Senin, 27 November 2017

Kemana Mahasiswa?



Oleh : Riana Ayu Chandra (Nana Hachan)




Seperti menjadi sebuah kewajaran ketika saya mengajukan pertanyaan “Kemana Mahasiswa?” ketika saya tatap konstalasi Indonesia saat ini. Pertanyaan ini makin berkecamuk ketika pemikiran saya makin dibenturkan dengan keadaan Mahasiswa dahulu dan yang ada saat ini. 

   Yang sama-sama kita sepakati, dahulu Mahasiswa merupakan tulang punggung pergerakan melawan kedzoliman para penguasa. Yang kita lihat pula, Mahasiswa dulu merupakan barisan pertama yang mampu dengan gagah berani memperjuangkan suara-suara rakyat yang disakiti oleh para penguasa. Hingga mampu menurunkan sebuah rezim otoriter Soeharto pada Mei 1998. 

   Tapi kenyataan itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada saat ini. Begitu banyak perbedaan yang terdapat didalamnya. Dan berikut ini akan saya jabarkan apa saja yang jadi pembeda ;

1.     Kampus terkenal yang ada dulu hanya ada 2. DiNegeri ada UI (Universitas Indonesia). Dan diSwasta ada UKI (Universitas Kristen Indonesia). Masih sedikit pemuda yang saat itu menyandang status Mahasiswa. 

2.     Mahasiswa dahulu masih tinggal dibawah kekuasaan tirani yang masih mengekang kebebasan masyarakat. Wajar kalau dahulu Mahasiswa masih mau berjuang atas nama rakyat. Saat ini? Jangan tanya. Banyak Mahasiswa kini yang nyatanya menganggap bahwa negaranya sudah merdeka 100% tapi nyatanya, kita hanya terbebas dari belenggu Penjajah. Melalui Intelektual dan teknologi, kita masih dijajah habis-habisan. 

3.     Organisasi Mahasiswa yang ada dahulu benar-benar merekrut kader yang bisa memperjuangkan apa yang menjadi garis besar haluan organisasi. Tapi saat ini, Mahasiswa hanya menjadikan organisasi menjadi ajang ikut-ikutan. 

4.     Sistem pendidikan awal yang juga berpengaruh dalam hal ini. Banyak Mahasiswa dulu yang paham benar akan apa itu Pancasila, bagaimana cara mempertahankan kesatuan bangsa dan negara, serta cara bermusyawarah. Karena Pancasila masih dimasukkan dalam sistem pendidikan nasional. Bahkan pada tehun 1964 diterapkan sebuah kurikulum yang pook bahasannya ialah Manusia Merdeka Berjiwa Pancasila. Tidak seperti adanya kami saat ini yang justru Pancasila yang menjadi pokok pelajaran terpenting mengenai negara kita malah dihapuskan. 

5.     Mental yang ada pada Mahasiswa dahulu jauh lebih berani daripada yang ada saat ini. Hal ini dikarenakan Mahasiwa dahulu masih hidup dibawah garis kungkungan para penguasa. Tidak seperti kita saat ini, yang hidup dengan kondisi yang sudah terbebas dari kungkungan tapi jutru kita terlena. 



  Entah mengapa, keadaan ini menjadi sebuah ironi dimana Mahasiswa justru malah tak peduli terhadap lingkungannya. Seolah kata pepatah yang menyatakan “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” hanya menjadi sebuah isapan jempol yang tak berarti. 

  Jangankan untuk ikut mengangkat toa, membentangkan spanduk dan menyebarkan agitasi untuk memperjuangkan rakyat. Hanya sekedar mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi saja banyak Mahasiswa hanya menjalankan 2 point pertama saja. 

Padahal Tri Dharma tidak akan menjadi Tri Dharma jika salah satunya saja tidak dijalankan. Sedangkan sifat yang terkandung didalamnya memiliki sifat yang kolektif – kolegial. Saling melengkapi dan saling menutupi.  

Karena nyatanya pendidikan yang dijalankan selama bertahun-tahun tidak akan ada artinya tanpa adanya penelitian. Penelitian yang dijalankanpun, hanya akan dianggap omong kosong ketika lakukan tanpa disertai pendidikan. Serta, pendidikan yang disertai penelitian tanpa diabdikan untuk masyarakat hanya akan menemui jalan buntu. 


Sekalinya ada yang menjalankannya hanya dilakukan pada semester akhir yang ditujukan untuk sebuah skripsi demi kelulusan. 

 Kemana Mahasiswa ketika konstalasi Indonesia dianggap darurat kepemimpinan? Kemana Mahasiswa ketika Indonesia dinyatakan darurat korupsi? Akankah Mahasiswa hanya diam saja ketika Indonesia terombang – ambing dalam keterpurukan? 

  Hanya ada satu pernyataan yang sebenarnya harus diucapkan ketika hal ini terjadi “LAWAN”. Tapi sayang, sungguh sayang. Mahasiswa yang ada kini hanya tertidur pulas dalam buaian nina bobo para penguasa. Demikianlah sebuah artikel sederhana yang berusaha saya buat.

DEMOKRASI SISTEM GAGAL YANG TERUS DI PERTAHANKAN



OLEH : IBRAHIM ADJIE


Semenjak di terapkanya sistem demokrasi di Republik ini hingga saat ini alih-alih merubah bangsa ini menjadi lebih baik dan sejahtera dalam kehidupanya kenyataannya malah sebaliknya negeri ini semakin kacau balau dan Rakyatnya semakin miskin.
Bukan hanya ituSumber Daya Alam yang begitu melimpah ruah tidak bisa di rasakan atau di nikmati secara maksimal oleh masyarakat bangsa ini, adapun yang lebih banyak menikmati justru bangsa asing beserta kaki tangannya. Harta bangsa ini di keruk habis oleh bangsa asing ajaibnya aksi perampokan yang di lakukan bangsa asing terhadap sumber daya alam kita di legalitas oleh peraturan perundangan yang berlaku di negeri ini salah satu contohnya adalah tambang emas Freeport di jayapura (papua).
Bukan hanya SDA kita yang keruk habis bahkan moral masyarakat bangsa ini pun di rusak sedemikian rupa dengan dalih modernisasi dan kebebasan, sehingga hilangnya nilai-nilai keTuhanan , etika dan estetika sebagai watak dasar dari prilaku asli masyarakat bangsa ini yang menjunjung tinggi keberadaban. Kenyataanya pada saat ini sangatlah kontradiktif dari sifat dasar masyarakat kita tadi yang kini telah berubah drastis menjadi Individualis, Matrealistis bahkan cenderung apatis.
Di dalam hal penataan negara pun arahnya menjadi semakin tidak jelas, praktek KORUPSI yang semakin menggila dan pertengkaran antar kelompok anak bangsa yang semakin mengkhawatirkan keutuhan dalam berbangsa dan bernegara baik kelompok organisasi politik, organisasi kemasyarakatan maupun organisasi keagamaan mereka saling beradu ini semua akibat dari bobroknya sistem bernegara kita yang menganut sistem demokrasi.
Harapan-harapan yang di janjikan dalam sistem ini sesungguhnya tiada lain hanyalah KEBOHONGAN sekaligus PEMBODOHAN terhadap masyarakat, contoh kasus dengan di selenggarakannya PESTA DEMOKRASI mulai dari PILPRES, PILEG, PILKADA PROVINSI sampai PILKADA KABUPATEN yang semua penyelenggaraannya menggunakan uang Rakyat hingga puluhan bahkan ratusan triliun rupiah namun apa yang di dapat dan di rasakan oleh Rakyat hanya kekecewaan demi kekecewaan dan Rakyat tetap hidup dalam kesusahan.
Sadarlah wahai Anak-Anak Bangsa bahwa negeri ini di ambang kehancuran akibat dari kegagalan sistem yang bernama demokrasi.
Padahal para LELUHUR BANGSA ini sudah menyiapkan rumusan konsep yang mengandung nilai-nilai KeTuhanan yang begitu tinggi luhur dan mulia yang sesuai dengan fakta tentang pola hidup keseharian bangsa Indonesia yang Agamis, toleran, bergotong royong dengan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dan musyawarah selalu menjadi landasan utama dalam suatu permufakatan dan konsep itu bernama PANCASILA. Para leluhur bangsa ini bercita-cita agar Pancasila dapat di jadikan sebagai sistem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi Nusanatara agar tercapainya sebuah KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA inilah cita-cita tertinggi para Founding Fathers kita.
Untuk itu saya mengajak kepada segenap anak bangsa untuk kembali kepada JATI DIRI kita sebagai bangsa yang berPancasila.
Tinggalkan sistem demokrasi yang tiada lain adalah bagian dari kepentingan asing untuk menguasai negeri ini sekaligus sebagai pintu masuk bagi ideologi-ideologi luar agar dapat berkembang di negeri kita tercinta ini.
SADAR DAN BANGKITLAH WAHAI PUTRA-PUTRI IBU PERTIWI SELAMATKAN BANGSA DAN NEGERIMU DARI KEHANCURAN, WUJUDKAN CITA-CITA MULIA LELUHURMU DAN MEREKA AKAN BANGGA PADAMU
“PANCASILA BERDAULAT BANGSA SELAMAT”
“NKRI BERAZASKAN PANCASILA BUKAN BERAZASKAN DEMOKRASI”
🇮🇩 ðŸ‡®ðŸ‡© ðŸ‡®ðŸ‡© ðŸ‡®ðŸ‡© 

Jumat, 10 November 2017

Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana?



Oleh ;

Nana Hachan 
(Riana Ayu Chandra)
Mahasiswi STIE PELITA BANGSA


Seperti yang kita sepakati bersama bahwa pendidikan merupakan modal pertama yang harus dipenuhi setiap Negara demi membangun Negara diseluruh dunia. Sudah sepatutnya pendidikan dijadikan focus pemerintah untuk ditingkatkan. Karena ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa sudah terdapat dalam cita – cita bangsa yang diamanatkan dalam Preambul UUD 1945.

Tapi, saya sedikit merasa miris ketika dibenturkan dengan realita yang ada. Hal ini karena masih saya temui banyaknya angka Anak Putus Sekolah (APS) dan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia meskipun Pemerintah sudah dengan berbaik hati membuat peraturan sekolah gratis demi tercapainya pemerataan pendidikan di Indonesia.

Hal ini dapat kita lihat pada Kabupaten Bekasi tempat saya tinggal dimana masih terdapat 200.000 anak terlantar. Padahal Kabupaten Bekasi merupakan kota Industri dimana ribuan pabrik berdiri dengan subur diatasnya. Ada beberapa alasan mengapa hal ini bisa terjadi.


1. Ekonomi keluarga rendah Adanya banyak anak yang memilih untuk lebih baik ikut serta mencari nafkah ketimbang menuntaskan kewajibannya dalam mengenyam pendidikan dibangku sekolah;

2. Mainset Orang Tua Sebenarnya tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya memiliki masa depan yang sama seperti kedua orang tuanya. Tapi nyatanya banyak anak yang justru memilih bekerja karena mainset orang tua yang selalu berkata bahwa sekolah itu mahal. Meskipun yang kita ketahui bersama bahwa pemerintah sudah membuat program sekolah gratis;

3. Kartu KIP Tidak Merata Semoga saja hal ini dapat didengar oleh pemerintah. Kartu Indonesia Pintar atau yang biasa kita sebut KIP tidak begitu berarti karena nyatanya pemberian atau penyebarannya masih belum merata;

4. PPBD Online Membingungkan Banyak pihak orang tua yang sangat menyayangkan system yang berlaku untuk mendaftarkan peserta didik baru pada setiap sekolah. Hal ini dikarenakan banyak orang tua murid yang masih gagal teknologi. Belum lagi pendaftaran yang sering offline.

5. NEM Yang Tinggi Saya baru sadar bahwa kecerdasan anak sekolah ternyata hanya dilihat dari nilai akhir yang didapat di Ujian Nasional. Entah mengapa sepertinya hal ini juga yang jadi penghambat anak Indonesia untuk meneruskan pendidikannya kejenjang selanjutnya.


Dan yang sangat saya pahami bahwa kemajuan pendidikan dapat mengurangi tingkat pengangguran yang ada. Tapi analisa social yang saya lakukan ditempat tinggal saya sendiri ternyata masih menunjukkan banyaknya pengangguran di Kabupaten Bekasi. Pengangguran ini juga disebabkan oleh banyaknya pendatang yang ikut serta bersaing mencari kerja dan tinggal serta mengadu nasib di Kabupaten Bekasi. Kemudian saya akan membahas sebuah pertanyaan yang sangat indah yang saya ukir pada judul diatas. Pendidikan Indonesia Mau Dibawa Kemana? Sekali lagi, yang kita sepakati bersama bahwa pendidikan merupakan foundasi terpenting untuk membangun Negara ini.


 Yang kita ketahui bersama, setiap Negara ini berganti kepemimpinan pasti selalu berganti pula peraturan yang dijalankan disemua sector. Indonesia sendiri sudah mengalami 10 kali perubahan kurikulum pendidikan. Berikut ini tahap demi tahap pergantian kurikulum pendidikan tersebut dan penjelasannya :

1. Kurikulum 1947 Bentuknya memuat 2 hal pokok:

a. daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya,
b. Garis-garis besar pengajaran.


2. Kurikulum 1952 Bentuknya memuat 5 hal pokok berikut:

a. Pendidikan pikiran harus dikurangi,
b. Isi pelajaran harus dihubungkan dengan kesenian,
c. Pendidikan watak,
d. Pendidikan jasmani, dan
e. Kewarganegaraan Masyarakat.


3. Rencana Kurikulum 1964 dan Kurikulum 1964 Bentuknya memuat 5 hal pokok berikut:

a. Manusia Indonesia berjiwa Pancasila,
b. ManPower,
c. Kepribadian Kebudayaan Nasional yang luhur,
d. Ilmu dan teknologi yang tinggi, dan
e. Pergerakan rakyat dan revolusi. Rencana Pendidikan 1964 melahirkan Kurikulum 1964 yang menitik beratkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana.

4. Kurikulum 1968 Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.

5. Kurikulum 1975 Adapun ciri-ciri lebih lengkap kurikulum ini adalah sebagai berikut: Berorientasi pada tujuan. Menganut pendekatan integratif dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif. Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa. Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

6. Kurikulum 1984 Adapun ciri umum kurikulum ini adalah sebagai berikut: Berorientasi kepada tujuan instruksional. Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Menggunakan pendekatan keterampilan proses.

7. Kurikulum 1994 Adapun ciri umum dari kurikulum ini adalah sebagai berikut: Sifat kurikulum objective based curriculum Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi). Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.

8. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004 Depdiknas mengemukakan karakteristik KBK ialah sebagai berikut. Menekankan pada ketercapaian komoetensi siswa baik secara individual maupun klasikal Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatann dan metode bervariasi Sumber belajar bukan hanya guru tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsure edukatif Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya poenguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

9. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 Guru memiliki otoritas dalam mengembangkan kurikulum secara bebas dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan di sekolahnya.

10. Kurikulum 2013 Ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013. Kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar, yang menyangkut metodologi pembelajaran, yang nilainya pada pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG) baru mencapai rata-rata 44,46 Kompetensi akademik di mana guru harus menguasai metode penyampaian ilmu pengetahuan kepada siswa. Kompetensi sosial yang harus dimiliki guru agar tidak bertindak asocial kepada siswa dan teman sejawat lainnya. Kompetensi manajerial atau kepemimpinan karena guru sebagai seorang yang akan digugu dan ditiru siswa. Kesiapan guru sangat urgen dalam pelaksanaan kurikulum ini. Kesiapan guru ini akan berdampak pada kegiatan guru dalam mendorong mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan apa yang telah mereka peroleh setelah menerima materi pembelajaran.

Mari sama – sama kita cermati, betapa beruntungnya kakek dan nenek atau ibu dan bapak kita pada jaman dulu yang masih bersekolah pada kurun tahun 1964. Tak merasa ambigu terhadap sejarah apalagi Pancasila seperti kita saat ini. Mengapa saya berkata demikian? Karena pokok bahasan pertama yang menjadi nilai terpenting kala itu ialah manusia Indonesia berjiwa Pancasila.

Tidak seperti adanya kita saat ini yang buta akan selarah bangsa kita sendiri karena pelajaran yang substansi didalamnya saja dihapuskan. Apakah mungkin dengan alasan mengikuti perkembangan jaman menjadi pacuan mengapa Pancasila dihapuskan dari sekolah – sekolah yang ada diIndonesia? Sangat disayangkan ketika hal itu terjadi.

Bukankah Bung Karno sendiri selalu mengingatkan anak Bangsa untuk selalu mengingat sejarah dengan berkata “JASMERAH” Tapi kini JAS MERAH sudah luntur dan berganti menjadi kemajuan teknologi yang membuat semua orang terlena dibuatnya hingga melupakan sejarah. Tapi apa yang dapat kita lakukan agar sejarah tidak hanya menjadi angin lalu? Hanya satu, kita semua hanya dapat bersuara pada pemerintah untuk tetap menyertakan pelajaran sejarah dan Pancasila pada kurikulum pendidikan.

Selebihnya kita hanya mampu memberi tahukan kepada kerabat terdekat terkait pentingnya sejarah. Demikian artikel yang tidak seberapa ini saya buat. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih. Besar harapan saya agar artikel ini bermanfaat untuk kita semua.

Senin, 30 Oktober 2017

Menuju kebangkitan pribumi 20 Mei 2018




Oleh ;
Zikri Ahmad Fuadi

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Struktur Bangunan NKRI adalah Bangsa Indonesia sebagai pondasi dan Negara sebagai bangunan diatasnya...
Bangsa Indonesia yang terlahir pada 28 Oktober 1928, Merdeka 17 Agustus 1945 dan membentuk negara pada 18 Agustus 1945 merupakan Lintasan Kebenaran Sejarah Bangsa Indonesia yang menjadi pijakan bagaimana kita membangun Indonesia kedepan...
28 - 29 Oktober 2017 Kopdar Saudagar Nusantara di gelar diisi dengan aktivitas pemberdayaan kepada kurang lebih 7000 peserta yang hadir yang menghantarkan terjadinya sebuah peristiwa penting untuk negeri yakni Sumpah Saudagar Nusantara...
Adapun sumpah saudagar nusantara sebagai berikut...
SUMPAH SAUDAGAR NUSANTARA
Bismillahirrahmanirrahim
1. Kami saudagar Nusantara memutuskan untuk menjadi pribadi yang berdaya, dari mulai alam rasa, alam fikir, hingga alam tindak kami semua.
2. Kami saudagar Nusantara berjanji untuk menghadirkan keluarga dan rumah tangga yang berdaya, kami akan hadirkan rumah tangga rumah tangga yang kokoh, rumah tangga yang kuat, dimana anak anak akan tumbuh menjadi kuat, generasi menjadi kuat, dan tempat yang terbaik untuk mengambil energi cinta.
3. Kami saudagar Nusantara bertekat untuk membangun organisasi bisnis, membangun kekuatan produk, menghadirkan daya saing, memutuskan berjuang dan melawan, dan menolak kalah menolak menyerah.
4. Kami Saudagar Nusantara berjanji untuk mewakafkan diri kami semua, mewakafkan diri kami semua, mewakafkan diri kami semua, untuk aktifitas pemberdayaan di muka bumi nusantara, akan kami bangun forum forum pemberdayaan, akan kami isi forum forum pemberdayaan, dan tidak ada pilihan kecuali Berdaya di negeri sendiri.
5. Kami saudagar nusantara bertekat serius untuk, membangun negara indonesia, mencintai Indonesia, dan tidak akan istirahat, kecuali Indonesia mampu berdaya.
Sumpah saudagar Nusantara
29 Oktober 2017
BERDAYA DI NEGERI SENDIRI.
Membedah isi sumpah tersebut point 1 sampai point 4 bicara wilayah bangsa. point 5 bicara wilayah negara...
artinya sumpah saudagar tersebut telah menguatkan struktur NKRI, dimana bangsa sebagai pondasi dan negara sebagai bangunan diatasnya.
Fajar mulai menyingsing. Sambutlah fajar itu dengan kesadaran, dan kamu akan segera melihat matahari terbit.

Sabtu, 28 Oktober 2017

Peran Pemuda Di Tengah Perpecahan



Sebagai agen perubahan, para kaum pemuda harus mampu mengubah kegaduhan yang terjadi menjadi sebuah kedalaman sesuai dengan identitas bangsa ini, persatuan.
Soekarno pernah berkata, Berikan aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia. Kalimat bung karno tersebut merupakan gambaran kedahsyatan pemuda sebagai agen perubahan. Bagi soekarno pemuda adalah corong dari sebuah perubahan karena kaum pemuda adalah yang kreatif, inovatif, energik, cerdas, dan berpikiran maju. Kita tentunya sudah menyaksikan bagaimana pernyataan bung karno terpatri dalam peristiwa sumpah pemuda merupakan tonggak yang penting bagi bangsa indonesia, seperti yang kita ketahui, tiga butir penting SUMPAH PEMUDA, yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Tiga hal ini merupakan faktor penting bagi bangsa indonesia.
Proklamasi dan peristiwa Reformasi dimana kaum pemuda mampu berperan besar menggulingkan praktek penjajahan dari tanah air. Kedua peristiwa besar tersebut hendaknya menjadi refleksi bagi kaum pemuda. Kalau pemuda pada 1945 dan 1998 mampu mengakomodir segala kepentingan semua golongan untuk menciptakan persatuan. Mengapa kaum pemuda masa kini tidak bisa melakukan hal yang sama di tengah gejolak perpecahan yang kini sedang menerpa ibu pertiwi?
Ada beberapa kiat kontruktif yang bisa dilakukan pemuda guna melepaskan indonesia dari belenggu perpecahan ini. Pertama, melakukan aksi damai, turun ke jalan, dengan memekikkan pancasila sebagai system berbangsa dan bernegara menyatukan persepsi masyarakat. Gerakan ini diharapkan dapat menyadarkan sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa kita adalah bangsa yang berdiri diatas dasar nilai filosofi pancasila.
Mari tunjukkan semangat kebangsaan kaum pemuda dengan menjadi solusi di tengah masalah yang sedang dihadapi rakyat indonesia, bahwasanya rezim saat ini melakukan tindakan represif kepada rakyat indonesia dengan kebijakan yang tidak pro terhadap kepentingan rakyat.
Maka kami dari Bem Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) , Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI), serta Pemuda dan Pemudi Penegak Pancasila (PADIKAPAS), yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Indonesia menuntut :


TRITURA


SELAMATKAN MAHASISWA SEBAGAI ASET BANGSA DARI KEPENTINGAN ELIT POLITIK PRAKTIS

HENTIKAN TINDAKAN REPRESIFITAS PEMERINTAH TERHADAP RAKYAT INDONESIA

JADIKAN PANCASILA SEBAGAI SISTEM BERBANGSA DAN BERNEGARA

Pekan Jambore Kebangsaan Nasional mengundang Keperihatinan




Oleh ;

Rahmat Nuriyansah 



Di awal tahun 2000 an, saat bangsa ini baru saja mengalami proses transisi dan reformasi, untuk memasuki babak baru, yaitu kedewasaan kita dalam hal bernegara. Salah satunya adalah euphoria, sehingga demonstrasi menjadi salah satu cara yang paling populer untuk mengekspresikan diri, serentak merebak diseluruh tanah air. Dilakukan oleh para mahasiswa, organisasi massa, kelompok LSM, dan kelompok-kelompok lainnya. Apalagi hal ini dipicu dengan goyahnya pusat kekuasaan, sehingga presiden pun terancam di turunkan (impeachment).

Demontrasi yang awalnya terkendali dan elegan, bisa berubah menjadi kebringasan massa , saat disusupi oleh provokator. Lalu pengrusakan dan anarkisme menjadi berita keseharian. Apalagi saat bangsa ini seolah terbelah, antara pro dan kontra di sekitar sumbu-sumbu kekuasaan. Di media elektronik kekerasan itu ditampilkan, kadang teramat vulgar. Teriakan bunuh, hancurkan, darahnya halal, lalu tambah dengan pekikan Alahu akbar, seolah Tuhan meridhoi semua bentuk dan sajian kekerasan tadi.

Ada apa dengan bangsa ini? Semua serempak menjawab, kita semua sudah mengalami degradasi dalam hal rasa kebangsaan. Kita semua mengalami Krisis Kebangsaan, lupa bahwa kita semua bersaudara. Sehingga amat tak layak, ketika jaman reformasi yang dengan susah payah diusahakan bersama ini, justru harus di isi oleh perang saudara, yang siap meledak kapan saja. Ada benang merah antara demontrasi, anarkisme, penghancuran pihak lain dan  krisis kebangsaan.

Itulah kondisi yang terjadi, termasuk di Pekan Jambore Nasional Kebangsaan, yang baru saja dilaksanakan di Cipanas Kab. Cianjur. Berbagai macam kalangan aktivis berbondong-bondong hadir dengan penuh rasa percaya diri. Dari Sabang sampai Marauke. Naas, faktanya tidak sesuai dengan apa yang Pemuda harapkan. Target & sasarannya tidak pernah jelas. Hanya sekedar buang-buang Anggaran Rakyat. Saat menjadi tersendat dengan gelombang demontrasi yang nyaris tanpa henti. Harus ada solusinya, agar gonjang ganjing diluar sana, tidak harus ikut menggoyahkan suasana di tingkat lokal.

Saat itulah, ribuan aktivis seraya berdiskusi untuk mencari solusi. Ada 6000-/+ peserta yang tercatat di Pekan Jambore Kebangsaan Nasional. Kurang lebih sekitar 6 hari. Banyak ancaman baik secara vertikal maupun horizontal seperti demontrasi, ujung-ujungnya malah minta proyek agar mau diam dan tutup mulut. Acara tersebut dihadiri oleh Ketua MPR-RI, beberapa Menteri & Dosen.

Tidak ada transparansi & pengawasan yang dilakukan termasuk dalam mensinergitaskan mereka supaya bisa saling mengontrol dan tidak bertindak semaunya, apalagi jika ujungnya hanya minta bagian proyek, yang hasilnya hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. Hal ini bukan rahasia umum lagi. Ada banyak hal yang harus dikerjakan bersama, supaya kinerjanya bisa lebih efisien dan efektif serta transformasi keilmuannya dapat dipertanggung jawabkan.

Langkah kongkritnya, harus ada pertemuan akbar, yang dihadiri oleh seluruh organisasi yang terlibat. Semua harus bersepakat, bahwa situasi chaos didalam sana, tidak harus berdampak terlampau dalam. Untuk itu Gerakan Mahasiswa harus lebih cerdas dalam menyoal fakta khususnya dalam berbicara Bangsa & Negara supaya tidak lahir debit sekulerism yang tinggi.

Hari H, dilaksanakan sesuai schedule. Peserta sesak memenuhi ruangan, nampak beragam karena perbedaan atribut yang melekat. Moderator mempersilahkan Ketua MPR-RI untuk membuka Stadium Pertama materi sosialisasi 4 pilar MPR RI : Tantangan Nasionalisme Abad 21, disusul oleh menteri kewirausahaan oleh Menteri Perdagangan, Ketahanan Ekonomi Indonesia, Talk shaw anak muda tolak Radikalisme. Sampai saat ini baru 4 Materi forum tidak kondusif. Boro-boro fokus dengan materi yang disampaikan, proyek apa yang didapat! Hal ini mengundang keperihatinan bahwa sampai detik ini Pemuda terdistorsi & terdegradasi, padahal seyogyanya Pemuda adalah harapan Bangsa. Bagaimana mungkin Pemuda pemuda mau mensejahterakan Bangsa kalo watak imprealis itu melekat didalam otaknya dan menjadi sarang penyakit.

Dengan dinamika dan heterogenitas peserta, menjadi parameter mereka beberapa OKP. Sampai saat ini menjadi kondisi yang flat karena tak ada wajah yang sumeringah, kebingunan, karena terlalu thanks book-thingking bahkan sempat cek-cok diforum.

Demontrasi anarkis nyaris membelah negeri ini, sehingga kita semua dipertanyakan, apakah masih ada jiwa nasionalisme kebangsaan yang melekat dalam diri kita? Demontrasi habis-habisan, semua tenaga dan akal pikiran digunakan, melibatkan sema peserta jambore. Pekikan dan kegaduhan diforum mengambil jeda lagi, membiarkan peserta untuk membuat imajinasi dan menduga-duga.

Demontrasi itu adalah semua terlibat dalam sumbangsih ide-ide brilliat, gagasan sehingga mampu melahirkan suatu sikap. Supaya Pemuda mampu menjawab petkembangan zaman & mampu mensejahterakan Bangsa. Demontrasi yang jauh dari hawa nafsu untuk anarkis dan merusak, demontrasi yang jauh dari syahwat untuk membunuh dan menghancurkan, demontrasi yang bukan mencari pengaruh di sumbu sumbu kekuasaan.
Demontrasi ini, yang kami lakukan oleh kalangan masyarakat biasa biasa saja, justru untuk melanggengkan sang kehidupan, seraya tolong-menolong, tenggang rasa, membangun sebuah ketentraman dll. Demontrasi ini berbicara tentang semangat silaturahim. Sekian ribu peserta jambore gontok-gontokan diforum sementara Bangsa masih kebingungan besok akan makan apa. Tapi seharusnya berkumpul di tengah-tengah Pekan Jambore Kebangsaan Nasional yang menghabiskan anggaran Rakyat Milyaran rupiah, demi silaturahim berkumpul karena rahim, karena adanya kasih sayang diantara kita sesama manusia, karena kita semua Se-bangsa. Dan memecahkan persoalan Bangsa & Negara (Human Interisted).

Tak secuilpun mengalami krisis kebangsaan. Sebaliknya silahkan pertanyakan pada mereka dipusat pusat  kekuasaan atau kepada Pemateri yang bahkan siap membelah negeri, hanya agar mendapatkan sebuah kedukukan.

Sekarang, mari kita bertanya pada diri kita sendiri. Apakah semua yang hadir ini di ruangan ini, datang untuk silatulhoby? berkumpul hanya karena berhobi sama, kayak persatuan tukang mancing mania? Apakah silatulfikr, berkumpul semata karena menganut pola pikir yang sama? Apakah silatulilmi, berkumpul karena menguasai keilmuan yang sama? ataukah
Silatulrohmi, kita semua berkumpul karena perasaan sayang menyayangi, karena kita manusia, karena kita merasa Se-bangsa. Karena kita memiliki perasaan kebangsaan yang sama? Karena kita enggan dituduh mengalami krisis kebangsaan. Silahkan pilih?

Sebaliknya sinergistas antara eksekutif, legislatif dan aktivis, di moment Pekan Jambore Kebangsaan Nasional  jika didasari oleh semangat silaturahim, berkumpul semata karena rasa sayang. Supaya Bangsa tidak terus-menerus dijadikan korban oleh kepentingan elit global (Ekonomic Kapitalsm).

Sebuah momentum, ketika sebuah kelompok Pemuda diminta dan dipercaya untuk menjadi lem pelekat. Dalam masyarakat yang tadinya mendewakan perbedaan selaku syahwat. Padahal justru membuat kita semua, terlempar masuk kedalam ruang bersekat-sekat. Saat ini, keterpurukan fungsi dan pemeranan kita Pemuda  Indonesia menjadi hal nyata. Langkah langkah sistemik  pengkerdilan keberadaan Pemuda Indonesia bukan berita baru, termasuk usaha kriminilisasi

Mungkin Pemuda Indonesia harus melakukan re-positioning dan re-design, hal itu bisa saja terjadi. Seperti ucapan Mahatma Gandhi : Jika kamu mempunyai kebenaran, maka kebenaran itu harus ditambah dengan cinta. Jika tidak, pesan dan pembawaanya akan ditolak.

Cipanas, Thuesday 26 October 2017

Akal Akar adalah Budaya



Oleh ;
Ditto ArRsyd 
Ratusan tahun lalu masyarakat Indonesia setelah mengenal tulisan sudah mampu menciptakan teknologi dalam berkehidupan diantaranya bercocok tanam atau bertani, mendirikan sebuah bangunan, serta sudah memahami gejala rasional alam. Dalam suatu masa akan ada masanya, dan masa tersebut selalu melahirkan masa yang ada kesepemahaman antara konteks keyakinan, kemanusiaan dan lingkungan hidup, hal inilah yang senantiasa di dambakan oleh khalayak pemimpi semesta raya manusia karena untuk menuju kepada struktur tatanan sosial yang proporsional egaliter bukan hanya perihal kesejahteraan namun kebutuhan ihwal hal lain pun harus terpenuhi dari segala asek lahiriah ataupun rohani.
Peradaban tidak serta merta hadir kalau tanpa buah kasih dari seni berpikir tanpa pereduksian dari intuisi budi pekerti dan intelegensi yang kuat. Kesinambungan ini apabila mampu terjalin secara kontinyuitas dapat dipastikan setiap masing individu mempunya bom waktu nya tersendiri melalui proses menuju kesadaran kolektif yang berkeadaban dan berperadaban. Seorang petani tidak perlu diajarkan bertani, seorang guru tidak perlu diajarkan lagi mengajari dan mendidik siswanya, seorang akuntan tidak perlu diajari untuk menghitung kepemilikan, seorang nelayan tidak perlu diajarkan lagi menangkap ikan dan mengayuh dayungnya, karena setiap individu-individu tersebut mempunyai potensi-nya tersendiri dan menjauhakn diri agar selalu terhindar dari de-humaniasi.