Tanah Air Nusantara, yang telah dipersatukan dengan Sumpah Palapa ( Pada saat Ratu Tribhuwanatunggadewi mengangkat Patih Gajah Mada sebagai Patih Mojopahit : 1334 dan Upacara pengangkatan Sumpah / Sumpah Palapa Patih Gajah Mada sebagai Patih Mojopahit menjadi Patih Amangkubumi dalam Tujuan Penyatuan Nusantara ) pada zaman Kerajaan Mojopahit, disewa oleh Belanda atas nama V.O.C sedikit demi sedikit pada zaman yang sudah berbeda. Pada akhirnya, di tanah-tanah yang sudah semakin luas di sewa tersebut diterapkan strategi ( 1830 : Penetapan Sistem Cultuurestelsel oleh Gubernur Jendral Van Den Bosch, Penetapan Undang Undang Agraria 1870 sebagai pengganti lanjutan Cultuurestelsel ) Cultuurestelsel untuk memiskinkan, membodohkan, dan menindas ( Kaum Inlander merupakan rakyat pribumi yang sebagian besar merupakan dampak akibat sistem Cuulturestelsel dan Politik Etis ) rakyat yang bergantung kehidupannya kepada tanah-tanah ( 17 September 1901 : Ratu Wilhelmina menetapkan sistem Politik Etis sebagai suatu sistem balas budi terhadap pribumi atas dasar orientasi imprealis-kolonialis perbudakan pribumi ; Pembangunan Perbaikan seluruh Pengairan milik pribumi, anjuran untuk bertransmigrasi dan mengenyam Pendidikan maupun penguasaan Sentralisasi Aset ; Undang Undang ditetapkan tahun 1903 ) tersebut. Menghadapi kondisi tersebut dibangunlah kekuatan rakyat ( Haji Samanhudi, HOS Tjokroaminoto Dkk pada 16 Oktober 1905 mendirikan Organisasi Syarekat Dagang Islam, yang kemudian berubah menjadi Syarekat Islam pada tahun 1906 ) yang digalang melalui strategi persatuan yang gulirkan oleh Syarekat Islam. Yang akhirnya, perdagangan V.O.C pun terganggu keleluasaannya di Tanah Air yang sudah dipersatukan oleh Sumpah Palapa ini.
Didatangkanlah Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet pada tahun 1913 dari Belanda ( 04 mei tahun 1914 sampai 1917 Sneevliet bersama rekan rekan semisal ; Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma mendirikan Indische Sociaal Demokrat Hindia Belanda / ISDV, kemudian Partai Buruh Sosial Demokratis / SDAP maupun Partai Sosial Demokratis / SDP dengan Semaun, Darsono, maupun Alimin sebagai bagian tokoh yang terseret faham ajaran yang dibawa sneevliet ) dengan faham komunisnya untuk memecah persatuan rakyat yang dibangun oleh Syarekat Islam yang berkekuatan di Surabaya. Sneevelit berhasil dengan terbangunnya ( dalam Kongres ISDV di semarang mei 1920, ISDV merubah nama menjadi PKH / Perserikatan Komunis Hindia, dan meresmikan Partai Komunis Indonesia / PKI pada tanggal 23 mei 1920 dimana musso sebagai bagian salah satu tokoh ) garis merah vs hijau dari Syarekat Islam.Setelah Syarekat Islam merah terbangun sebagai kekuatan rakyat, Sneevelit membawa kekuatan mereka ke Semarang yang kemudian pindah ke Solo untuk kemudian dibentuklah Partai Komunis Indonesia / PKI. Sebagai partai ke 2 yang dibentuk setelah Partai Syarekat Islam (PSI) di Tanah Air Sumpah Palapa ini. Sadar atau tidak sadar dengan dibentuknya Partai Syarekat Islam dari Syarekat Islam ini, kekuatan rakyat pun telah dibelah. Artinya, setelah PKI dibentuk berikutnya kekuatan rakyat semakin dipecah belah menjadi serpihan kelompok massa. Tetapi diluar usaha pemecah-belahan kekuatan rakyat ini, telah bergulir juga Boedi Oetomo ( berdiri sejak tanggal 20 mei 1908 ) sebagai usaha pemersatu kekuatan rakyat melalui pengembangan usaha pendidikan kaum pribumi yang mengarah kepada penyadaran tumbuhnya rasa kebangsaan yang digulirkan di pesantren-pesantren di wilayah Surabaya. Setelah 14 tahun pendidikan Boedi Oetomo dibentuk, digulirkanlah pendidikan kaum pribumi secara formal dan masal disebut Taman Siswo ( Ki Hajar Dewantara Dkk membentuknya pada tanggal 02 Mei 1922 ). Kehendak untuk mengangkat harkat dan martabat hidup rakyat / pribumi pun bergulir. Pendidikan Boedi Oetomo dan Taman Siswo inilah yang pada akhirnya, disadari atau tidak disadari, telah mendorong berlangsungnya ( 27 Desember 1927: Tampaksiring, Soekarno melakukan pertemuan dengan 18 Kerajaan / Kesultanan di Kabupaten Gianyar Bali, Kecamatan Tampaksiring, desa Tampaksiring ) Sumpah Pemuda yang melahirkan Bangsa Indonesia, sebagai bentuk bersatunya kekuatan rakyat atas dasar "Kehendak untuk mengangkat harkat dan martabat hidup rakyat" sebagai jawaban terhadap usaha pemecah-belahan kekuatan rakyat, yang diberlangsungkan pada 28 Oktober 1928 di Jakarta dalam wilayah yang telah dipersatukan oleh Sumpah Palapa. Bahasa lainnya adàlah Bangsa Indonesia dilahirkan sebagai jawaban terhadap usaha-usaha pemecah-belahan kekuatan rakyat yang terus digulirkan melalui pembentukan partai-partai yang membawakan isme-ismenya masing-masing.
* Saran maupun Masukkan di persilahkan sebagai Tambahan Referensi



Tidak ada komentar:
Posting Komentar