Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

Aset = Kewajiban + Ekuitas




Oleh : Rizki Kusuma alias Subur
Salah satu mahasiswa Universitas Mercu Buana yang dibina oleh Direktur Pancasila Center dan aktif didalam organisasi pergerakan Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI) DKI Jakarta serta simpul dari organisasi Pancasila Center.






Aset adalah harta perusahaan,
Kewajiban adalah Hutang yang harus dibayar perusahaan,
Ekuitas adalah Modal Perusahaan.

Analogikan ;
Aset Negara = Mahasiswa,
Kewajiban Negara = Mencerdaska Kehidupan Bangsa,
Modal Negara = UU No 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi.








   Mahasiswa sebagai aset negara maka harus selalu dikelola dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu dalam pengelolaannya, negara wajib hadir untuk mencerdaskan kehidupan bangsanya, salah satunya mahasiswa.

Modal negara untuk mencerdaskan mahasiswa adalah dengan "sistem pendidikan tinggi" yang diatur dalam Konstitusi Pendidikan Tinggi.

  Sistem pendidikan tinggi pun harus disesuaikan dengan tradisi di bangsa ini., karena tradisi yang menjadi "norma adalah etika". Norma yang menjadi kaidah adalah estetika, dan kaidah yang menjadi azas adalah moralitas. Sehingga, jika sistem pendidikan tinggi yang dilakukan berangkat dari tradisi yang ada pada bangsa ini.

  Maka, mahasiswa yang dilahirkan adalah mahasiswa yang memiliki "Etika, Estetika, serta Moralitas". Tradisi Mahasiswa Indonesia adalah Tradisi Pembelajaran, pembelajaran adalah proses interaksi mahasiswa dengan dosen dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Jika sistem pendidikan dilakukan secara online, maka disinilah proses "kemunduran" pada pendidikan tinggi. Dan sistem pendidikan secara online sangat tidak sesuai dengan "nilai-nilai Pancasila" dari sisi ketuhanan, adab, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.



#TolakPerkuliahanOnline
#IndonesiaDaruratMahasiswa
#SaveMahasiswaIndonesia
#SaveMahasiswaMercuBuana

Jumat, 10 November 2017

Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana?



Oleh ;

Nana Hachan 
(Riana Ayu Chandra)
Mahasiswi STIE PELITA BANGSA


Seperti yang kita sepakati bersama bahwa pendidikan merupakan modal pertama yang harus dipenuhi setiap Negara demi membangun Negara diseluruh dunia. Sudah sepatutnya pendidikan dijadikan focus pemerintah untuk ditingkatkan. Karena ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa sudah terdapat dalam cita – cita bangsa yang diamanatkan dalam Preambul UUD 1945.

Tapi, saya sedikit merasa miris ketika dibenturkan dengan realita yang ada. Hal ini karena masih saya temui banyaknya angka Anak Putus Sekolah (APS) dan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia meskipun Pemerintah sudah dengan berbaik hati membuat peraturan sekolah gratis demi tercapainya pemerataan pendidikan di Indonesia.

Hal ini dapat kita lihat pada Kabupaten Bekasi tempat saya tinggal dimana masih terdapat 200.000 anak terlantar. Padahal Kabupaten Bekasi merupakan kota Industri dimana ribuan pabrik berdiri dengan subur diatasnya. Ada beberapa alasan mengapa hal ini bisa terjadi.


1. Ekonomi keluarga rendah Adanya banyak anak yang memilih untuk lebih baik ikut serta mencari nafkah ketimbang menuntaskan kewajibannya dalam mengenyam pendidikan dibangku sekolah;

2. Mainset Orang Tua Sebenarnya tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya memiliki masa depan yang sama seperti kedua orang tuanya. Tapi nyatanya banyak anak yang justru memilih bekerja karena mainset orang tua yang selalu berkata bahwa sekolah itu mahal. Meskipun yang kita ketahui bersama bahwa pemerintah sudah membuat program sekolah gratis;

3. Kartu KIP Tidak Merata Semoga saja hal ini dapat didengar oleh pemerintah. Kartu Indonesia Pintar atau yang biasa kita sebut KIP tidak begitu berarti karena nyatanya pemberian atau penyebarannya masih belum merata;

4. PPBD Online Membingungkan Banyak pihak orang tua yang sangat menyayangkan system yang berlaku untuk mendaftarkan peserta didik baru pada setiap sekolah. Hal ini dikarenakan banyak orang tua murid yang masih gagal teknologi. Belum lagi pendaftaran yang sering offline.

5. NEM Yang Tinggi Saya baru sadar bahwa kecerdasan anak sekolah ternyata hanya dilihat dari nilai akhir yang didapat di Ujian Nasional. Entah mengapa sepertinya hal ini juga yang jadi penghambat anak Indonesia untuk meneruskan pendidikannya kejenjang selanjutnya.


Dan yang sangat saya pahami bahwa kemajuan pendidikan dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada. Tapi analisa social yang saya lakukan ditempat tinggal saya sendiri ternyata masih menunjukkan banyaknya pengangguran di Kabupaten Bekasi. Pengangguran ini juga disebabkan oleh banyaknya pendatang yang ikut serta bersaing mencari kerja dan tinggal serta mengadu nasib di Kabupaten Bekasi. Kemudian saya akan membahas sebuah pertanyaan yang sangat indah yang saya ukir pada judul diatas. Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana? Sekali lagi, yang kita sepakati bersama bahwa pendidikan merupakan foundasi terpenting untuk membangun Negara ini.


 Yang kita ketahui bersama, setiap Negara ini berganti kepemimpinan pasti selalu berganti pula peraturan yang dijalankan disemua sector. Indonesia sendiri sudah mengalami 10 kali perubahan kurikulum pendidikan. Berikut ini tahap demi tahap pergantian kurikulum pendidikan tersebut dan penjelasannya :

1. Kurikulum 1947 Bentuknya memuat 2 hal pokok:

a. daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya,
b. Garis-garis besar pengajaran.


2. Kurikulum 1952 Bentuknya memuat 5 hal pokok berikut:

a. Pendidikan pikiran harus dikurangi,
b. Isi pelajaran harus dihubungkan dengan kesenian,
c. Pendidikan watak,
d. Pendidikan jasmani, dan
e. Kewarganegaraan Masyarakat.


3. Rencana Kurikulum 1964 dan Kurikulum 1964 Bentuknya memuat 5 hal pokok berikut:

a. Manusia Indonesia berjiwa Pancasila,
b. ManPower,
c. Kepribadian Kebudayaan Nasional yang luhur,
d. Ilmu dan teknologi yang tinggi, dan
e. Pergerakan rakyat dan revolusi. Rencana Pendidikan 1964 melahirkan Kurikulum 1964 yang menitik beratkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana.

4. Kurikulum 1968 Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.

5. Kurikulum 1975 Adapun ciri-ciri lebih lengkap kurikulum ini adalah sebagai berikut: Berorientasi pada tujuan. Menganut pendekatan integratif dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

6. Kurikulum 1984 Adapun ciri umum kurikulum ini adalah sebagai berikut: Berorientasi kepada tujuan instruksional. Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Menggunakan pendekatan keterampilan proses.

7. Kurikulum 1994 Adapun ciri umum dari kurikulum ini adalah sebagai berikut: Sifat kurikulum objective based curriculum Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi). Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.

8. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 Depdiknas mengemukakan karakteristik KBK ialah sebagai berikut. Menekankan pada ketercapaian komoetensi siswa baik secara individual maupun klasikal Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatann dan metode bervariasi Sumber belajar bukan hanya guru tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsure edukatif Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya poenguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

9. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 Guru memiliki otoritas dalam mengembangkan kurikulum secara bebas dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan di sekolahnya.

10. Kurikulum 2013 Ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013. Kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar, yang menyangkut metodologi pembelajaran, yang nilainya pada pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG) baru mencapai rata-rata 44,46 Kompetensi akademik di mana guru harus menguasai metode penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswa. Kompetensi sosial yang harus dimiliki guru agar tidak bertindak asocial kepada siswa dan teman sejawat lainnya. Kompetensi manajerial atau kepemimpinan karena guru sebagai seorang yang akan digugu dan ditiru siswa. Kesiapan guru sangat urgen dalam pelaksanaan kurikulum ini. Kesiapan guru ini akan berdampak pada kegiatan guru dalam mendorong mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang telah mereka peroleh setelah menerima materi pembelajaran.

Mari sama – sama kita cermati, betapa beruntungnya kakek dan nenek atau ibu dan bapak kita pada jaman dulu yang masih bersekolah pada kurun tahun 1964. Tak merasa ambigu terhadap sejarah apalagi Pancasila seperti kita saat ini. Mengapa saya berkata demikian? Karena pokok bahasan pertama yang menjadi nilai terpenting kala itu ialah manusia Indonesia berjiwa Pancasila.

Tidak seperti adanya kita saat ini yang buta akan selarah bangsa kita sendiri karena pelajaran yang substansi didalamnya saja dihapuskan. Apakah mungkin dengan alasan mengikuti perkembangan jaman menjadi pacuan mengapa Pancasila dihapuskan dari sekolah – sekolah yang ada diIndonesia? Sangat disayangkan ketika hal itu terjadi.

Bukankah Bung Karno sendiri selalu mengingatkan anak Bangsa untuk selalu mengingat sejarah dengan berkata “JASMERAH” Tapi kini JAS MERAH sudah luntur dan berganti menjadi kemajuan teknologi yang membuat semua orang terlena dibuatnya hingga melupakan sejarah. Tapi apa yang dapat kita lakukan agar sejarah tidak hanya menjadi angin lalu? Hanya satu, kita semua hanya dapat bersuara pada pemerintah untuk tetap menyertakan pelajaran sejarah dan Pancasila pada kurikulum pendidikan.

Selebihnya kita hanya mampu memberi tahukan kepada kerabat terdekat terkait pentingnya sejarah. Demikian artikel yang tidak seberapa ini saya buat. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih. Besar harapan saya agar artikel ini bermanfaat untuk kita semua.

Senin, 23 Mei 2016

MOJOPAHIT, HINDIA BELANDA, NUSANTARA, BANGSA INDONESIA

Tanah Air Nusantara, yang telah dipersatukan dengan Sumpah Palapa ( Pada saat Ratu Tribhuwanatunggadewi mengangkat Patih Gajah Mada sebagai Patih Mojopahit : 1334 dan Upacara pengangkatan Sumpah / Sumpah Palapa Patih Gajah Mada sebagai Patih Mojopahit menjadi Patih Amangkubumi dalam Tujuan Penyatuan Nusantara ) pada zaman Kerajaan Mojopahit, disewa oleh Belanda atas nama V.O.C sedikit demi sedikit pada zaman yang sudah berbeda. Pada akhirnya, di tanah-tanah yang sudah semakin luas di sewa tersebut diterapkan strategi ( 1830 : Penetapan Sistem Cultuurestelsel oleh Gubernur Jendral Van Den Bosch, Penetapan Undang Undang Agraria 1870 sebagai pengganti lanjutan Cultuurestelsel ) Cultuurestelsel untuk memiskinkan, membodohkan, dan menindas ( Kaum Inlander merupakan rakyat pribumi yang sebagian besar merupakan dampak akibat sistem Cuulturestelsel dan Politik Etis ) rakyat yang bergantung kehidupannya kepada tanah-tanah ( 17 September 1901 : Ratu Wilhelmina menetapkan sistem Politik Etis sebagai suatu sistem balas budi terhadap pribumi atas dasar orientasi imprealis-kolonialis perbudakan pribumi ; Pembangunan Perbaikan seluruh Pengairan milik pribumi, anjuran untuk bertransmigrasi dan mengenyam Pendidikan maupun penguasaan Sentralisasi Aset ; Undang Undang ditetapkan tahun 1903 ) tersebut. Menghadapi kondisi tersebut dibangunlah kekuatan rakyat ( Haji Samanhudi, HOS Tjokroaminoto Dkk pada 16 Oktober 1905 mendirikan Organisasi Syarekat Dagang Islam, yang kemudian berubah menjadi Syarekat Islam pada tahun 1906 ) yang digalang melalui strategi persatuan yang gulirkan oleh Syarekat Islam. Yang akhirnya, perdagangan V.O.C pun terganggu keleluasaannya di Tanah Air yang sudah dipersatukan oleh Sumpah Palapa ini.
Didatangkanlah Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet pada tahun 1913 dari Belanda ( 04 mei tahun 1914 sampai 1917 Sneevliet bersama rekan rekan semisal ; Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma mendirikan Indische Sociaal Demokrat Hindia Belanda / ISDV, kemudian Partai Buruh Sosial Demokratis / SDAP maupun Partai Sosial Demokratis / SDP dengan Semaun, Darsono, maupun Alimin sebagai bagian tokoh yang terseret faham ajaran yang dibawa sneevliet ) dengan faham komunisnya untuk memecah persatuan rakyat yang dibangun oleh Syarekat Islam yang berkekuatan di Surabaya. Sneevelit berhasil dengan terbangunnya ( dalam Kongres ISDV di semarang mei 1920, ISDV merubah nama menjadi PKH / Perserikatan Komunis Hindia, dan meresmikan Partai Komunis Indonesia / PKI pada tanggal 23 mei 1920 dimana musso sebagai bagian salah satu tokoh ) garis merah vs hijau dari Syarekat Islam.Setelah Syarekat Islam merah terbangun sebagai kekuatan rakyat, Sneevelit membawa kekuatan mereka ke Semarang yang kemudian pindah ke Solo untuk kemudian dibentuklah Partai Komunis Indonesia / PKI. Sebagai partai ke 2 yang dibentuk setelah Partai Syarekat Islam (PSI) di Tanah Air Sumpah Palapa ini. Sadar atau tidak sadar dengan dibentuknya Partai Syarekat Islam dari Syarekat Islam ini, kekuatan rakyat pun telah dibelah. Artinya, setelah PKI dibentuk berikutnya kekuatan rakyat semakin dipecah belah menjadi serpihan kelompok massa. Tetapi diluar usaha pemecah-belahan kekuatan rakyat ini, telah bergulir juga Boedi Oetomo ( berdiri sejak tanggal 20 mei 1908 ) sebagai usaha pemersatu kekuatan rakyat melalui pengembangan usaha pendidikan kaum pribumi yang mengarah kepada penyadaran tumbuhnya rasa kebangsaan yang digulirkan di pesantren-pesantren di wilayah Surabaya. Setelah 14 tahun pendidikan Boedi Oetomo dibentuk, digulirkanlah pendidikan kaum pribumi secara formal dan masal disebut Taman Siswo ( Ki Hajar Dewantara Dkk membentuknya pada tanggal 02 Mei 1922 ). Kehendak untuk mengangkat harkat dan martabat hidup rakyat / pribumi pun bergulir. Pendidikan Boedi Oetomo dan Taman Siswo inilah yang pada akhirnya, disadari atau tidak disadari, telah mendorong berlangsungnya ( 27 Desember 1927: Tampaksiring, Soekarno melakukan pertemuan dengan 18 Kerajaan / Kesultanan di Kabupaten Gianyar Bali, Kecamatan Tampaksiring, desa Tampaksiring ) Sumpah Pemuda yang melahirkan Bangsa Indonesia, sebagai bentuk bersatunya kekuatan rakyat atas dasar "Kehendak untuk mengangkat harkat dan martabat hidup rakyat" sebagai jawaban terhadap usaha pemecah-belahan kekuatan rakyat, yang diberlangsungkan pada 28 Oktober 1928 di Jakarta dalam wilayah yang telah dipersatukan oleh Sumpah Palapa. Bahasa lainnya adàlah Bangsa Indonesia dilahirkan sebagai jawaban terhadap usaha-usaha pemecah-belahan kekuatan rakyat yang terus digulirkan melalui pembentukan partai-partai yang membawakan isme-ismenya masing-masing.










* Saran maupun Masukkan di persilahkan sebagai Tambahan Referensi