindukan setetes air agar sang hidup tetap menyala. Agar saat kematian menjemput, jawaban itu telah tersedia, untuk kita bawa kealam sana. Tetapi ketika segala macam pelatihan sudah mulai membawa bawa ranah kesadaran, lengkap dengan pusat-pusat kecerdasannya, alias Quotient, mulai ada sesuatu yang mengganjal dalam akal logika. Apalagi waktu dibawa keranah yang paling substansial, saya mulai tak lagi paham.
What is that consciousness? Jika pendekatan yang digunakan model Sigmund Freud yang ahli psikoanalis, maka jelas jelas saya sudah gagal paham. Freud menggambarkan ruang kesadaran, layaknya ruang kelas, sebuah ruang Newton. Akibat pengaruh teori sosial darwinism yang melihat alam semesta ini layaknya mesin filter besar. Hanya yang kuat saja yang akan lolos (survival of the fittest). Dalam ruangan tadi terdapat 3 entitas pokok dengan masing-masing wilayah kekuasaannya. Aspek Ego (akal) berada ditengah, tertarik dan terjepit oleh 2 aspek lainnya yaitu Id (nafsu) dan superego (sang nurani). Ego kadang tertarik secara mekanis ke arah Id, kadang tersedot kearah superego.
Paling parah tentunya adalah ketika ruang kesadaran bisa dibagi dalam prosentase. Jika kamar ego ingin besar (akal, pintar), maka ruang Id (nafsu) dan superego (spiritual, intuitif, nurani ) dikecilkan, karena ketiganya tidak boleh melebihi angka 100%. Seorang ilmuwan, ego akalnya 90%, nafsunya 10%, dan intuisinya (yang tidak objektif ilmiah itu) di nol kan saja. Sebaliknya seorang ulama besar, pendeta agung, wilayah super-egonya 90%, akalnya cukup 5% dan nafsunya bahkan ditekan habis menuju nol prosen. Ketika masuk ke wilayah kesadaran dan kecerdasannya, hal yang sama terjadi. Semua jenis kesadaran layaknya kamar-kamar terpisah, tertutup dan terisolasi antara satu dengan yang lainnya. Seolah mereka tak saling berhubungan yang lebih lucu lagi, tak saling membutuhkan. Who is that?
Jika anda ingin sukses dunia dan akhirat, cukup Emotion Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) saja. Lalu sang intelektual Quotient (IQ) dikemanakan? Kurang penting - penting amat orang harus pintar (IQ), yang penting harus baik (EQ) dan soleh (SQ). Benar benar mengadopsi gaya Sigmund Freud. Karena pendekatannya ruang newton alias ruang materi, yang mirip kamar-kamar terpisah, maka dua hal yang pasti adalah, diperbolehkannya unsur Politis dan klaim. Sorry ulama, enggan untuk percaya? lihat kamar SQ ku 97%. Punten seorang ilmuwan tidak yakin? otak ber IQ 160. Dan disana sang Rahwana ngakak .. hua hua hua … akulah si raja begal, pengedar obat bius, mucikari PSK, karena kamar id (nafsu) ku 95% Semuanya dengan bangga menyatakan klaim. Membuat para penonton disekitar menjadi kaum yang hanya mampu terdiam dan tersipu.
Even though, seyogyanya hukum fitrah sudah berbicara. Hanya ada 2 bentuk dari keberadaan di alam semesta ini yakni berupa materi, dan berupa bentuk energi, sedang wadahnya kita sebut dengan ruang-waktu / space-time continuum. Mata untuk melihat jelas-jelas materi, namun kesadaran penglihatan, mestinya bukan dalam bentuk granular materi. Demikian halnya dengan kesadaran pendengaran, bahkan perasaan hati dalaman, semuanya bukan materi. Sehingga satu-satunya opsi, maka kesadaran mestilah dalam bentuk energy. Ada banyak bentuk materi, mulai dari liquid, solid, gas, plasma bahkan yang paling aneh dalam bentuk super-fluidal.
Demikian pula energi, formatnya juga beragam, mulai dari kalori, kinetik, potensial, bio energy sampai psiko-energi. Kesadaran adalah energi psikis, sebuah proses-mental dalam tatanan yang paling kecil layaknya dalam sebuah sel. Karena bentuknya energi, maka apapun ujudnya, satu hal yang pasti, dia harus mengikuti hukum hukum yang sesuai dengan energi itu sendiri. Hukum hukum ini mestilah sangat berbeda dengan hukum di dunia materi. Salah satu yang paling nyata adalah ketidak-mungkinannya untuk di klaim.
Jika dalam wilayah materi, dengan mudah saya katakan ini “pulpen saya karena faktanya pulpen berada ditangan saya saat itu” dan tak seorangpun memegangnya kecuali saya pribadi. Tapi coba katakana ini ide saya ! belum tentu orang mengangguk, karena mungkin saja ada orang lain ditempat itu, atau dibelahan dunia lain, yang juga mempunyai gagasan yang sama (kolektif). Bentuk pengejawantahan ini salah satu sifat energy yang tak pernah menetap. Dia selalu akan mengalir dengan dinamis, dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Jika disumbat dia akan menekan (overdrive), akibatnya bisa terjadi defisit pada saluran sesudahnya. Layaknya membayangkan sungai dari pegunungan, mengalir menuju laut. Sepanjang jalan kadang saluran menyempit menimbulkan arus deras. Kadang menggenang terhalang oleh dan alami maupun buatan. Kadang harus menguap habis menjadi awan diperjalanan. Sifat dari psiko-energi alias aliran kesadaran juga mengalir. Tidak mungkin ada ruang kamar kesadaran yang terpisah dan terkucil. Semua kamar itu mempunyai pintu yang terbuka, mereka saling terhubung antara satu dengan yang lainnya. Mengalir dalam aturan kronologis dan hierarkis, dari sebuah tingkat kesadaran pada tingkat kesadaran lainnya yang lebih tinggi. Pada setiap ranah kesadaran, mereka membentuk persepsi atas setiap realitas dalam bentuk gelombang energi. Dimana ujung dari seluruh persepsi itu adalah berupa hikmah pembelajaran kognitif atas setiap realitas yang dihadapi, ketika sang eksisten berhadapan dan terjun dalam sebuah pengalaman realitas.
Sorry , when i fail to understand. Saat IQ di nafikan dan untuk menjadi sukses, cukup hanya dengan Emotion dan Spiritual Quotient ( ESQ) saja. Secara nalar, bagaimana kita memahami Sang Maha Akal (SQ) jika akal logikanya (IQ) nya jongkok. Bagaimana menumbuhkan sebuah hikmah pemahaman (SQ), tanpa melalui proses pengertian hukum-hukum logika (IQ) terlebih dahulu. Padahal pula tak kurang dari 46 kali kata akal tertulis dalam kitab suci. Padahal tak kurang pula bahwa tolabul ilmi itu merupakan hal yang wajib. Kemudian dalam sebulan, konsep GQ disusun dalam sebuah buku cercerita tentang aliran energi-kesadaran, yang seraya membangun ranah tingkat kesadaran beserta dengan pusat pusat kecerdasannya. Dari kesadaran yang paling bawah, dimana manusia ditakdirkan untuk dilahirkan selaku mahluk eksistensialis. Mengawali keberadaan dengan kesadaran tentang keberadaannya terlebih dahulu, lalu bergerak secara transenden mencari sang esensi diri, yang menjadi jati diri. Membentuk the Integrated Quotient merupakan sebuah kecerdasan yang menyeluruh.
Mengalir dari tingkat terendah ke arah muaranya, melalui ranah-ranah kesadarannya;
a. Kecerdasan inderawi ( Physical Quotient )
b. Kecerdasan emosi ( Emotion Quotient )
c. Kecerdasan Intelektual ( Intelectual Quotient.
d. Kecerdasan Sosial ( Social Quotient )
e. Kecerdasan Profesional ( Profesional Quotient )
f. Kecerdasan mencari gagasan ( Inspirational Quotient )
g. Kecerdasan Spiritual ( Spiritual Quotient )
a. Kecerdasan inderawi ( Physical Quotient )
b. Kecerdasan emosi ( Emotion Quotient )
c. Kecerdasan Intelektual ( Intelectual Quotient.
d. Kecerdasan Sosial ( Social Quotient )
e. Kecerdasan Profesional ( Profesional Quotient )
f. Kecerdasan mencari gagasan ( Inspirational Quotient )
g. Kecerdasan Spiritual ( Spiritual Quotient )
Dari perbincangan minggu lalu dengan beberapa elemen aktivis di Bandung ada beberapa hal yang perlu kita sadari bersama bahwa sakit adalah sebuah gejala adanya blocking dalam aliran kesadaran. Sakit adalah petunjuk dimana ranah kesadaran yang harus segera dibetulkan. Sakit adalah sebuah penanda, bahwa kita sudah keluar dari fitrah sang semesta. Tidaklah salah untuk berbuat salah jika itu mengajari kita, untuk menjadi tahu mana yang benar. Berbuatlah yang benar sehingga maklum mana yang salah karena yang sebenar benarnya salah adalah saat kita tak berbuat apapun juga. Dan manusia, adalah mahluk sempurna mahluk kognitif, yang selalu belajar dari setiap pengalaman realitas saat menjalani hidup dan kehidupan karenanya Setiap langkah kemarin adalah misteri, tentu hari itu juga merupakan sejarah yang kokoh tuk dijiwai dan hari ini adalah anugerah yang tiada tertandingi.
Oleh: Rahmat Nuriyansah
(PMII - Pancasila Center - MMI - MKPN)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar