Senin, 05 Februari 2018

THE DAY OF MATREALISTIC




Aktivis Pergerakkan MMI Wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan (CIAYUMAJAKUNING),  PMII Jabar dan aktif di Brebes Mengabdi.


Saat peradaban manusia bergulir dari waktu kewaktu, semenjak masa-masa yang lampau sampai memasuki era modernisasi seperti yang kita alami saat ini.

Dimulai dari pemancangan abad modern oleh pemikiran Newton pada abad 17 yang lampau, dan saat ini berhasil membawa manusia menginjakan kaki di bulan, melalui penguasaan terhadap ilmu dan teknologi.

Sungguh sebuah jaman keemasan, hidup menjadi semakin mudah dan praktis, bahkan instan. Tidak ada lagi satupun tempat yang tersembunyi dimuka bumi ini, semua bisa diakses dengan cara real-time, melalui perangkat komputer yang dipadukan dengan telekomunikasi. Sehingga nampak bumi menjadi semakin menciut, karena jarak bukan lagi faktor yang menghalangi kemajuan manusia. Jaman keemasan yang mampu menyediakan segenap kebutuhan dasar manusia, baik secara fisik maupun sosial.

Berbicara persoalan fisik atau sosial merupakan kemudahan untuk terpenuhinya kebutuhan dasar ini, tidak jarang menggiring manusia untuk mencari kepuasan materialistik yang lebih jauh lagi, bahkan ujungnya adalah munculnya gejala hedonistik, dimana kepuasan hidup menjadi segala-galanya. Menjadi dasar dan sekaligus tujuan hidup itu sendiri. Paradigma Newtonian mengesahkan manusia untuk mencari bentuk-bentuk materi sebagai tujuan akhir bagi kepuasan dan hidup itu sendiri. Selain cara pandang materialistik diatas, hal lainnya adalah sangat mengetengahkan budaya mekanistik, yang sangat kental dengan penggunaan hukum sebab-akibat. Setiap entitas diurai / direduksi, kemudian dianalisa dengan menggunakan pendekatan analitis – rasionalis pada bagian-bagian terkecilnya.

Celakanya, seringkali nilai-nilai integreatif dari entitas tadi ikut terpecah, sehingga sebuah konsep nilai-maknawi secara keseluruhan menjadi hilang atau mengabur. Dan tatkala bagian-bagian parsial tadi kembali disintesa, maka bentuk awal tidak pernah utuh kembali, selain menjadi semacam tumpukan spare parts dari sebuah mobil, dan bukan mobilnya sendiri. Reduksionis, parsialis, analitis dan rasionalis serta machoistik, adalah gejala umum dalam jaman modern ini. Sampai dipenghujung abad 20 yang lalu. Manakala budaya newtonian dihadapkan pada ujung pencarian, yaitu munculnya fenomena chaotik, saat pendekatan materi, dan hukum sebab-akibat, tidak lagi mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan, mengenai berbagai realitas serta hakikat esensiel dari fenomena tadi.

Penyakit yang datang 30 tahun belakangan belum ditemukan obatnya. Pertentangan konsep kebenaran antara teori fisika relatifitas dan quantum belum juga ditemukan titik temunya. Dunia psikologi masih dikacaukan dengan konsep jiwa serta ruh, sehingga sering dikatakan sebagai ilmu jiwa yang tanpa jiwa. Padahal fisika dan psikologi adalah tiang pancang utama untuk membentuk filsafat ilmu.


Pemisahan kesadaran manusia, layaknya kamar kamar yang tak saling terhubung, seperti Emotion Quotient, Intelectual Quotient, Spritual Quotient, Moral Quotient, dll., jelas-jelas masih menggambarkan pendekatan Newtonian yang reduktif-parsialis. Manusia dan peradabannya membutuhkan pegangan baru. Sebuah cara pandang yang benar benar baru, yang mampu mengakomodir pemenuhan kebutuhan manusia untuk memahami realitas-realitas baru. Sebuah pandangan dan paradigma baru, lalu diikuti sebuah transformasi sosial, yang akan menjadi lokomotif untuk sebuah perubahan menyeluruh yang mendunia.

Di akhir abad 20, diusung oleh para ilmuwan terkemuka, jawaban alternatif yang sekaligus bertindak sebagai rising culture kata Fritjof Capra, atau counter culture versi Arnold Toynbee menjadi semakin mengemuka. Paradigma itu dinamakan sebagai pendekatan holistik, sistemik dan sekaligus organismik. Kuncinya adalah penggabungan dua sudut pandang oposisional, seperti analisa digabung dengan sintesa, reduksi – holistik, parsialis – integratif, rasionalis-intuitif dan machositik – feministik secara proporsional serta harmonis. Dalam fisika muncul teori baru untuk menjawab pertentangan relatifitas dan quantum, yaitu teori superstring. Dalam kosmologi, proses Big-bang sebagai dasar harus diawali oleh periode inflasi. Sementara dalam psikologi, muncul istilah wilayah kesadaran integratif yang tidak lagi bersifat parsialistik. Dalam sistemologi para ilmuwan mengembangkan teori kompleksitas, untuk menjawab pertanyaan mengenai sistem organisasi diri, atau sistem yang menata-dirinya, agar tetap eksis dan survive.

Seperti dalam biologi, dengan penemuan sistem Autopoiesis oleh Maturana - Varela. Yaitu sel sebagai sebuah kesatuan utuh menyeluruh, yang mempunyai hak-hak otonom sepenuhnya. Sistem yang mengatur dirinya sendiri, dimana semakin kompleks sebuah struktur, haknya semakin membesar. Semua akan berujung pada bentuk free-will, saat berujud menjadi mahluk terkompleks, yang bernama manusia. Semua itu mengerucutkan pandangan kita, bahwa perubahan dari sisi fisika, psikologi dan biologi, mengakibatkan filsafat ilmu berkembang pula, dan akibatnya disiplin-disiplin ilmu perlu untuk di re-definisi dan re-interprestasi.

Pendekatan pada wilayah spiritualis, sebagai akibat kejenuhan manusia pada dunia materi yang tidak menjawab esensi eksistensi manusia, membawa abad 21, konon akan menjadi abad spiritual. Capra dalam hidden connection menjelaskan, bahwa kelak diperusahaan-perusahaan besar dunia, yang bekerja bukan hanya mereka yang ahli dalam bidang-bidang ilmu dan teknologi serta manajemen, namun juga para sufi, alim-ulama, yang memahami konsep-konsep tentang sebuah keberadaan serta hakikat esensielnya.

Saat ini adalah masa transisi, sebuah masa yang hiruk-pikuk, sebuah jaman peralihan yang kaya warna abu-abu, dunia tak jelas alias remang-remang / twilight-zone. Setiap orang dihadapkan pada pilihan, apakah tetap tinggal diwilayah paradigma Newtonian yang mulai ambruk dan bangkrut, seperti juga peradaban-peradaban dunia lainnya, atau mengikuti perubahan alamiah yang merupakan fitrah atau sunnatullah. Semua itu menjadi sangat penting, sebab akan sangat menentukan antara eksis dan non-eksis, antara tumbuh dan stagnan, antara jelas dan chaos, antara sehat dan sakit.

Seluruhnya harus dimulai dari wilayah kesadaran sebagai esensi primer, dibanding dengan realitas fisik yang lebih bersifat sekunder. Yaitu kesadaran yang mengalami brain-storming, seraya melepas dunia mythos sisa peninggalan masa lampau. Kesadaran yang ditata ulang dengan mengikuti pandangan yang menyeluruh, utuh dan tumbuh (holistik, sistemik dan organismik).


Wilayah-wilayah kesadaran yang tadinya dapat direduksi kedalam kamar-kamar yang tak berhubungan, diteliti ulang menjadi sebuah aliran-kesadaran. Sebuah aliran psiko-energi dari ranah kesadaran paling bawah, merambat menuju wilayah kesadaran yang paling tinggi tanpa terputus, sehingga membentuk manusia yang sehat dan dewasa, yang matang serta terasah, baik secara fisik maupun kepribadiannya.
Terputusnya aliran akan mengakibatkan sindroma “mental looping” atau lingkaran setan, yang memutus proses tumbuhnya kesadaran, sehingga terjadi stagnasi kesadaran, seraya menghasilkan individu-individu dengan kepribadian yang sakit. Ketika hal itu dikolektifkan, lalu tak pelak munculah komunitas masyarakat yang juga sakit. Yang menganggap salah menjadi benar, yang membuat apapun yang tadinya nonsense, menjadi sebuah common sense.


Pada domain nonsense, seseorang yang telah terbukti melakukan pelanggaran hukum bisa diangkat menjadi pemimpin, bahkan ketua partai. Nonsense seseorang yang berada di penjara bisa tetap memimpin sindikat mafia. Nonsense, seseorang yang tak pernah belajar bisa lulus ujian. Nonsense seseorang yang tak pernah mengikuti pendidikan dasar, bisa menjadi pengembara, tanpa membahayakan keselamatan dirinya atau teman-teman seiringnya. Tapi sekarang, semua nonsense itu kini seolah menjadi make-sense, jika dompet anda cukup tebal..!!

Ketika individu-individu bermasalah ini membuat team work, maka yang ada adalah kerjasama dari orang-orang sakit. Bukan sebuah kesatuan harmonis yang sesuai dengan sistem tatadiri alamiah universal. Bukan seperti rombongan lebah, dimana setiap diri sudah paham dengan fungsi dan peran dirinya dalam kelompok. Diri yang diatur oleh fungsi, layaknya anak yang diatur oleh ibunya. Seperti diferensial yang menjadi turunan dari integral. Dan bukan sebaliknya dimana diri yang diberhalakan, lalu mengatur peranan dirinya, sekalipun harus bertabrakan dengan kepentingan komunitasnya, bahkan dengan common-sense.

Pemberhalaan diri menjadi sebuah common sense, bagi segolongan orang yang merasa dirinya superior. Dimana jika perlu negara inipun di klaim sebagai milik dan warisan leluhurnya.

Sementara bagi sebagian yang lainnya, yang merasa inferior, lalu hidup dan kehidupan layaknya sebuah bencana. Tinggal dimuka bumi ini hanya sebuah kesialan belaka. Seperti mewarisi dosa turunan, karena orang tuanya juga kaum inferior, layaknya karena dulu Adam berdosa pada Tuhan. Jika kaum muda, generasi berikutnya dari negeri ini berfikir seperti itu lalu apa kata dunia tentang pemuda-pemudi Indonesia? Yang berkutat dengan pemikiran, bahwa jika ingin superior, so be the safety player. Seraya menjadi kaum penjilat. Sebaliknya risk-taker hanya bagi kaum inferior, karena toh nothing to lose.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar