Tampilkan postingan dengan label imprealisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imprealisme. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juli 2018

Sekilas tentang Gerakan Kemerdekaan Indonesia dan Sejarah Perjalanan Bangsa

 


  Sesungguhnya bukan pada kualitas pemimpin itu sendiri melainkan pada Sistem yang dibangun, lebih tepatnya pada kualitas Pemimpin dalam membangun sebuah sistem. Seperti bahasa yang lugas "beriring-iringan patah ditengah" disampaikan Dr. A. Rivai dan Dr. Tjipto, niscaya akan memegang peranan yang jauh berlainan sekali di dalam gerakan kemerdekaan Indonesia jika disini ada kapital besar milik bumiputra.

  Sejak runtuhnya kerajaan Majapahit dan masuknya era penjajahan oleh Bangsa Belanda, maka seluruh aspek kehidupan Bangsa yang bernaung dibawah kerajaan dan kesultanan yang tersebar diseluruh Nusantara secara perlahan tapi pasti telas dikuasi oleh Bangsa Belanda.

  Bangsa Besar yang kodratnya adalah bangsa lautan/bahari, secara perlahan dan pasti oleh penjajah telah diubah kodratnya menjadi bangsa daratan/ agraris. Dengan politik ''devide et impera" Bangsa Belanda dengan mudah menguasai dan menakhlukan semua kerajaaan dan Kesultanan Nusantara dan dikendalikan sesuai dengan kepentingannya. Dan saat itu mulailah era penjajahan/ penindasan masuk yang melahirkan berbagai macam kesengsaraan rakyat Nusantara. Perlakuan tersebut telah membangkitkan dan mendorong semangat para pemimpin kelompok Anak Bangsa untuk melakukan perlawanan atas ketidakadilan.

  Orde lama, orde baru, reformasi bahkan sampai saat ini merupakan dekade penjajah yunani secara soft power. Bangsa Indonesia hidup dengan penuh latar belakang yang kusam padahal banyak Negara- negara kecil dan miskin di dunia yang kaya karena kekayaan sumber daya alam Indonesia. Hal ini sulit direduksi oleh aktivis muda maupun elite politik bahkan sekelas pakar sekaligus. Tentu menjadi bahan evaluasi bersama atas runtuhnya semangat patriotisme Bangsa Indonesia dibawah "sistem liberalistik kapitalisme" yang berasal dari yunani.

  Faktanya adalah Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim itu dikebiri menggunakan SARA, di level Ulamapun banyak Ulama yang salah kaprah dalam menarasikan Islam. For example: ramainya Islam Nusantara, salah satu Ustadzah dibiarkan memohon-mohon maaf di atas kesalahpahaman tentang Islam Nusantara di salah satu televisi nasional dan itu live ditonton seluruh dunia. Jelas ini menyimpang dari ajaran nenek moyang kita, baik para wali dan sunan.

  Hal ini disebabkan akibat dipaksakannya sistem demokrasi yang berasal dari yunani. Sebagai akibatnya masyarakat nusantara yang semula selalu rukun, damai, welas asih, suka tolong menolong, dan menjaga silaturahmi telah berubah menjadi masyarakat yang individualis, egois, mementingkan diri sendiri.

  Hubungan harmonis yang pernah ada dalam kehidupan masyarakat telah berubah menjadi disharmonis sudah menjurus ke arah SARA (suku, agama dan ras) yang membahayakan keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan ini sudah berada dalam titik nadir tentu perlu penyelamatan segera. Berkenaan dengan sistem tata cara berbangsa dan bernegara (belief of system).

  Harmonisasi sains & teknologi (Pancasila) merupakan solusi yang tepat untuk melindungi dan menjaga keutuhan suatu peradaban dalam gugus segita potensi Bangsa. Yang mampu dijadikan sebagai regulator dan koridor (sistem) dalam kehidupan tata cara berbangsa dan bernegara yang baik dan benar, guna tidak menimbulkan kehidupan yang pragmatis, individualistis, persaingan, perpecahan dll.

  Para pemangku Amanah Bangsa yakni agamawan yang melakukan perlawanan terhadap belanda seperti perng padri, perang di ponogoro, perang maluku dan sebagainya. Cendikiawan yang melakukan perlawanan dengan cara meningkatkan pendidikan terhadap anak bangsa. Tentara keamanan rakyat (TKR) dengan penuh kesadaran mengangkat senjata terhadap Belanda kemudian menjadi cikal bakal Tentara Repulik Indonesia. Dan peran penting para Raja, Sultan dan Pemangku Adat yang menggunakan kekayaan dan kemampuan yang dimilikinya untuk membantu perjuangan tersebut. Keterlibatan mereka adalah fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri dan sebenarnya mereka adalah Pewaris Amanah Bangsa yang Sah.

  Indonesia mempunyai budaya keaneka ragaman adat istiadat yang menjadi pandu dunia. Tentu semua haruslah berangkat melalui history bukan story dan berbasis kesadaran nilai bahwa Indonesia adalah Negara Terkuat secara Potensi Bangsa & Terkaya secara sumber daya alam di dunia (mercusuar dunia) bahwa "gemah ripaloh jinawi toto tentrem kerto raharjo" itu haruslah melekat ditubuh Peradaban Masyarakat Nusantara.

Jakarta, 23 July 2018
PKC PMII Jawa Barat, Ketua Bidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan & Explorasi Teknologi, MMI Jawa Barat & TIM Brebes Mengabdi

Rahmat Nuriyansah

Minggu, 14 Januari 2018

Koalisi Partai Senin Kamis Geo-Culture atau Politik Bunglon



Oleh: Rahmat Nuriyansah

Indonesia adalah negara yang sangat begitu besar. Mulai dari jumlah penduduk, luas wilayah, sumber daya alam hingga seni budaya dan adat istiadatnya. Dilihat dari Jumlah penduduknya, penduduk indonesia merupakan yang keempat terbesar didunia, dengan jumlah penduduk sekitar 258.316.051 jiwa (data Juli 2016) setelah Amerika, Cina, dan India. Dan menjadi salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah sebesar 1,904,569 km2 dengan jumlah pulau sebanyak 17.508 pulau.
Dalam hal ini tentu tidak terlepas dari keberadaan partai politik itu sendiri, konon negara kita menganut system demokrasi dan negara kita sangat begitu kaya & besar maka partai politik di indonesia harus banyak pula. Tapi semua itu justru menjadi petaka bagi keberadaan & kemajuan Bangsa bahkan menjadi ancaman keberadaan Negara (human error). Tidak adanya proses affirmasi pada tubuh partai politik itu sendiri sehingga menyebabkan partai tersebut bisa bergerak secara kondisional artinya tidak adanya sebuah aturan dasar dan komitmen untuk bersama-sama menumbuhkembangkan peradaban yang ada di Indonesia.

Evaluasi system demokrasi menjelang Pilwalkot, Pilkada dan Pilgub menjadi salah satu tranding topik baik dikalangan elit baik vertikal maupun horizontal secara keseluruhan khususnya di jawa barat & jawa tengah. Tentu sangat menarik keberadaan masyarakat luas yang kerap kali kita ketahui bersama terjadinya politik bunglon baik di Indonesia pada umumnya maupun di jawa barat dan jawa tengah. Ada banyak hal yang kita ketahui bersama kenapa Bangsa & Negara kita sulit untuk maju dan berkembang, dengan keberadaan partai politik itu sendiri. Tentu ada pada mental partai politik itu sendiri. Lain ladang lain belalang sangat begitu jauh berbeda dengan 2 Partai Raksasa di Amerika (partai rebublik & partai demokrat). Partai tersebut mampu memberikan sinyal positif bagi masyarakat luas di Amerika bahkan sangat begitu mudah untuk maju berkembang dengan pesat. Katakanlah partai repuplik berada di pemerintahan dan partai demokrat berada non-pemerintah.Kedua partai tersebut sangat berfungsi dengan baik sehingga check & balance itu ada dan melekat di tubuh Amerika itu sendiri.

Bagaimana keberadaan partai politik di Indonesia Itu sendiri? Apakah justru keberadaan partai politik merugikan Bangsa & Negara kita? tentu keberadaan partai di Indonesia justru merugikan Bangsa & Negara kita. Karena esensi dalam berpartai belum mempunyai dasar yang kuat akhirnya lahirlah politik bunglon tahun ini ikut siapa, tahun depan ikut kemana. Itulah yang di sebut bahwasannya partai politik di Indonesia belum mempunyai karakter yang utuh (gray area political).

Seharusnya partai politik itu mempunyai esensi yang jelas, apa yang dilakukan partai politik adalah mengajarkan ilmu. Tujuannya hanya untuk menjadikan partai politik itu berkarakter & berintegritas. Dan partai politik mampu menginspirasi masyarakat luas Indonesia, seraya menciptakan hal hal baru, bagi perkembangan sejarah dan budaya manusia serta kemanusiaan itu sendiri. Menginjak Abad-21 sudah dimulai, perubahan itu terjadi secara signifikan sehingga partai politik bisa menjadi inspirator bagi sekelilingnya. Bukan hanya mengajarkan perangkat untuk menjadi seorang spesialis teknis.

Tujuan utama partai politik harusnya jelas sama halnya dalam pembentukan karakter, sama halnya pendidikan. Sebuah wilayah soft skills, dimana satu satunya metoda adalah dengan cara partisi-patorik. Artinya dengan pengalaman realitas secara langsung, bersifat orisinil dan bukan permainan topeng diwajah. Partai politik yang menginspirasi, haruslah partai politik yang berjiwa inspirator, yang bukan hanya bisa mengajarkan melihat dan mendengar, namun juga meneliti, menyimak dan merasakan secara holistik.

Dalam sebuah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kekayaan perusahaan bukan lagi sumber daya manusia, modal kerja dan assets, namun justru pengetahuan pengetahuan baru (knowledge) yang bermanfaat secara langsung bagi masyarakat secara keseluruhan. Seperti Bill Gates (windows), Marc Zuckerberg (facebook), Jack Dorsey (twitter), Steve Chen (youtube), Sergey Brin (google) dan aplikasi smartphone lainnya, semuanya itu adalah pengetahuan temuan baru. Menginjak Abad-21 para pemimpin masa depan (partai politik), bukanlah mereka yang punya visi super canggih. Namun mereka yang sanggup menginspirasi anak buahnya untuk juga mempunyai visi. Tugas pemimpin adalah menyatukan semua visi tadi untuk membawa visi besar, dalam meraih kesejahteraan bersama. Demi maju dan berkembangnya suatu peradaban melalui karakter Bangsa.

Dalam berpartai seharusnya politisi adalah seorang inspirator, dengan kata lain seorang inspirator sesungguhnya juga menjadi guru pendidik bagi komunitasnya. Sebaliknya, siapapun yang tidak menebarkan atmosfir ter-inspirasi. Yang dengan ketokohannya seraya hanya mengandalkan kekuatan dogma yang sudah berkarat dan terkunci. Kadang dengan ancaman pemberian label-label yang menakutkan dan menyeramkan. Hanyalah para pengajar, yang mengharuskan murid-murid dan pengikutnya menganguk-angguk layaknya burung beo.

Bagi mereka kata inspirasi menjadi musuh dan sekaligus kejahatan besar bagi sang Status Quo. Jadi Koalisi Partai Politik senin kamis haruslah dibumi hanguskan supaya check & balance itu ada pada tubuh Indonesia.

Senin, 27 November 2017

DEMOKRASI SISTEM GAGAL YANG TERUS DI PERTAHANKAN



OLEH : IBRAHIM ADJIE


Semenjak di terapkanya sistem demokrasi di Republik ini hingga saat ini alih-alih merubah bangsa ini menjadi lebih baik dan sejahtera dalam kehidupanya kenyataannya malah sebaliknya negeri ini semakin kacau balau dan Rakyatnya semakin miskin.
Bukan hanya ituSumber Daya Alam yang begitu melimpah ruah tidak bisa di rasakan atau di nikmati secara maksimal oleh masyarakat bangsa ini, adapun yang lebih banyak menikmati justru bangsa asing beserta kaki tangannya. Harta bangsa ini di keruk habis oleh bangsa asing ajaibnya aksi perampokan yang di lakukan bangsa asing terhadap sumber daya alam kita di legalitas oleh peraturan perundangan yang berlaku di negeri ini salah satu contohnya adalah tambang emas Freeport di jayapura (papua).
Bukan hanya SDA kita yang keruk habis bahkan moral masyarakat bangsa ini pun di rusak sedemikian rupa dengan dalih modernisasi dan kebebasan, sehingga hilangnya nilai-nilai keTuhanan , etika dan estetika sebagai watak dasar dari prilaku asli masyarakat bangsa ini yang menjunjung tinggi keberadaban. Kenyataanya pada saat ini sangatlah kontradiktif dari sifat dasar masyarakat kita tadi yang kini telah berubah drastis menjadi Individualis, Matrealistis bahkan cenderung apatis.
Di dalam hal penataan negara pun arahnya menjadi semakin tidak jelas, praktek KORUPSI yang semakin menggila dan pertengkaran antar kelompok anak bangsa yang semakin mengkhawatirkan keutuhan dalam berbangsa dan bernegara baik kelompok organisasi politik, organisasi kemasyarakatan maupun organisasi keagamaan mereka saling beradu ini semua akibat dari bobroknya sistem bernegara kita yang menganut sistem demokrasi.
Harapan-harapan yang di janjikan dalam sistem ini sesungguhnya tiada lain hanyalah KEBOHONGAN sekaligus PEMBODOHAN terhadap masyarakat, contoh kasus dengan di selenggarakannya PESTA DEMOKRASI mulai dari PILPRES, PILEG, PILKADA PROVINSI sampai PILKADA KABUPATEN yang semua penyelenggaraannya menggunakan uang Rakyat hingga puluhan bahkan ratusan triliun rupiah namun apa yang di dapat dan di rasakan oleh Rakyat hanya kekecewaan demi kekecewaan dan Rakyat tetap hidup dalam kesusahan.
Sadarlah wahai Anak-Anak Bangsa bahwa negeri ini di ambang kehancuran akibat dari kegagalan sistem yang bernama demokrasi.
Padahal para LELUHUR BANGSA ini sudah menyiapkan rumusan konsep yang mengandung nilai-nilai KeTuhanan yang begitu tinggi luhur dan mulia yang sesuai dengan fakta tentang pola hidup keseharian bangsa Indonesia yang Agamis, toleran, bergotong royong dengan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan musyawarah selalu menjadi landasan utama dalam suatu permufakatan dan konsep itu bernama PANCASILA. Para leluhur bangsa ini bercita-cita agar Pancasila dapat di jadikan sebagai sistem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Nusanatara agar tercapainya sebuah KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA inilah cita-cita tertinggi para Founding Fathers kita.
Untuk itu saya mengajak kepada segenap anak bangsa untuk kembali kepada JATI DIRI kita sebagai bangsa yang berPancasila.
Tinggalkan sistem demokrasi yang tiada lain adalah bagian dari kepentingan asing untuk menguasai negeri ini sekaligus sebagai pintu masuk bagi ideologi-ideologi luar agar dapat berkembang di negeri kita tercinta ini.
SADAR DAN BANGKITLAH WAHAI PUTRA-PUTRI IBU PERTIWI SELAMATKAN BANGSA DAN NEGERIMU DARI KEHANCURAN, WUJUDKAN CITA-CITA MULIA LELUHURMU DAN MEREKA AKAN BANGGA PADAMU
“PANCASILA BERDAULAT BANGSA SELAMAT”
“NKRI BERAZASKAN PANCASILA BUKAN BERAZASKAN DEMOKRASI”
🇮🇩 ðŸ‡®ðŸ‡© ðŸ‡®ðŸ‡© ðŸ‡®ðŸ‡© 

Senin, 23 Mei 2016

MOJOPAHIT, HINDIA BELANDA, NUSANTARA, BANGSA INDONESIA

Tanah Air Nusantara, yang telah dipersatukan dengan Sumpah Palapa ( Pada saat Ratu Tribhuwanatunggadewi mengangkat Patih Gajah Mada sebagai Patih Mojopahit : 1334 dan Upacara pengangkatan Sumpah / Sumpah Palapa Patih Gajah Mada sebagai Patih Mojopahit menjadi Patih Amangkubumi dalam Tujuan Penyatuan Nusantara ) pada zaman Kerajaan Mojopahit, disewa oleh Belanda atas nama V.O.C sedikit demi sedikit pada zaman yang sudah berbeda. Pada akhirnya, di tanah-tanah yang sudah semakin luas di sewa tersebut diterapkan strategi ( 1830 : Penetapan Sistem Cultuurestelsel oleh Gubernur Jendral Van Den Bosch, Penetapan Undang Undang Agraria 1870 sebagai pengganti lanjutan Cultuurestelsel ) Cultuurestelsel untuk memiskinkan, membodohkan, dan menindas ( Kaum Inlander merupakan rakyat pribumi yang sebagian besar merupakan dampak akibat sistem Cuulturestelsel dan Politik Etis ) rakyat yang bergantung kehidupannya kepada tanah-tanah ( 17 September 1901 : Ratu Wilhelmina menetapkan sistem Politik Etis sebagai suatu sistem balas budi terhadap pribumi atas dasar orientasi imprealis-kolonialis perbudakan pribumi ; Pembangunan Perbaikan seluruh Pengairan milik pribumi, anjuran untuk bertransmigrasi dan mengenyam Pendidikan maupun penguasaan Sentralisasi Aset ; Undang Undang ditetapkan tahun 1903 ) tersebut. Menghadapi kondisi tersebut dibangunlah kekuatan rakyat ( Haji Samanhudi, HOS Tjokroaminoto Dkk pada 16 Oktober 1905 mendirikan Organisasi Syarekat Dagang Islam, yang kemudian berubah menjadi Syarekat Islam pada tahun 1906 ) yang digalang melalui strategi persatuan yang gulirkan oleh Syarekat Islam. Yang akhirnya, perdagangan V.O.C pun terganggu keleluasaannya di Tanah Air yang sudah dipersatukan oleh Sumpah Palapa ini.
Didatangkanlah Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet pada tahun 1913 dari Belanda ( 04 mei tahun 1914 sampai 1917 Sneevliet bersama rekan rekan semisal ; Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma mendirikan Indische Sociaal Demokrat Hindia Belanda / ISDV, kemudian Partai Buruh Sosial Demokratis / SDAP maupun Partai Sosial Demokratis / SDP dengan Semaun, Darsono, maupun Alimin sebagai bagian tokoh yang terseret faham ajaran yang dibawa sneevliet ) dengan faham komunisnya untuk memecah persatuan rakyat yang dibangun oleh Syarekat Islam yang berkekuatan di Surabaya. Sneevelit berhasil dengan terbangunnya ( dalam Kongres ISDV di semarang mei 1920, ISDV merubah nama menjadi PKH / Perserikatan Komunis Hindia, dan meresmikan Partai Komunis Indonesia / PKI pada tanggal 23 mei 1920 dimana musso sebagai bagian salah satu tokoh ) garis merah vs hijau dari Syarekat Islam.Setelah Syarekat Islam merah terbangun sebagai kekuatan rakyat, Sneevelit membawa kekuatan mereka ke Semarang yang kemudian pindah ke Solo untuk kemudian dibentuklah Partai Komunis Indonesia / PKI. Sebagai partai ke 2 yang dibentuk setelah Partai Syarekat Islam (PSI) di Tanah Air Sumpah Palapa ini. Sadar atau tidak sadar dengan dibentuknya Partai Syarekat Islam dari Syarekat Islam ini, kekuatan rakyat pun telah dibelah. Artinya, setelah PKI dibentuk berikutnya kekuatan rakyat semakin dipecah belah menjadi serpihan kelompok massa. Tetapi diluar usaha pemecah-belahan kekuatan rakyat ini, telah bergulir juga Boedi Oetomo ( berdiri sejak tanggal 20 mei 1908 ) sebagai usaha pemersatu kekuatan rakyat melalui pengembangan usaha pendidikan kaum pribumi yang mengarah kepada penyadaran tumbuhnya rasa kebangsaan yang digulirkan di pesantren-pesantren di wilayah Surabaya. Setelah 14 tahun pendidikan Boedi Oetomo dibentuk, digulirkanlah pendidikan kaum pribumi secara formal dan masal disebut Taman Siswo ( Ki Hajar Dewantara Dkk membentuknya pada tanggal 02 Mei 1922 ). Kehendak untuk mengangkat harkat dan martabat hidup rakyat / pribumi pun bergulir. Pendidikan Boedi Oetomo dan Taman Siswo inilah yang pada akhirnya, disadari atau tidak disadari, telah mendorong berlangsungnya ( 27 Desember 1927: Tampaksiring, Soekarno melakukan pertemuan dengan 18 Kerajaan / Kesultanan di Kabupaten Gianyar Bali, Kecamatan Tampaksiring, desa Tampaksiring ) Sumpah Pemuda yang melahirkan Bangsa Indonesia, sebagai bentuk bersatunya kekuatan rakyat atas dasar "Kehendak untuk mengangkat harkat dan martabat hidup rakyat" sebagai jawaban terhadap usaha pemecah-belahan kekuatan rakyat, yang diberlangsungkan pada 28 Oktober 1928 di Jakarta dalam wilayah yang telah dipersatukan oleh Sumpah Palapa. Bahasa lainnya adàlah Bangsa Indonesia dilahirkan sebagai jawaban terhadap usaha-usaha pemecah-belahan kekuatan rakyat yang terus digulirkan melalui pembentukan partai-partai yang membawakan isme-ismenya masing-masing.










* Saran maupun Masukkan di persilahkan sebagai Tambahan Referensi