Tampilkan postingan dengan label dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Januari 2018

Seharusnya Malu







Oleh : Riana Ayu Chandra


   Lagi-lagi saya menulis mengenai Mahasiswa/i. Seolah tiada bosan-bosannya saya membahas keironisan ini. Namun besar harapan saya agar artikel karya saya yang tak seberapa nilainya ini dapat dibaca dan dicermati oleh kawan-kawan Aktifis Pergerakan Mahasiswa dan khalayak umum untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan kita bersama.

  Ya.. Mahasiswa. Pelajar tingkat tertinggi yang sudah memiliki gelar Tuhan (Maha) dalam status sosialnya.

  Pelajar tingkat tertinggi yang sudah memiliki tanggung jawab terhadap pembangunan Bangsa dan Negaranya. Dan hanya di Indonesia inilah dapat anda jumpai seorang pelajar dengan penyebutan gelar Tuhan dalam status sosialnya, sebab disemua negara diseluruh dunia hanya menyebut seorang yang sudah melanjutkan tingkat pendidikannya pada tingkat bangku Perguruan Tinggi hanya dengan sebutan "siswa".

  Bukan Mahasiswa seperti di Indonesia. Menatap konstalasi nasional yang ada saat ini, dengan kondisi Indonesia yang sudah terombang-ambing dan dipukul dari seluruh sudut pertahanan yang ada. Nyatanya mahasiswa yang seharusnya menjadi "agent of change atau agen perubahan" mengalami mati suri. Ada wujudnya, namun mati dalam pergerakan.

  Mahasiswa hanya terfokus pada hal-hal yang itu-itu saja. Ada beberapa alasan yang menjadikan mahasiswa jauh berbeda dengan para pendahulunya dulu, diantaranya ialah ;

1. Pihak Kampus atau Perguruan Tinggi lebih membebankan mahasiswa dengan tugas dan IPK,
2. Hati nurani mati serta rasa peduli yang lenyap,
3. Tidak sadar akan konstalasi negaranya saat ini,
4. Lebih senang dibilang borjuis,
5. Budaya Barat dan Asing yang merubah gaya hidup Mahasiswa,
6. Mindset pertama yang ditanam ialah mindset individualis,
7. Kerja diperusahaan asing yang menjadi tujuan akhir setelah lulus,
8. Selalu beranggapan bahwa Indonesia sudah Merdeka 100% dan,
9. Ikut terjerat dalam kemajuan jaman yang malah merusak.


  Kini, entah mengapa secepat itu para kaum "intelektual" ini menganggap bahwa Indonesia sudah merdeka. Padahal nyatanya Indonesia masih dipukul diseluruh penjuru pertahanan kita.

  Seharusnya malu.. Untuk apa memiliki gelar Tuhan dalam status sosialnya bila masih buta terhadap konstalasi negaranya sendiri. Jangankan membaca konstalasi nasional, mempelajari sejarah Bangsa dan Negaranya pun enggan.

  Seharusnya malu.. Untuk apa penyebutan "agent of change" apabila hal ini hanya dijadikan sebuah penyebutan untuk dipamerkan saja tanpa pernah bisa diimplementasikan.

  Seharusnya malu.. Untuk apa melanjutkan jenjang pendidikan kalau hasilnya hanya ikut bangga hanya menjadi karyawan/wati saja, tapi tak bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk membantu masyarakat sekitar didalam memenuhi kebutuhan mereka.

Hm.. Mungkin hanya seperti ini bentuk penyadaran yang saya berikan. Semoga hasil dari artikel ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Koalisi Partai Senin Kamis Geo-Culture atau Politik Bunglon



Oleh: Rahmat Nuriyansah

Indonesia adalah negara yang sangat begitu besar. Mulai dari jumlah penduduk, luas wilayah, sumber daya alam hingga seni budaya dan adat istiadatnya. Dilihat dari Jumlah penduduknya, penduduk indonesia merupakan yang keempat terbesar didunia, dengan jumlah penduduk sekitar 258.316.051 jiwa (data Juli 2016) setelah Amerika, Cina, dan India. Dan menjadi salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah sebesar 1,904,569 km2 dengan jumlah pulau sebanyak 17.508 pulau.
Dalam hal ini tentu tidak terlepas dari keberadaan partai politik itu sendiri, konon negara kita menganut system demokrasi dan negara kita sangat begitu kaya & besar maka partai politik di indonesia harus banyak pula. Tapi semua itu justru menjadi petaka bagi keberadaan & kemajuan Bangsa bahkan menjadi ancaman keberadaan Negara (human error). Tidak adanya proses affirmasi pada tubuh partai politik itu sendiri sehingga menyebabkan partai tersebut bisa bergerak secara kondisional artinya tidak adanya sebuah aturan dasar dan komitmen untuk bersama-sama menumbuhkembangkan peradaban yang ada di Indonesia.

Evaluasi system demokrasi menjelang Pilwalkot, Pilkada dan Pilgub menjadi salah satu tranding topik baik dikalangan elit baik vertikal maupun horizontal secara keseluruhan khususnya di jawa barat & jawa tengah. Tentu sangat menarik keberadaan masyarakat luas yang kerap kali kita ketahui bersama terjadinya politik bunglon baik di Indonesia pada umumnya maupun di jawa barat dan jawa tengah. Ada banyak hal yang kita ketahui bersama kenapa Bangsa & Negara kita sulit untuk maju dan berkembang, dengan keberadaan partai politik itu sendiri. Tentu ada pada mental partai politik itu sendiri. Lain ladang lain belalang sangat begitu jauh berbeda dengan 2 Partai Raksasa di Amerika (partai rebublik & partai demokrat). Partai tersebut mampu memberikan sinyal positif bagi masyarakat luas di Amerika bahkan sangat begitu mudah untuk maju berkembang dengan pesat. Katakanlah partai repuplik berada di pemerintahan dan partai demokrat berada non-pemerintah.Kedua partai tersebut sangat berfungsi dengan baik sehingga check & balance itu ada dan melekat di tubuh Amerika itu sendiri.

Bagaimana keberadaan partai politik di Indonesia Itu sendiri? Apakah justru keberadaan partai politik merugikan Bangsa & Negara kita? tentu keberadaan partai di Indonesia justru merugikan Bangsa & Negara kita. Karena esensi dalam berpartai belum mempunyai dasar yang kuat akhirnya lahirlah politik bunglon tahun ini ikut siapa, tahun depan ikut kemana. Itulah yang di sebut bahwasannya partai politik di Indonesia belum mempunyai karakter yang utuh (gray area political).

Seharusnya partai politik itu mempunyai esensi yang jelas, apa yang dilakukan partai politik adalah mengajarkan ilmu. Tujuannya hanya untuk menjadikan partai politik itu berkarakter & berintegritas. Dan partai politik mampu menginspirasi masyarakat luas Indonesia, seraya menciptakan hal hal baru, bagi perkembangan sejarah dan budaya manusia serta kemanusiaan itu sendiri. Menginjak Abad-21 sudah dimulai, perubahan itu terjadi secara signifikan sehingga partai politik bisa menjadi inspirator bagi sekelilingnya. Bukan hanya mengajarkan perangkat untuk menjadi seorang spesialis teknis.

Tujuan utama partai politik harusnya jelas sama halnya dalam pembentukan karakter, sama halnya pendidikan. Sebuah wilayah soft skills, dimana satu satunya metoda adalah dengan cara partisi-patorik. Artinya dengan pengalaman realitas secara langsung, bersifat orisinil dan bukan permainan topeng diwajah. Partai politik yang menginspirasi, haruslah partai politik yang berjiwa inspirator, yang bukan hanya bisa mengajarkan melihat dan mendengar, namun juga meneliti, menyimak dan merasakan secara holistik.

Dalam sebuah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kekayaan perusahaan bukan lagi sumber daya manusia, modal kerja dan assets, namun justru pengetahuan pengetahuan baru (knowledge) yang bermanfaat secara langsung bagi masyarakat secara keseluruhan. Seperti Bill Gates (windows), Marc Zuckerberg (facebook), Jack Dorsey (twitter), Steve Chen (youtube), Sergey Brin (google) dan aplikasi smartphone lainnya, semuanya itu adalah pengetahuan temuan baru. Menginjak Abad-21 para pemimpin masa depan (partai politik), bukanlah mereka yang punya visi super canggih. Namun mereka yang sanggup menginspirasi anak buahnya untuk juga mempunyai visi. Tugas pemimpin adalah menyatukan semua visi tadi untuk membawa visi besar, dalam meraih kesejahteraan bersama. Demi maju dan berkembangnya suatu peradaban melalui karakter Bangsa.

Dalam berpartai seharusnya politisi adalah seorang inspirator, dengan kata lain seorang inspirator sesungguhnya juga menjadi guru pendidik bagi komunitasnya. Sebaliknya, siapapun yang tidak menebarkan atmosfir ter-inspirasi. Yang dengan ketokohannya seraya hanya mengandalkan kekuatan dogma yang sudah berkarat dan terkunci. Kadang dengan ancaman pemberian label-label yang menakutkan dan menyeramkan. Hanyalah para pengajar, yang mengharuskan murid-murid dan pengikutnya menganguk-angguk layaknya burung beo.

Bagi mereka kata inspirasi menjadi musuh dan sekaligus kejahatan besar bagi sang Status Quo. Jadi Koalisi Partai Politik senin kamis haruslah dibumi hanguskan supaya check & balance itu ada pada tubuh Indonesia.

Senin, 27 November 2017

DEMOKRASI SISTEM GAGAL YANG TERUS DI PERTAHANKAN



OLEH : IBRAHIM ADJIE


Semenjak di terapkanya sistem demokrasi di Republik ini hingga saat ini alih-alih merubah bangsa ini menjadi lebih baik dan sejahtera dalam kehidupanya kenyataannya malah sebaliknya negeri ini semakin kacau balau dan Rakyatnya semakin miskin.
Bukan hanya ituSumber Daya Alam yang begitu melimpah ruah tidak bisa di rasakan atau di nikmati secara maksimal oleh masyarakat bangsa ini, adapun yang lebih banyak menikmati justru bangsa asing beserta kaki tangannya. Harta bangsa ini di keruk habis oleh bangsa asing ajaibnya aksi perampokan yang di lakukan bangsa asing terhadap sumber daya alam kita di legalitas oleh peraturan perundangan yang berlaku di negeri ini salah satu contohnya adalah tambang emas Freeport di jayapura (papua).
Bukan hanya SDA kita yang keruk habis bahkan moral masyarakat bangsa ini pun di rusak sedemikian rupa dengan dalih modernisasi dan kebebasan, sehingga hilangnya nilai-nilai keTuhanan , etika dan estetika sebagai watak dasar dari prilaku asli masyarakat bangsa ini yang menjunjung tinggi keberadaban. Kenyataanya pada saat ini sangatlah kontradiktif dari sifat dasar masyarakat kita tadi yang kini telah berubah drastis menjadi Individualis, Matrealistis bahkan cenderung apatis.
Di dalam hal penataan negara pun arahnya menjadi semakin tidak jelas, praktek KORUPSI yang semakin menggila dan pertengkaran antar kelompok anak bangsa yang semakin mengkhawatirkan keutuhan dalam berbangsa dan bernegara baik kelompok organisasi politik, organisasi kemasyarakatan maupun organisasi keagamaan mereka saling beradu ini semua akibat dari bobroknya sistem bernegara kita yang menganut sistem demokrasi.
Harapan-harapan yang di janjikan dalam sistem ini sesungguhnya tiada lain hanyalah KEBOHONGAN sekaligus PEMBODOHAN terhadap masyarakat, contoh kasus dengan di selenggarakannya PESTA DEMOKRASI mulai dari PILPRES, PILEG, PILKADA PROVINSI sampai PILKADA KABUPATEN yang semua penyelenggaraannya menggunakan uang Rakyat hingga puluhan bahkan ratusan triliun rupiah namun apa yang di dapat dan di rasakan oleh Rakyat hanya kekecewaan demi kekecewaan dan Rakyat tetap hidup dalam kesusahan.
Sadarlah wahai Anak-Anak Bangsa bahwa negeri ini di ambang kehancuran akibat dari kegagalan sistem yang bernama demokrasi.
Padahal para LELUHUR BANGSA ini sudah menyiapkan rumusan konsep yang mengandung nilai-nilai KeTuhanan yang begitu tinggi luhur dan mulia yang sesuai dengan fakta tentang pola hidup keseharian bangsa Indonesia yang Agamis, toleran, bergotong royong dengan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan musyawarah selalu menjadi landasan utama dalam suatu permufakatan dan konsep itu bernama PANCASILA. Para leluhur bangsa ini bercita-cita agar Pancasila dapat di jadikan sebagai sistem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Nusanatara agar tercapainya sebuah KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA inilah cita-cita tertinggi para Founding Fathers kita.
Untuk itu saya mengajak kepada segenap anak bangsa untuk kembali kepada JATI DIRI kita sebagai bangsa yang berPancasila.
Tinggalkan sistem demokrasi yang tiada lain adalah bagian dari kepentingan asing untuk menguasai negeri ini sekaligus sebagai pintu masuk bagi ideologi-ideologi luar agar dapat berkembang di negeri kita tercinta ini.
SADAR DAN BANGKITLAH WAHAI PUTRA-PUTRI IBU PERTIWI SELAMATKAN BANGSA DAN NEGERIMU DARI KEHANCURAN, WUJUDKAN CITA-CITA MULIA LELUHURMU DAN MEREKA AKAN BANGGA PADAMU
“PANCASILA BERDAULAT BANGSA SELAMAT”
“NKRI BERAZASKAN PANCASILA BUKAN BERAZASKAN DEMOKRASI”
🇮🇩 ðŸ‡®ðŸ‡© ðŸ‡®ðŸ‡© ðŸ‡®ðŸ‡© 

Kamis, 19 Mei 2016

MANUSIA IKHSAN DI BUMI DENGAN MUSYAWARAH - MUFAKAT ATAU KESEPAKATAN DEMOKRASI

Bagaimana menunjuk dan atau melahirkan seorang Pemimpin yang berjiwa Kesatria, yang membangun Peradaban dan Tekhnologi di Dunia???




Manusia diciptakan di muka Bumi dalam perbedaan dimensi ruang ( Langit ) dan waktu, Warna kulit, Ras, Suku-suku, Agama, ribuan Bahasa dalam teritorial berbeda untuk Saling Mengenal dan Pandai berbicara ( Berilmu ) dengan Akal - Nafsu yang dimiliki Sebagaimana Hakekat nya manusia.


    Dan didalam menyelesaikan Suatu permasalahanpun, secara turun temurun Manusia diajarkan untuk Bermusyawarah dalam ribuan perbedaan pendapat untuk mendapatkan satu Mufakat membangun suatu Kebijakan oleh Pemimpin berdasarkan Hasil musyawarah tersebut.


 Sehingga apapun segala macam permasalahan nya untuk mendapatkan Mufakat, seorang Pemimpin yang terlahir didalam membuat Kebijakan apapun hanya berdasarkan hasil dari musyawarah-mufakat. Karena Pemimpin adalah seorang yang memimpin suatu Kaum, Ummat, Bangsa, Negara dan atau suatu Kelompok atas dasar Kemaslahatan ( Kesejahteraan ) Ummat didalam membangun suatu peradaban maupun Tekhnologi Orginal berdasarkan Budaya, Hukum, Sosial, Politik, Ekonomi maupun Lingkungan.


Makna nya bahwa pada saat Musyawarah - Mufakat dijalankan, Hakekat manusia sebagai seorang pemimpin yang Pandai berbicara ( Berilmu) secara bersamaan ( Alamiah ) terjadi, Dimana sikap Kepemimpinan ( Kemampuan ) di dalam Musyawarah - Mufakat terjadi kemampuan memiliki Kompetensi, Komunikatif, Kepedulian, Keberanian pada saat membuat suatu Kebijakan Kebijakan dari Permasalahan yang sudah di Mufakati sebagai bentuk Kreativitas ( Trust Sharing ) Musyawarah - Mufakat.




                                           MUSYAWARAH

                                                                   
Mengutamakan  Gotong Royong dengan dasar Kasih Sayang Kekeluargaan. Kepandaian mengungkapkan Pendapat atas dasar Ilmu, Tekhnik, Management sebagi Hak nya.

                                                                      ||

                                                         MUFAKAT

                                                                      ||

Membangun Kemampuan Kompetensi, Komunikatif, Kepedulian dan Keberanian untuk Kreativitas Kemaslahatan Ummat. Putusan Kebijakan yang di bangun dari Perbedaan Pendapat berdasarkan Kemaslahatan.

                                                                      ||                      

                                                     PEMIMPIN

                                                                      ||

Mandataris yang membawa Amanat Kebijakan Ummat yang sudah di Mufakati.






  Akan tetapi, ketika manusia di dalam menyelesaikan segala Permasalahan nya menggunakan Metode Demokrasi, bisa di pastikan yang namanya Perpecahan Kepentingan setiap Individu maupun Kelompok manusia tersebut sebagai dasar nya. Karena memang Metode Demokrasi terjadi di dalam menyelesaikan permasalahan pengambilan Kebijakan - kebijakan Putusan menggunakan dan atau mengedepankan Perdebatan Konflik ( Asumsi dan Hawa Nafsu ) yang di selesaikan dengan Kesepakatan ( Hak Suara / Dominasi Kekuasaan ) bersama berdasarkan Kepentingan Individu maupun Kelompok tertentu yang melahirkan Penguasa hasil Cipta Rekayasa Kesepakatan.




                                                         DEMOKRASI

                                        

Menggunakan Kekuatan Status dengan Kekuatan Modal untuk Mendapatkan Kekuatan Suara.
Mengedepankan maupun Menanamkan Intrik Kedengkian ( Hawa nafsu ) untuk Mendapatkan Kekuatan.

                                                                                ||

                                                              KESEPAKATAN

                                                                                ||

Merekayasa Kesepakatan Suara Terbanyak dan Membentuk Gabungan Kekuatan Kelompok untuk setiap Wilayah Kekuasaan

                                                                                ||

                                                              PENGUASA

                                                                               ||

Mandataris yang membawa Amanat Kebijakan Kepentingan Kekuatan Individu maupun Kelompok yang sudah di Sepakati.








Makna nya bahwa Pada saat Kesepakatan Berdemokrasi dijalankan, Hakekat manusia tercipta sebagai pemimpin yang Pandai berbicara ( Berilmu ) secara bersamaan ( Rekayasa ) terjadi, Dimana hanya Sikap Kekuasaaan ( Kemampuan Merekayasa) lah yang di utamakan di dalam menciptakan Kompetensi, Komunikatif, Kepedulian, maupun Keberanian membuat suatu Putusan Kebijakan dari Permasalahan tersebut hanyalah Bentuk Kesepakatan Rekayasa atas dasar Kepentingan Penguasa maupun Kelompok tertentu ( Power Sharing ) belaka. Tidak mengherankan jika Suatu kaum, Ummat dan atau Negri yang di Pimpin oleh Penguasa menggunakan metode Demokrasi selalu menimbulkan bermacam Bencana Alam maupun bermacam - macam Krisis Budaya, Hukum, Sosial, Politik, Ekonomi maupun Lingkungan yang mengancam Perpecahan besar - besaran, baik secara Cepat atau Lambat.