Oleh:
Rahmat Nuriyansah
(MKPN-Pancasila Center-MMI-PMII)
Bermula pada kisah pendakian, ratapan sang saka Merah Putih di bawah teriknya matahari warna langit yang membiru dan cerah. Antara ada dan tiada berbanding lurus dalam dimensi ruang & waktu. Konsep diri dalam membangun dan menata suatu tatanan peradaban sulit dipisahkan antara dead or a life dibawah holistikal Bumi.
Bahasa dalam sebuah ketiadaan, Rist Taker adalah kelompok orang dengan kepribadian mencari tantangan, disisi lain mampu memprakarsai jiawanya seperti target yang harus dicapai. Mereka ini adalah golongan risk-taker yang berani mengambil resiko, kadang dengan pertaruhan tak masuk akal. Sekalipun tampak serabutan, tapi sikap berani bertanggung-jawab atas beban target yang harus dicapai, akan dilaksanakan sebaik-baiknya.
Hujan, angin kencang, kabut tebal itulah resiko yang harus dihadapi oleh seorang risk-taker. Mencari kayu bakar seperti rutinitas saat didalam dunia pendakian karena itu bukan sebuah pilihan tetapi itulah suatu hal yang harus dikerjakan. Saat waktu itu tiba disitulah adzan harus dikumandangkan untuk menghadap kepada Sang Maha Dzat. Berdzikir, bertasbi dengan penuh rasa kemerdekaan. Disitulah Gunung menjadi tempat Sang Maha Dzat menampakan diri kepada Nabi Musa. Gunung menjadi tempat Sang Maha Dzat dalam memperlihatkan kebesarannya dan menyadarkan Nabi Musa AS untuk bertaubat.
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman". (QS: Al-A'raf Ayat: 143).
Dan layaknya risk-taker pada umumnya berjiwa besar dengan penuh ketauladanan. Semua berusaha menghindari kata “normal”, yang kebalikannya dengan kata “abnormal” karena kelak bisa dimunculkan kriteria kenormalan, yang sesungguhnya relatif atau tidak mutlak. Mungkin kata “karakter” lebih tepat, atau sebuah pola umum yang tidak pernah lepas dari nilai baik-buruk, benar-salah.
Blue print, para pengelana di rimba, para petualang ditengah belantara adalah Risk-Taker. Bukan hanya sekarang, tapi warisan dari para pendahulunya. Seorang Norman Edwin dan Didiek Syamsu, mengantar teamnya yang kena hipotermia dan frostbite di Aconcagua Argentina, ke Rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun seminggu recovery di RS, Norman dan Didiek kembali mendaki Aconcagua, semata karena tugas dan tanggung jawabnya untuk mengibarkan sang dwiwarna di puncak tertinggi benua Amerika Selatan. Walaupun untuk itu, akhirnya kedua sekawan dari Mapala UI itu, harus kembali ke Indonesia dalam kantung mayat. Risk-Taker sejati, yang mempunyai karakter serta berani mengambil resiko .
Di jalan pendakian yang begitu sangat alami resiko serta pilihan begitu banyak. Dalam setiap pemanjatan jenis batuan menjadi pusat perhatian. Setiap rekahan batu diperhitungkan, setiap alat dicocokan dengan keadaan. Pemasangan rangkaian runner tak boleh zig-zag. Jarak runner harus memperhitungkan fall-factor. Intinya pemanjatan dinding alami Semeru, Gunung Slamet, Gunung Ciremai dinding serta barat Gunung Rinjani, Yelowstone, North Face Eiger, Meru, dll. lebih menantang bagi para Risk-Taker, dimana daya tahan, daya survivabilitas, daya kreatif, antusiasme akan dipacu sampai pada batas limitnya.
Demikian pula Indonesia dalam bentangan luas Garis Katulistiwa. Peribadatan itu nampak begitu holistik saat perenungan menjadi dunia yang begitu sakral. Lalu keanehan itu muncul , layaknya sebuah anomali yang terjadi. Bahwa Sang Risk-Taker yang konon sulit diatur, dan susah dikendalikan. Padahal tak ada yang menyuruh dan mengatur, tak ada yg memberi komando, mengancam dengan sangsi, atau mengiming-imingi reward tapi untuk satu hal itu, semua sepakat, sifat Risk-Taker akan disimpan dulu disaku. Momentum itu terjadi yang diangguki secara kolektif itu, adalah isi dari secarik kertas, berjudul.
Sebuah code of conduct. Padahal jika bicara masalah konten dari code of conduct, semuanya masih bisa saja debatable, bisa saja pro dan kontra. Namun yang diangguki dan dihormati bersama, bukan dalam kontennya, terlebih dalam konteksnya, yaitu arti dan nilai-nilai sebuah “kesepakatan bersama”. Menghargai dan konsisten pada kesepakatan bersama, adalah sikap utama dari watak seorang ksatria. Sebaliknya menjilat ludah sendiri, seraya berkhianat pada komitmen awal, adalah pelanggaran terbesar, yang tak akan mendapat tempat.
Hanya sebuah pola kesepakatan bersama yang akan berlaku bagi sang Risk-Taker. Iming-iming kedudukan, kekuasaan, atau sebaliknya berupa tekanan dan ancaman, bakal dianggap sepi. Diseluruh pelosok negeri sudah membuktikan hal itu dengan terang benderang. Seberapa banyak ditekan, dituduh, dihakimi, dibekukan, dibubarkan, dipenjarakan, tak ada dukungan anggaran, di bully netizen, tetap saja Risk-Taker maju & berkembang tanpa mampu sebuah rezim penguasapun menahannya.
Sampai saat ini keadaan semakin kompleks, persoalan di masayarakat sedemikian berkembang, tentu dibutuhkan keberanian dalam membangun usaha terpadu dari Risk-Taker yang digadang-gadang sebagai garda terakhir Bangsa ini. Dibutuhkan usaha yang berkaliber untuk kembali membangun “kesepakatan bersama”, sebagai satu satunya cara menyatukan suara dari pelosok negeri.
Tentu semestinya kesepakatan berangkat dari area lokal, yang mengerucut menuju wilayah nasional. Sebuah konsep dari kesepakatan di forum lokal menuju kesepakatan di forum nasional, sebuah pendekatan bottom up. Dimana jika di lokal saja sudah tak mampu bersepakat, jangan harap diarea yang lebih luas lagi.
Sangat berbeda pendekatan komando yang bersifat top-down, entah karena politik, uang atau kekuasaan percuma saja. Kecuali hanya akan menimbulkan resistensi bersama. Juga merasa diri paling besar, paling berpengalaman, paling hebat, paling kaya, dan paling paling lainnya, tak bakal didengar. Karena semua pegiat literasi maka sudah tahu persis, bahwa di alam sana tak ada seorangpun yang bisa menundukan hukum ketidak pastian. Tidak George Mallory dan Irvine, Kapten Scott, Amundsen, bahkan Jimmy Chin, Renan Osturk, dan si kapten Conrad Anker.
Dengan cara inilah maka Sang Risk-Taker siap untuk kembali membangun Kesepakatan bersama (seyogyanya musyawarah). Untuk Kemerdekaan Bangsa Indonesia secara luas, Membela Martabat Bangsa Indonesia, Menjaga Kehormatan suatu Bangsa Indonesia serta Berdaulatnya Bangsa Indonesia.
Jakarta, 2 April 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar